“Li, ntar pulang jadi nebeng gue, gak?” tanya Arnold.
“Jadi dong. Jam 2 ketemuan di hall C ya. Tapi ntar temenin gue bentar ke Gramedia ya, please… Mesti beli bahan-bahan buat mading nih,” kataku.
Kejadian pulang bareng ini emang sering banget terjadi semenjak aku dan Arnold sama-sama jadi pengurus mudika paroki. Awalnya kami cuma kenal biasa aja lewat kepanitian Muspar. Kemudian tugas dan posisi di mudika paroki membuat komunikasi di antara kami jadi cukup sering. Apalagi kami kuliah di kampus yang sama. Kadang-kadang program kerja mudika pun dirapatin di kampus.
Hubunganku dan Arnold bukan hanya sebagai wakil dan ketuanya, tapi udah kayak saudaraan. Deket banget deh. Untungnya aku sudah punya cowok, jadi nggak digosipin yang aneh-aneh kalau pergi berdua dia.
Tapi kita berdua juga kadang-kadang berantem. Lebih tepatnya aku duluan sih yang memulai. Yang jadi persoalan yah nggak jauh-jauh dari mudika juga. Biasanya berantemnya lewat e-mail. Pernah juga sih aku bete banget sama dia dan dia aku diemin. Waktu itu mudika paroki bikin Bazar Paskah. Situasi yang under pressure membuat aku jadi sedikit sensitif dan gampang marah. Arnold jadi bingung dan ngirim e-mail permintaan maaf karena mengira dia yang bikin aku marah dan bete. Baru pertama kalinya aku lihat Arnold kebingungan karena didiemin. Hehehe…. Lucu juga. Dia begitu karena sudah menganggap aku sebagai adiknya.
Seneng banget, deh, punya sahabat kayak Arnold. Baru pertama kalinya aku bisa punya temen cowok yang deket kayak saudaraan. Sebelum bersahabat dengan Arnold, orang-orang di lingkungan sekitarku selalu berpikiran bahwa nggak mungkin cowok dan cewek hanya sebagai sahabat. Kalaupun temenan deket ujung-ujungnya pasti jadi pacar. Persahabatanku dengan Arnold membuktikan bahwa pikiran mereka salah.
Cowok dan cewek bisa kok berhubungan dekat sebagai sahabat. Emang sih, batas antara sahabatan dan pacaran itu tipis. Tapi kita bisa, kok, narik garis pembatas antara pacar dan sahabat. Nggak mungkin lah misalnya kita gandengan tangan terus sama sahabat cowok, ntar ada yang salah ngertiin. Kalau aku sendiri ngebedainnya dengan nggak pergi berdua Arnold ke tempat-tempat yang sudah terkonotasi hanya untuk orang pacaran. Seperti bioskop, kafe yang romantis, atau pesta valentine sebagai contohnya.
Kalau kalian punya sahabat cowok, syukurilah dan jagalah persahabatan kalian. Pacaran itu bisa putus, tapi kalau persahabatan tidak akan bisa putus. Kalian bisa baca di Amsal 17:17, “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran”. So, friends forever, OK!
ini adalah tulisan-tulisanku yang sudah pernah dipublikasikan maupun yang hanya tersimpan di almari kehidupanku. aku menulisnya dengan segenap hati....
Thursday, July 10, 2003
Saturday, May 03, 2003
I’ll be Faithfull to YOU
Dear Diary,
Hi, my friend! Hari ini Vita lagi sebeeeelll buanget deh! Bete! Kok ada sih temen yang kayak gitu… Gini nih ceritanya. Tadi pagi pas Vita lagi bantuin temen-temen mudika wilayah jualan di gereja, si Ani ngedeketin aku dan dia cerita kalo selama ini Yohan nyebar gosip ke temen mudika yang lain kalo aku ini suka manfaatin cowok. Gila banget khan, Di! Gimana aku nggak bete?!
Vita tahu deh, si Yohan ini kayaknya sakit hati karena Vita tolak cintanya. Tapi aku kan nolaknya juga baik-baik, nggak kasar. Selama dia pdkt aku juga bersikap biasa aja, nggak langsung ilfeel dan menghindari dia. Vita bersyukur banget si Ani mau cerita tentang hal ini ke aku dan nggak gampang percaya sama gosip yang beredar.
Trus, si Yohan ini enaknya diapain yach? Apa langsung aku datengin aja trus diajakin berantem sekalian. Gila yee… emangnya Vita preman. Eh, tapi keren juga kan kalo ada preman cewek. Udah deh… kok tambah ngawur.
Di, gosip ini bikin aku malu juga kalo ketemu sama temen mudika yang lain. Gimana kalo mereka percaya dengan gosip itu? Vita kan jadi punya cap jelek. Aku jadi males ah, kalo ada pertemuan mudika nggak mau dateng. Kalo ada rapat FPM juga nggak mau dateng. Apalagi diminta bantuin jualan di gereja. Nggak mau ah… malu!!!
Tapi malem ini sebelum aku curhat sama kamu, aku curhat dulu sama kakakku. Aku pikir kakakku akan mendukung aku, eh, dia malah bilang supaya aku jangan membalas kejahatan dengan kejahatan dan melakukan apa yang baik bagi semua orang. Apalagi kehadiranku dalam mudika juga menunjang kemajuan mudika. Trus kakakku langsung nyodorin alkitab untuk aku baca. “Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat. Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan. Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan.” (Roma 12:10-11, 21).
Wah, Di, ayat ini bener-bener nyentil aku nih. Berarti terhadap Yohan aku nggak boleh menjauhi dia atau malah balik ngegosipin. Aku harus terus menunjukkan kasihku pada dia. Trus aku juga nggak boleh males ikut mudika. Bagaimanapun itu adalah salah satu bentuk jawabanku untuk melayani Tuhan. Jadi orang Katolik itu nggak gampang, banyak hal-hal yang bisa bikin Vita jatuh dalam dosa, tapi Vita yakin Tuhan Yesus tidak akan meninggalkan Vita sendirian. DIA pasti akan turut bekerja dalam setiap masalah yang Vita hadapi.
Selamat malam Diary. Vita mau bobo dulu nih.
We’re running the race to win. All the way to the end. Laying down every sin that would seek to hinder us. And we’ll be faithfull to our calling . For You are able to keep us from falling. For in Your promise, we will trust. You’ll be faithfull to finish the work You began in us – taken from the song "We’ll be Faithfull".
Hi, my friend! Hari ini Vita lagi sebeeeelll buanget deh! Bete! Kok ada sih temen yang kayak gitu… Gini nih ceritanya. Tadi pagi pas Vita lagi bantuin temen-temen mudika wilayah jualan di gereja, si Ani ngedeketin aku dan dia cerita kalo selama ini Yohan nyebar gosip ke temen mudika yang lain kalo aku ini suka manfaatin cowok. Gila banget khan, Di! Gimana aku nggak bete?!
Vita tahu deh, si Yohan ini kayaknya sakit hati karena Vita tolak cintanya. Tapi aku kan nolaknya juga baik-baik, nggak kasar. Selama dia pdkt aku juga bersikap biasa aja, nggak langsung ilfeel dan menghindari dia. Vita bersyukur banget si Ani mau cerita tentang hal ini ke aku dan nggak gampang percaya sama gosip yang beredar.
Trus, si Yohan ini enaknya diapain yach? Apa langsung aku datengin aja trus diajakin berantem sekalian. Gila yee… emangnya Vita preman. Eh, tapi keren juga kan kalo ada preman cewek. Udah deh… kok tambah ngawur.
Di, gosip ini bikin aku malu juga kalo ketemu sama temen mudika yang lain. Gimana kalo mereka percaya dengan gosip itu? Vita kan jadi punya cap jelek. Aku jadi males ah, kalo ada pertemuan mudika nggak mau dateng. Kalo ada rapat FPM juga nggak mau dateng. Apalagi diminta bantuin jualan di gereja. Nggak mau ah… malu!!!
Tapi malem ini sebelum aku curhat sama kamu, aku curhat dulu sama kakakku. Aku pikir kakakku akan mendukung aku, eh, dia malah bilang supaya aku jangan membalas kejahatan dengan kejahatan dan melakukan apa yang baik bagi semua orang. Apalagi kehadiranku dalam mudika juga menunjang kemajuan mudika. Trus kakakku langsung nyodorin alkitab untuk aku baca. “Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat. Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan. Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan.” (Roma 12:10-11, 21).
Wah, Di, ayat ini bener-bener nyentil aku nih. Berarti terhadap Yohan aku nggak boleh menjauhi dia atau malah balik ngegosipin. Aku harus terus menunjukkan kasihku pada dia. Trus aku juga nggak boleh males ikut mudika. Bagaimanapun itu adalah salah satu bentuk jawabanku untuk melayani Tuhan. Jadi orang Katolik itu nggak gampang, banyak hal-hal yang bisa bikin Vita jatuh dalam dosa, tapi Vita yakin Tuhan Yesus tidak akan meninggalkan Vita sendirian. DIA pasti akan turut bekerja dalam setiap masalah yang Vita hadapi.
Selamat malam Diary. Vita mau bobo dulu nih.
We’re running the race to win. All the way to the end. Laying down every sin that would seek to hinder us. And we’ll be faithfull to our calling . For You are able to keep us from falling. For in Your promise, we will trust. You’ll be faithfull to finish the work You began in us – taken from the song "We’ll be Faithfull".
Sunday, April 06, 2003
Aku Cinta Toleransi
Paska sudah di depan mata. Sebelumnya kita harus melewati masa prapaska yang adalah masa puasa bagi kita. Dengan puasa kita belajar untuk mengendalikan diri dalam kehidupan sehari-hari sebagai bentuk pertobatan. Bentuk konkret pertobatan diwujudkan dalam bentuk aksi atau gerakan. Karena itulah dikenal adanya Aksi Puasa Pembangunan (APP). Nggak ada gunanya kita berpuasa selama masa prapaska kalo nggak dibarengi suatu aksi nyata.
Keuskupan Agung Jakarta merumuskan tema prapaska tahun ini secara khusus pada “Menumbuhkembangkan Sikap dan Perilaku Toleran dalam Keluarga”. Toleransi berarti kita saling menerima dan membantu agar masing-masing orang memiliki dan mengembangkan identitas diri dan aktivitas hidup sesuai dengan perbedaan dan keunikannya. Kenapa di keluarga? Karena terkadang kita lebih bisa bersikap toleran terhadap lingkungan di luar keluarga kita.
Saya punya teman yang aktif sekali dalam kegiatan di mudika wilayah maupun paroki. Sebut saja namanya Donny. Dia telah menjadi ketua yang baik bagi teman-temannya dalam kegiatan di mudika. Dia tahu dan mau mendengarkan setiap masalah yang dicurhatkan teman-temannya, membantu agar orang-orang di sekelilingnya dapat mengembangkan kemampuan dan bakatnya. Walaupun jomblo, tapi dia termasuk high quality jomblo, deh. Di mata orang-orang kayaknya perfect banget.
Tapi, kalo kalian tidak mengenal dia secara dekat, kalian tidak akan pernah tahu bahwa kalo di rumah si Donny ini nggak care sama adiknya dan Ibu Bapaknya. Saking sibuknya di kampus dan gereja, rumah buat dia seperti jaadi tempat kost aja. Cuma untuk makan dan tidur, tokh. Ngobrol sama keluarga juga cuma seperlunya aja. Lebih seneng bantuin adiknya bikin PR. So ironic, huh!
Keluarga adalah unit terkecil dari komunitas basis, gereja rumah tangga yang secara nyata menghadirkan Allah di tengah kehidupan masyarakat. Dari unit terkecil ini diharapkan toleransi dapat merambah pada komunitas yang lebih luas. Walaupun misalnya kalian nggak nyambung banget kalo ngobrol sama ortu, yah setidaknya kalian meluangkan waktu untuk nanya kegiatan mereka hari ini apa aja. Teman-teman kita aja seneng kalo ditanyain kabarnya, apalagi orang tua kita. Mereka kan juga sayang sama anaknya.
Yesus sendiri selama 30 tahun hidup dalam keluarga sebelum memulai karya-karyanya. Jangan sampai kita ini malah kebalik. Asyik berkarya dan sibuk di luar rumah sampai-sampai lupa sama orang tua dan kaka atau adik kita. Kita jadi lebih bisa toleran sama orang lain di luar keluarga. Ikatan cinta kasih kita dalam keluarga menjadi kendor dan tidak mendalam lagi. Padahal toleransi dalam kehidupan keluarga mendasari toleransi dalam kehidupan masyarakat untuk mewujudkan persaudaraan sejati.
So, jangan lupa mungkin adik kita di rumah ada yang lagi kangen untuk ditemenin main basket atau pengen pergi belanja bareng sama kamu.
Keuskupan Agung Jakarta merumuskan tema prapaska tahun ini secara khusus pada “Menumbuhkembangkan Sikap dan Perilaku Toleran dalam Keluarga”. Toleransi berarti kita saling menerima dan membantu agar masing-masing orang memiliki dan mengembangkan identitas diri dan aktivitas hidup sesuai dengan perbedaan dan keunikannya. Kenapa di keluarga? Karena terkadang kita lebih bisa bersikap toleran terhadap lingkungan di luar keluarga kita.
Saya punya teman yang aktif sekali dalam kegiatan di mudika wilayah maupun paroki. Sebut saja namanya Donny. Dia telah menjadi ketua yang baik bagi teman-temannya dalam kegiatan di mudika. Dia tahu dan mau mendengarkan setiap masalah yang dicurhatkan teman-temannya, membantu agar orang-orang di sekelilingnya dapat mengembangkan kemampuan dan bakatnya. Walaupun jomblo, tapi dia termasuk high quality jomblo, deh. Di mata orang-orang kayaknya perfect banget.
Tapi, kalo kalian tidak mengenal dia secara dekat, kalian tidak akan pernah tahu bahwa kalo di rumah si Donny ini nggak care sama adiknya dan Ibu Bapaknya. Saking sibuknya di kampus dan gereja, rumah buat dia seperti jaadi tempat kost aja. Cuma untuk makan dan tidur, tokh. Ngobrol sama keluarga juga cuma seperlunya aja. Lebih seneng bantuin adiknya bikin PR. So ironic, huh!
Keluarga adalah unit terkecil dari komunitas basis, gereja rumah tangga yang secara nyata menghadirkan Allah di tengah kehidupan masyarakat. Dari unit terkecil ini diharapkan toleransi dapat merambah pada komunitas yang lebih luas. Walaupun misalnya kalian nggak nyambung banget kalo ngobrol sama ortu, yah setidaknya kalian meluangkan waktu untuk nanya kegiatan mereka hari ini apa aja. Teman-teman kita aja seneng kalo ditanyain kabarnya, apalagi orang tua kita. Mereka kan juga sayang sama anaknya.
Yesus sendiri selama 30 tahun hidup dalam keluarga sebelum memulai karya-karyanya. Jangan sampai kita ini malah kebalik. Asyik berkarya dan sibuk di luar rumah sampai-sampai lupa sama orang tua dan kaka atau adik kita. Kita jadi lebih bisa toleran sama orang lain di luar keluarga. Ikatan cinta kasih kita dalam keluarga menjadi kendor dan tidak mendalam lagi. Padahal toleransi dalam kehidupan keluarga mendasari toleransi dalam kehidupan masyarakat untuk mewujudkan persaudaraan sejati.
So, jangan lupa mungkin adik kita di rumah ada yang lagi kangen untuk ditemenin main basket atau pengen pergi belanja bareng sama kamu.
Subscribe to:
Posts (Atom)