Saturday, January 19, 2008

RINDU CYNTHIA

Aku tidak menyangka akan mendengar lagi lagu ini. Terutama di tempat yang tidak pernah terbayangkan. Komplek pemakaman. Ya, saat ini aku sedang berada di komplek pemakaman di selatan kota Jogja dengan seikat bunga segar berada di tanganku. Saat melewati mobil Honda Jazz silver lagu Dealova-nya Once terdengar dari dalam mobil yang terparkir di komplek tersebut.
Jendela mobil yang terbuka membuatku bisa dengan jelas mendengar lagu itu. “Aku ingin menjadi sesuatu yang mungkin bisa kau rindu.… Kau seperti nyanyian dalam hatiku yang memanggil rinduku padamu. Seperti udara yang ‘ku hela, kau selalu ada. Hanya dirimu yang membuatku tenang. Tanpa dirimu kumerasa hilang dan sepi…”
Ingatanku kembali pada dua tahun yang lalu saat awal bekerja di kota gudeg ini. Aku masih bisa dengan jelas mengingat aroma tubuhnya. Tanganku juga masih merekam genggaman tangannya yang erat kala aku berjalan disampingnya. Aku benar-benar masih merindukannya. Merindukan Reno.
Saat itu dia dan aku bekerja di kantor yang sama. Aku di bagian keuangan, dia bagian pemasaran. Kedekatan kami terjadi karena sebagai kepala bagian pemasaran dia sering berdiskusi denganku mengenai perkiraan harga barang yang kantor kami produksi.
Mulanya hanya makan siang bersama teman-teman kantor juga, tapi lalu berlanjut ke makan malam yang hanya  berdua saja.
“Cynthia, nanti malam ada acara? Aku ingin mengajakmu makan malam di luar.”
Saat itu aku begitu kaget dengan ajakan Reno dan tanpa sadar kepalaku malah mengangguk. Jadilah malam itu jam tujuh tepat dia sudah menunggu di pintu pagar kost-ku. Reno memakai kemeja warna merah marun dan jeans hitam. Aku sungguh mengagumi penampilannya malam itu. Kulitnya yang putih, kalau tidak mau dikatakan pucat, begitu kontras dengan warna kemejanya.
Malam itu ternyata menjadi saat pertama dan terakhir bagiku untuk bisa makan malam berdua. Karena seminggu setelah itu Reno masuk rumah sakit. Kejadiannya begitu tiba-tiba karena Reno ditemukan pingsan di ruang arsip dan segera dilarikan ke rumah sakit. Teman-teman yang tahu aku dekat dengan Reno langsung memintaku untuk ikut mengantar Reno dalam mobil ambulans.
Hatiku saat itu begitu kalut dan pada saat itulah aku menyadari bahwa ternyata aku sudah sejak lama mencintai dia. Aku dapat begitu dengan mudah mengingat setiap detil dari dirinya. Cara dia berjalan, tatapan matanya kala menatapku, aroma tubuhnya setiap kali selesai bermain badminton dengan teman kantor. Semuanya begitu jelas terekam di otakku.
Dokter mengatakan bahwa Reno terkena penyakit kanker darah atau Leukimia. Hal ini diketahui dokter rumah sakit setelah mengontak rumah sakit di Jakarta tempat Reno biasanya menjalani perawatan radiasi. Sudah setahun ini Reno tidak pernah menjalani perawatan lagi. Memang Reno termasuk karyawan yang rajin. Cutinya dalam setahun ini masih banyak tersisa, alias tidak pernah diambil.
Hari itu juga keluarga Reno dari Jakarta mulai berdatangan. Aku tidak pernah tahu bahwa keluarga Reno ada di Jakarta, bahkan aku tidak tahu kalau mereka termasuk keluarga pejabat. Aku cuma tahu Reno yang tinggi, putih, bermata jenaka, dan sederhana yang tinggal di kost daerah Gedong Kuning, bersama anak-anak mahasiswa.
Ibu Reno begitu melihatku langsung menghampiriku.
“Oooh, jadi ini yang namanya Cynthia. Gara-gara kamu, anak laki-laki saya satu-satunya bisa mati! Sudah satu tahun ini kami sekeluarga mencari dia kemana-mana,” cecar ibu Reno.
            “Pasti karena ketemu kamu dia jadi tidak mau pulang ke Jakarta!”
            “Sudahlah, Bu. Ini di rumah sakit. Sebaiknya kita segera mencari dokter yang merawat Reno,” ajak seorang perempuan yang kemudian aku ketahui sebagai adik Reno.
            Penyakit Reno yang parah membuatnya dalam keadaan koma selama seminggu. Pada hari ke enam semenjak Reno memasuki masa koma, seorang temannya memberiku sebuah CD. Katanya Reno yang menitipkan padanya dan menyuruh memberikan padaku jika suatu saat dia masuk rumah sakit dan tak sadarkan diri.
            Aku langsung lari ke toko kaset terdekat dari rumah sakit dan meminjam alat pemutar CD dan begitu headphone aku taruh di kepala, aku mendengar suara Reno.
            “Cynthia sayang, jika aku boleh memanggilmu seperti itu, saat ini pasti aku sedang dalam keadaan tak sadar sehingga kamu bisa mendapat CD ini. Sayangku, maafkan aku jika tidak pernah menceritakan tentang penyakitku padamu. Aku cuma tidak ingin membuatmu khawatir, apalagi aku baru mengenalmu selama 6 bulan. Aku tidak ingin membebanimu dengan masalahku.
            Cyn, sejak pertama aku mulai bekerja di kantor kita ini, aku sudah terpesona padamu. Kamu begitu anggun, lembut, tapi juga sekaligus tegas. Aku mengagumi kepribadianmu yang sederhana. Sangat berbeda dengan keadaan keluargaku. Tapi justru itu yang membuatku tertarik padamu.
            Mungkin aku memang tidak punya keberanian untuk mengatakan bahwa aku mencintaimu, sehingga membuat CD ini untukmu. Tapi yakinlah bahwa kehadiranmu di sisiku saat ini sudah sangat membuatku merasakan hidup yang sesungguhnya.
            Diagnosis dokter enam bulan yang lalu membuatku ingin melupakan segalanya. Kemudian aku lari dari Jakarta, meninggalkan keluargaku. Aku ingin menjalani kehidupan lain, dan saat itulah aku bertemu dengan dirimu. Aku mulai merasakan semangat hidup lagi. Aku ingin selalu berada disisimu, menjalani hidup bersamamu.
            Mungkin aku harus kalah oleh penyakit ini. Aku harus terbaring di rumah sakit dan tak menyadari kehadiranmu lagi. Sebelum aku mulai tak bisa merasakan segalanya, maukah kamu menggenggam tanganku apabila kamu menerima perasaanku ini? Tapi apabila kamu hanya menganggapku sebagai teman biasa, cukuplah CD ini kau buang di tempat sampah. Aku akan pergi dengan damai bagaimanapun perasaanmu padaku.
            Cynthia sayang, aku akan selalu merindukanmu. Terima kasih atas semua pelajaran hidup yang pernah aku rasakan saat bersamamu. Aku, Reno, akan mencintaimu selalu.”
            Begitu headphone kulepaskan dari kepala, lagu Dealova terdengar di ruangan.
“Aku ingin menjadi sesuatu yang mungkin bisa kau rindu.… Kau seperti nyanyian dalam hatiku yang memanggil rinduku padamu.
            Iya, Reno, aku mencintaimu dan akan selalu merindukanmu. Aku langsung berlari ke rumah sakit. Tanpa mempedulikan ibu Reno yang memandangku dengan tatapan sinis, aku menggenggam tangan Reno dan kubisikkan di telinganya bahwa aku juga mencintainya. Keesokan harinya Reno meninggal dengan tenang.
            Untuk melupakan kenangan pahit itu aku pindah ke Jakarta. Namun, tahun ini aku begitu ingin ke Jogja dan ternyata Reno ‘menyambutku’ dengan lagu itu. Sesaat aku bergeming. Sebuah tangan tiba-tiba merangkul pundakku.
            “Ayo, Cynthia. Kita harus ke makam Reno untuk meminta restu darinya.”
Itu adalah Andi. Dia adalah lelaki yang mencoba menghilangkan luka di hatiku, bahkan dia pula yang mengajakku ke Jogja. Dia dapat merasakan bahwa Reno masih berarti di hidupku.
            Aku menoleh ke samping dan memandang wajahnya. Tak ada alasan bagiku untuk takut mencintai Andi. Aku hanya takut merasakan rasa kehilangan lagi. Sudah dua tahun berlalu. Aku harus melupakan luka itu dan tetap mengenang Reno di hatiku.
            Tanganku menggenggam tangan Andi dan kami menuju ke makam Reno. Akan aku tinggalkan semua lukaku di sana dan menjalani hidup baru bersama Andi. Aku yakin Reno juga menginginkan aku bahagia.

*Christie Nathalia*
(19 January 2008)

Monday, October 22, 2007

Kemana Tuhan ketika banyak hal buruk terjadi di dunia?

NT tersayang,
 
Pembicaraan kita semalam menimbulkan banyak pertanyaan di hatiku. Kenapa banyak hal buruk terjadi di dunia? Kemana Tuhan ketika ada banyak ketidakadilan? Apakah Tuhan sedang tidur ketika terjadi banyak bencana alam di Indonesia? Dan seterus.... Begitu banyak pertanyaan.
 
Dari hasil permenunganku... Tuhan membiarkan itu semua terjadi karena kita adalah manusia. Manusia yang tercipta dengan segala ketidaksempurnaan dan juga kehendak bebas. Tuhan telah menciptakan alam raya ini dengan segala isinya. Tumbuhan, binatang, manusia. Hmmm... kalau bencana alam terjadi dan mengenai orang-orang baik juga (bukan hanya orang jahat) itu karena hukum alam. Yah... hukum alam. Hukum alam tidak memandang orang itu baik atau jahat. Gunung meletus ya meletus saja. Gempa bumi terjadi ya terjadi saja. Akibat yang dirasakan tidak pandang bulu.
 
Bencana alam juga membuat kita sadar bahwa ada hal-hal lain diluar kemampuan kita sebagai manusia. Ada hal-hal yang tidak dapat kita atur dan rencanakan. Tuhan juga tidak turun tangan untuk menghentikan bencana ini, karena itu hukum alam. Sesuatu yang memang seharusnya terjadi. Tindakan Tuhan dapat kita lihat dari orang-orang yang kemudian saling bahu membahu untuk membantu para korban bencana. Juga dapat dilihat dari semangat hidup dan keberanian para korban untuk melanjutkan hidupnya.
 
Pertanyaannya kemudian adalah... kenapa orang-orang baik juga harus mengalami penderitaan yang sama dengan orang-orang jahat? Dimana letak keadilan Tuhan? Kenapa orang-orang harus menderita kalau Tuhan itu ada? Hmmm.... aku juga ga begitu tahu jawaban yang benar. Tapi dari yang aku rasakan selama hidupku ini, orang mengalami penderitaan supaya dia bisa berkembang. Bisa merasakan segala macam perasaan dengan ketidaksempurnaan dirinya.
 
Manusia terlahir dengan ketidaksempurnaan. Ketidaksempurnaan tiap manusia itu berbeda karena kita unik. Aku sendiri bersyukur tidak dilahirkan jenius, karena dengan begitu aku bisa merasakan betapa senangnya dapat nilai A. Betapa asyiknya belajar bersama teman kala menghadapi ujian. Bila aku terlahir jenius, mungkin aku merasa biasa-biasa saja dapat nilai A, bahkan mungkin stress karena merasa seharusnya bisa dapat nilai A+. Aku juga mungkin akan menjadi introvert yang sombong karena tidak merasa memerlukan teman-teman sebagai kelompok belajar bersama.
 
Aku juga bersyukur terlahir dengan wajah biasa saja, ga cantik-cantik amat. Karena dengan begitu aku bisa merasakan hati yang dag dig dug tidak menentu saat mendengar seseorang yang spesial mengatakan bahwa aku cantik. Kalau aku terlahir cantik, mungkin aku akan sangat bosan mendengar orang-orang mengatakan bahwa aku cantik. Aku bersyukur bisa mengalami perasaan ini.
 
Aku juga bersyukur terlahir di keluarga yang sederhana. Dimana untuk membeli sesuatu harus mikir dua tiga kali dulu. Karena dengan begitu aku bisa merasakan senang saat membeli tas sekolah dari hasil menabung uang saku. Aku bisa merasakan senangnya gajian saat sudah bekerja.
 
Aku bersyukur bisa merasakan segala macam jenis perasaan dan bertumbuh di dalam kekuranganku sebagai manusia. Dari dulu sampai sekarang aku tak pernah berhenti berusaha untuk mengambil makna dari setiap kekurangan yang kualami.
 
Mengenai kenapa masih ada orang jahat, menurutku karena Tuhan memberikan kehendak bebas pada kita. Kehendak bebas itu bisa kita gunakan bahkan untuk menyakiti orang lain, membunuh mereka bahkan. Dan Tuhan sendiri hanya bisa melihat dari atas dengan pandangan penuh kasihan melihat kebodohan manusia-manusia ciptaannya. Itulah mengapa terjadi peristiwa pembuhan G30S, adanya Nazi, adanya terorisme, dll. Kematian itu menuruku juga diperlukan sebagai proses kita yang manusiawi. Ada kelahiran, ada kematian.
Segala hal buruk yang menyertai kematian juga adalah sesuatu yang natural sebagai bagian dari manusia yang dianugrahi kehendak bebas. Bila hal buruk terjadi, itu karena manusia mempunyai kehendak bebas dan Tuhan tidak mencegahnya.
 
Inilah yang dimaksud Tuhan dengan menjadi manusia. Menjadi bebas untuk menentukan keinginan dan kehendak, dibandingkan hanya sekedar mengikuti insting. Itu berarti juga adalah mengetahui bahwa beberapa pilihan ada yang baik, dan ada pilihan yang buruk juga. Tugas kita adalah untuk mengetahui perbedaan diantara keduanya.
 
Fiuuhhh.... sepertinya untuk suratku sampai di sini dulu deh. Sudah hampir jam 8. Aku tak nyiap-nyiapin kerjaan dulu ya.
Aku tunggu balesan darimu untuk surat ini.
 
 
I love you, always...

Monday, August 27, 2007

pagi bersamamu…


Cakrawala bersemburat biru membuka hari
Awan-awan putih mengapung ringan
Burung-burung gereja bercicip riang
Ingin rasanya aku merebahkan kepalaku didadamu
sambil menikmati kopi pagi yang manis dan hangat

Thursday, July 26, 2007

Mencintai FASW


Mencintaimu…
Adalah seperti berjalan di tengah terik mentari
dan merasakan angin membelai lembut pipiku
Adalah ketika aku kembali menemukan
jalan pulang ke hatiku
Adalah rasa yang layak dihidupi sepanjang asaku
Mencintaimu… FASW
Begitu sederhana…

Sunday, July 08, 2007

Kekasihku…


Kekasihku…

       Aku mengasihimu dengan semesta jiwa di ragaku

Mengalunkan gita lembut cinta di sanubari,

tatkala ‘ku memanggilmu… kekasihku

Monday, June 04, 2007

Rindu Itu Jahanam


Rindu itu jahanam

Tiba-tiba saja dia menghentakku dari kesadaran
Menampar pipi kesepian dan membuatnya bangun

Menghajar hati yang lemah karena cinta
Membuatnya berdiri lagi…

Karena cinta itu pantas untuk ditunggu
ditemani rasa rindu yang merasuk hingga sum sum

(aku menunggumu di sini.. ditemani rindu yang jahanam…)

Thursday, May 10, 2007

Sayap Cinta


Aku ingin memelukmu dengan sayap-sayap cintaku… 

Membawamu terbang melintasi hembusan semilir angin 

Melintasi sungai harapan di pagi hari 

Menjumpai mentari senja berkerudung jingga 

Tertidur bersama di bawah naungan bintang-bintang 

Aku ingin bersamamu selamanya… 


(teruntuk kekasih hatiku nun jauh di sana… 
cinta itu adalah sayap..)

Sunday, April 29, 2007

Rinduku


Rinduku kepadamu ketika senja bersalin malam…

Berhias gemintang gemerlap menyapa rembulan

Rinduku kepadamu…

Ketika sayup terdengar peri malam 

Menyenandungkan pujian cinta semesta

Rinduku kepadamu…

Ketika kumengucap, “ Selamat malam. Selamat tidur kekasih hatiku.”


(teruntuk seseorang di nun jauh…)

Monday, January 22, 2007

To All the Girls in the World

Untuk para wanita di seluruh dunia, hari ini aku ingin berbagi dengan kalian semua. Hehehe…. Tulisan ini terinspirasi dari banyak hal yang aku lihat hari ini. Mulai dari iklan di majalah dan koran yang kubaca hari ini, televisi yang kutonton saat makan siang tadi, dan lagu yang kudengarkan saat menulis tulisan ini. Inspirasi lainnya terutama dari teman-teman wanitaku yang lain.

Aku agak tergelitik dengan iklan-iklan di media yang setiap harinya mengembar-gemborkan indahnya kulit putih, berlekuknya tubuh langsing nan seksi, wajah-wajah cantik polesan make-up teranyar, dsb. Kita jadi ikut terdorong untuk mengunakan produk-produk tersebut. Kulit sawo matang ingin kita ubah jadi putih langsat. Tubuh yang ‘berisi’ sedikit sudah buru-buru mau diet. Nggak pede kalau keluar rumah tanpa ber-make-up ria, minimal pake bedak ‘lah. Rambut hitam indah kita, rasanya pun terlihat membosankan dibandingkan pirangnya rambut teman kita yang dari Eropa.

Mulai dari kecil kita semua sudah dicekokin dengan berbagai hal yang membuat rasa self esteem kita rendah. Waktu remaja kita merasa ga pede dengan jerawat yang ada di wajah, karena semua model-model sampul di majalah remaja berwajah mulus semua. Hormon kita di masa itu  memang membuat wajah kita mulai timbul jerawat. Model-model itu bisa tampil sempurna karena polesan make-up dan permainan teknologi digital camera. Jerawat yang ada harusnya diterima saja, jangan menjadi beban kita dalam berteman dan beraktivitas. Itu adalah salah satu proses menjadi dewasa.

Selain jerawat, hal lain yang dianggap bermasalah adalah apabila kita ga bisa memakai baju model terbaru. Wah, rasanya banyak teman-temanku yang ga pede kalo harus ke party dengan baju yang itu-itu aja. Rasa self esteem kita ditentukan oleh baju yang kita pakai. Harusnya baju itu adalah pelengkap bagi rasa self esteem kita.

Kenapa sih, para wanita banyak enggak pede dengan penampilan dirinya apa adanya? Semua sepertinya harus dipoles.  Semua harus sesuai standar yang ditetapkan dunia industri. Semua harus putih, langsing, berwajah cantik menarik, berpakaian stylish setiap saat (ga peduli limit kartu kredit sudah mau habis untuk belanja), harus rajin ke salon untuk merawat diri, dan masih banyak hal lainnya.

Menurutku sih putih itu enggak salah kok. Langsing juga bagus. Salon juga enak buat tempat rileks setelah seminggu kerja. Tapi….. Nih, ada tapinya lho! Kita harus punya rasa percaya diri yang tinggi, self esteem yang bagus. Kita ini para wanita sudah cantik lho dengan segala yang ada di diri kita.

Apa yang ada di dalam diri kita itu jauh lebih indah dan cantik dibandingkan segala penampilan luar kita. Apa yang ada di dalam diri kita, rasa penghargaan kita terhadap diri sendiri, adalah jauh lebih penting daripada perhargaan orang lain terhadap kita. Terserah orang lain mau bilang kita jerawatan kek, ga putih kek, rambut keriting kek. So what gitu, lho! Yang terpenting adalah kita mempunyai penilaian yang baik terhadap diri kita sendiri.

Jadi… untuk semua wanita di seluruh dunia, aku ingin mengajak kalian semua untuk mulai menerima diri sendiri apa adanya, menyadari bahwa kita semua cantik. Kecantikan yang unik, karena setiap pribadi diciptakan berbeda oleh Tuhan. Apa yang ada di dalammu, di dalam hatimu, adalah kecantikanmu yang sesungguhnya. Kecantikan kita masing-masing tentu berbeda dengan yang lainnya. Sekali lagi… itu karena kita unik, satu-satunya di dunia ini. Ga ada wanita lain yang tercipta sama persis seperti kalian. So, be proud of yourself! You are all beautiful, girls!


*Christie Nathalia*
22/01/2007

Friday, January 05, 2007

FREE YOUR MIND IN 2007

Siang ini Oprah Winfrey Show benar-benar ngasih gue inspirasi untuk tahun 2007 ini. Ada anak cewek dari Ethiopia, namanya Anadech, yang saat ini tinggal di USA. Si Anadech ini terlahir di keluarga yang miskin. Suatu hari Anadech bermain di sekitar rel kereta api dekat rumahnya dan kakinya tersangkut di rel kereta itu. Akibatnya Anadech tertabrak kereta. Tangan kanan dan kaki kanannya harus diamputasi.

Setelah itu Anadech dibawa ke USA oleh seorang relawan kemanusiaan untuk proses penyembuhan lebih lanjut. Anadech kemudian ditempatkan di dalam satu keluarga disana selama proses penyembuhannya. Ternyata kemudian keluarga tersebut jatuh cinta pada Anadech dan mengadopsinya.

Sekarang Anadech berumur sembilan tahun. Dia sudah mahir menggunakan kaki palsunya untuk berjalan, berlari dalam pertandingan softball, bahkan berenang. Berenang! Can you imagine that? Gue aja waktu seumuran dia susah banget belajar berenang. Sampai guru renang gue jadi sedikit bete sama gue, hehehe… Sorry, MamJ
Sedangkan si cewek amazing ini berenang dengan hanya satu tangan dan satu kaki. Ikut lomba pula. Gila! Salut banget gue sama dia.

Anadech bilang dia ingin belajar melakukan segala sesuatu seperti layaknya orang normal dengan anggota tubuh lengkap. Dia tidak ingin dianggap lemah dan berbeda dari orang lain. Pemikiran yang dewasa untuk seorang anak seumur dia.

Gue banyak belajar dari si Anadech ini. Walau dia cuma muncul ga sampai setengah jam di TV, tapi udah benar-benar nonjok buat gue. Gue sering banget merasa takut melakukan sesuatu. Karena gue merasa ga sanggup lah, merasa malu dengan komentar orang, merasa takut gagal. Padahal… ya itu deh… gue belum nyoba sama sekali tapi udah takut duluan.

Sebenarnya segala ketakutan dan perasaan ga mampu gue ini kan berasal dari pikiran gue sendiri. Gue harus merubah cara berpikir gue, bahwa gue mampu melakukan semuanya, bahwa gue ga akan ragu untuk mencoba segala hal yang ada di muka bumi ini. Learning more new things! Doing more new things! Dan terutama tidak takut untuk gagal. Bebasin pikiran dari segala ketakutan dan gue bakal dapat lebih dari hidup ini. Hidup itu terlalu singkat!

Friday, December 29, 2006

Doa Mohon Kehancuran Agama

Aku menemukan sebuah puisi yang menurutku sangat bagus untuk direnungkan bersama. Puisi ini berisi doa getir. Sayang… tidak ada nama sang pengarang. Semoga bisa menjadi permenungan untuk kita semua di akhir tahun 2006 ini.

Doa Mohon Kehancuran Agama (Jerman, 18.02.06)

Kepada Allah yang dipuja di label dunia atas nama agama
Diagung-agungkan sebagai pencipta dan pengatur semesta

Aku mohon kehancuran agama

Jika atas nama agama tidak ada
penghargaan martabat atas sesama manusia

Jika atas nama agama, ada yang terluka bahkan mati binasa
terinjak injak oleh bejat dan nafsu belaka
bahkan oleh teriak para pemangku agama

Jika salaman saja bagi yang berbeda
menjadi sia-sia dan nista hukumnya

Jika kedatangan sesama manusia
menjadi berjarak hanya karena beda agama

Jika karena pantang-pantang,
persaudaraan menjadi baur mengudara

Jika manusia telah menjadi allah atas sesamanya
Jikapun dengan cara demikian orang masuk surga,
maka akulah orang yang pertama memilih masuk neraka

Sekali lagi aku mohon kehancuran agama

Tuesday, December 26, 2006

Bip bip bip…



Bip bip bip…
Bunyi SMS masuk
Pesan kubaca
Kuterpana..
Kita putus aja ya

Cintaku berakhir di bip bip bip…
Begitu elektroniknya cinta itu


*Christie Nathalia*
26/12/2006

Ketika ‘Ku Hitam


Akankah kau mengenaliku di surga sana?
Jika semuanya tampak begitu sempurna
Begitu indah dan damai
Terang gemilang

Akankah kau mengenaliku yang hitam ini?
Penuh dengan air mata kesedihan
Amarah yang menggelegak
Iri hati yang membusuk

Akankah kau menyambutku lagi…
dengan sayap keemasanmu?
Menyelimutiku dengan kedamaian
Seperti dulu… ketika kumasih putih
dan berada dipelukanmu

Akankah kau melihatku diantara terangmu?
Ketika ku hitam
Andai iya…
Ijinkan aku menjadi bayangan darimu
Mengikutimu kemanapun
Dan aku pun kembali menjadi putih dalam terangmu


*Christie Nathalia*
26/12/2006

Thursday, December 21, 2006

SEPI YANG RAMAI


Sepi…
     Kenapa ada sepi?
Mungkin karena ramai
    Sepi yang ramai
    Ramai yang sepi

Sepi yang datang beramai-ramai
Ramai hinggap pada sepi

     Hingga sepi pun berlalu
     Meninggalkan ramai…

*Christie Nathalia JS*
21/12/2006

Tuesday, December 19, 2006

PANASEA-KU


Aku ingin menikmati
Saat-saat menatap kau pergi
Menatap punggungmu
Menghirup harum tubuhmu
Untuk yang terakhir kali

Karena saat kau akan pergi..
Maka hilanglah panaseaku
Yang selalu mengobati
Malam-malam insomniaku
Sang waktu akan berjalan lambat
Mentari tak lagi ceria
Rembulan pun malu menatapku

Ijinkan aku menatapmu
Walau hanya punggungmu
Yang terekam di pelupuk mataku
Tapi harum tubuhmu…
Akan selalu ada saat hujan membasahi bumi


*Christie Nathalia JS*
19/12/2006

Tuesday, December 12, 2006

Aku Tiada



Aku benci hidupku
Aku benci menjadi hidup
Aku benci menjadi sesuatu yang ada
Aku ingin hilang

Menjadi senyap
Pekat
Tak berbayang
Tak ada
Tak hadir
Tak berbau

Mungkin dengan begitu aku bahagia?
Dengan ketiadaanku…


*Christie Nathalia*
12/12/2006

Thursday, December 07, 2006

gadis kapas


Gadis kapas lembut halus
Mengawang-awang
Terbang ke langit biru
Ditemani angin semilir

Gadis kapasku
Putih dan lucu                       
Menari-nari di taman
Tertawa-tawa

Hmm.. gadis kapasku
Mungil, imut-imut
Gadisku... adikku yang manis


*Christie Nathalia*

Wednesday, December 06, 2006

Senja Bersamamu


Aku menantimu di batas senja.
Di pantai ini…
Dimana mentari meredupkan sinarnya
Dan air laut menggapai kakiku
Masih adakah senjamu untukku…
Disaat langit berbalut jingga keemasan
Aku ingin senja bila hanya bersamamu


*Christie Nathalia*
6/12/2006

Wednesday, November 29, 2006

AKU INGIN PULANG


Perjalanan ini sepertinya tidak akan berakhir
Langit biru, angin yang menerpa
Wajah orang silih berganti di mataku
Kapankah ini berakhir?

Tiap tempat sudah kudatangi
Tiap jalan sudah kutapaki
Bahkan tiap kedai pun sudah kucoba

Aku cuma ingin damai
Damai yang tak kudapatkan di keramaian
Damai yang tak kudapatkan dari langit biru
Damai yang hanya kudapatkan darimu

Aku ingin pulang
Ke tempatmu
Dimana langit biru menjadi damai kita bersama


*Christie Nathalia*
29/11/2006

Saturday, November 11, 2006

Panggil Aku Maya

Panggil aku Maya atau May, atau bisa juga May May. Terserah orang mau memanggilku apa. Ibu dan ayahku biasa memanggilku Sri. Sariyem Sri Handayani Prasetyoko adalah nama yang tercantum di akte kelahiranku. Nama yang tidak pernah kusukai semenjak aku pindah sekolah ke Jakarta. Nama yang terlalu berbau Jawa dan kampungan. Maaf, bukannya aku benci pada kampungku, hanya aku merasa namaku agak ndeso, gak modern. Ibuku saja namanya lebih modern, Cicilia Andiriani Wijanarko, sedangkan ayahku Gatot Adi Prasetyoko. Tidak kampungan dan lebih modern. Herannya kenapa mereka bisa memberiku nama Sariyem Handayani seperti ini.
Sudah sepuluh tahun aku menggunakan nama Maya bila berkenalan dengan orang lain. Nama Sariyem Sri Handayani hanya tercantum pada KTP, SIM, rekening bank, ATM, kartu kredit dan identitas lain. Untungnya kantorku memperbolehkanku memakai nama Maya di ID card karyawan. Seluruh karyawan di kantorku, kecuali bagian HRD, juga tahunya aku bernama Maya. Mbak Maya, begitu mereka biasa memanggilku.
Saat ini pukul 19:00 dan aku sedang menunggu Joko di sebuah cafe dekat kantor. Dia lelaki yang sudah lima bulan ini menemani hari-hariku. Jangan tanyakan tentang namanya yang rada kampungan itu. Kalau kalian bertemu dengannya pasti tidak akan banyak protes dengan nama Joko itu. Badannya tegap, dadanya bidang, giginya rapih dan putih, wajahnya tentu saja tidak sekampung namanya. Mirip-mirip Jude Law. Itu dia datang dengan senyum manisnya dan kemeja biru tua favoritnya. Bersamanya aku merasa nyaman.
Pertemuanku dengan Joko terjadi saat aku sedang mempresentasikan beberapa contoh iklan yang telah kantorku kerjakan. Kantor Joko adalah salah satu klien baru perusahaan advertising tempatku bekerja. Maya, demikian aku memperkenalkan diriku pada Joko. Tentu saja waktu itu aku memanggilnya Pak Joko. Waktu itu Joko hanya tersenyum dan menatapku dengan tajam. Rasanya aku pernah memandang wajahnya entah dimana. Tapi aku tidak terlalu memikirkan hal itu karena berkonsentrasi sekarang pada presentasiku.
Keesokan harinya kantorku dihebohkan dengan adanya kiriman satu lusin karangan bunga Lily. Hei! Itu bunga favoritku. Beruntung sekali orang yang mendapatkannya. Resepsionis katanya sempat menolak bunga-bunga itu karena nama orang yang tercantum pada karangan bunga itu tidak ada di kantor ini. Si pengantar bunga tetap ngotot mengantarkan bunga tersebut karena katanya sudah dibayar dan alamatnya jelas tertera kantor ini. Akhirnya beberapa temanku mengambil karangan bunga tersebut dan menaruhnya di meja mereka masing-masing. Termasuk aku sendiri tentunya, tanpa tahu siapa si pengirim karena si pengantar bunga merahasiakannya.
Kemudian selama hari-hari berikutnya kiriman bunga itu terus datang. Kantorku sampai penuh sesak dengan bunga Lily. Bayangkan, setiap hari satu lusin karangan bunga. Karena penasaran, aku bertanya pada bagian resepsionis untuk siapa karangan bunga tersebut ditujukan. Bunga-bunga itu semua untuk Sariyem Sri Handayani. Sariyem Sri Handayani... Sa..ri...yem... Sri.. Han... da... dan tiba-tiba semuanya begitu gelap.
Bangun-bangun aku ternyata aku berada di sofa ruang meeting dengan ibu kepala HRD, Ibu Ida, disampingku. Astaga... tadi aku pingsan karena saking kagetnya mendengar namaku sendiri. Ibu Ida hanya tersenyum dan memberiku teh manis hangat. Beliau bilang tidak ada salahnya menerima dan mengakui nama yang telah diberikan orangtuaku karena tiap nama mempunyai arti dan harapannya masing-masing. Hari itu aku diijinkan pulang lebih cepat dengan diantar supir kantor. Ibu Ida yang baik tetap menjaga kerahasian nama asliku.
Sesampainya di rumah, ibuku bertanya kenapa pulang lebih cepat dari biasanya. Aku cuma bilang pusing dan langsung masuk kamar. Diam-diam aku menangis, benci dengan kepengecutan diriku untuk mengakui namaku sendiri. Umurku sudah 25 tahun dan sampai sekarang belum pernah menjalin kasih dengan siapapun. Hari-hariku diisi dengan mengejar karier. Sekarang ada seseorang yang mengirimiku lusinan bunga Lily dan aku tak bisa mengakui kalau bunga-bunga itu dikirimkan untukku. Aku tidak sanggup membayangkan apa tanggapan teman-teman kantorku kalau mbak Maya yang cantik, mbak Maya yang modis, mbak Maya yang sanggup meyakinkan klien dengan sekali presentasi, ternyata namanya Sariyem Sri Handayani.
Akhirnya aku jatuh tertidur dengan ditemani berbagai bayangan menakutkan didalam kepalaku. Aku terbangun oleh ketukan pada pintu kamarku. Ibuku bilang ada tamu dan katanya laki-laki. Mungkin teman kantorku karena berpakaian kemeja rapi. Hmm... siapa ya kira-kira yang datang menengokku. Biasanya teman-teman kantorku takut dekat-dekat denganku yang katanya galak. Mungkin karena itu juga aku sulit dapat pacar. Cantik dan galak bukanlah perpaduan yang cocok untuk dijadikan pacar.
Ternyata tamuku adalah Pak Joko. Dia datang karena katanya tadi mencariku di kantor dan mendapat keterangan bahwa aku pulang cepat karena sakit. Joko, kemudian dia memintaku memanggilnya tanpa embel-embel Pak, mengajakku makan malam hari Sabtu besok. Herannya aku mengiyakan saja, seperti sudah tersihir oleh pesonanya. Astaga, Joko ini ganteng sekali kalo dilihat, obrolan kami pun sudah seperti teman lama saja.
Semenjak aku jatuh pingsan, karangan-karangan bunga itu tidak pernah datang lagi. Hubunganku dengan Joko pun semakin dekat semenjak makan malam  di hari Sabtu itu. Aku pun juga mulai melupakan tentang lusinan karangan bunga, entah siapapun pengirimnya, dan pagi ini setelah lima bulan berlalu tiba-tiba kantorku mendapatkan lima lusin karangan bunga Lily yang ditujukan untuk Sariyem Sri Handayani. Ibu Ida hanya menatapku tajam dan aku hanya bisa pura-pura tidak peduli dengan bunga-bunga tersebut.
Teman-temanku pun mulai berceloteh: senang sekali si Iyem yang dapat bunga-bunga ini, dari kampung mana dia, kenapa bisa nyasar ke Jakarta, jangan-jangan dia itu Office Girl kantor sebelah yang dikejar-kejar Pak Lurah dari kampung, dan beberapa celotehan yang membuat kupingku panas. Ingin rasanya aku menghajar orang yang mengirim bunga-bunga tersebut.
Itu adalah kejadian pagi ini, dan sekarang didepanku ada Joko yang baru saja datang. Tiba-tiba didepanku ada seikat bunga Lily putih. Ini untukmu, kata Joko. Bunga favoritmu dari dulu. Darimana Jaka tahu bunga favoritku dan kenapa tiba-tiba dia berlutut didepanku? Joko mengeluarkan cincin dari sakunya dan mengatakan, “Sariyem Sri Handayani Prasetyoko, maukah kau menemani hari-hariku sebagai istriku?” Sariyem.... darimana dia tahu nama Sariyem itu dan bunga-bunga Lily ini. Jangan-jangan.... dan semuanya pun menjadi gelap lagi. Aku hanya sempat mendengar Joko mengatakan bahwa dia teman masa kecilku di kampung.


*Christie Nathalia*
 ini cerpen yg pernah dimuat di majalah SPICE edisi April '07.