Monday, October 22, 2007

Kemana Tuhan ketika banyak hal buruk terjadi di dunia?

NT tersayang,
 
Pembicaraan kita semalam menimbulkan banyak pertanyaan di hatiku. Kenapa banyak hal buruk terjadi di dunia? Kemana Tuhan ketika ada banyak ketidakadilan? Apakah Tuhan sedang tidur ketika terjadi banyak bencana alam di Indonesia? Dan seterus.... Begitu banyak pertanyaan.
 
Dari hasil permenunganku... Tuhan membiarkan itu semua terjadi karena kita adalah manusia. Manusia yang tercipta dengan segala ketidaksempurnaan dan juga kehendak bebas. Tuhan telah menciptakan alam raya ini dengan segala isinya. Tumbuhan, binatang, manusia. Hmmm... kalau bencana alam terjadi dan mengenai orang-orang baik juga (bukan hanya orang jahat) itu karena hukum alam. Yah... hukum alam. Hukum alam tidak memandang orang itu baik atau jahat. Gunung meletus ya meletus saja. Gempa bumi terjadi ya terjadi saja. Akibat yang dirasakan tidak pandang bulu.
 
Bencana alam juga membuat kita sadar bahwa ada hal-hal lain diluar kemampuan kita sebagai manusia. Ada hal-hal yang tidak dapat kita atur dan rencanakan. Tuhan juga tidak turun tangan untuk menghentikan bencana ini, karena itu hukum alam. Sesuatu yang memang seharusnya terjadi. Tindakan Tuhan dapat kita lihat dari orang-orang yang kemudian saling bahu membahu untuk membantu para korban bencana. Juga dapat dilihat dari semangat hidup dan keberanian para korban untuk melanjutkan hidupnya.
 
Pertanyaannya kemudian adalah... kenapa orang-orang baik juga harus mengalami penderitaan yang sama dengan orang-orang jahat? Dimana letak keadilan Tuhan? Kenapa orang-orang harus menderita kalau Tuhan itu ada? Hmmm.... aku juga ga begitu tahu jawaban yang benar. Tapi dari yang aku rasakan selama hidupku ini, orang mengalami penderitaan supaya dia bisa berkembang. Bisa merasakan segala macam perasaan dengan ketidaksempurnaan dirinya.
 
Manusia terlahir dengan ketidaksempurnaan. Ketidaksempurnaan tiap manusia itu berbeda karena kita unik. Aku sendiri bersyukur tidak dilahirkan jenius, karena dengan begitu aku bisa merasakan betapa senangnya dapat nilai A. Betapa asyiknya belajar bersama teman kala menghadapi ujian. Bila aku terlahir jenius, mungkin aku merasa biasa-biasa saja dapat nilai A, bahkan mungkin stress karena merasa seharusnya bisa dapat nilai A+. Aku juga mungkin akan menjadi introvert yang sombong karena tidak merasa memerlukan teman-teman sebagai kelompok belajar bersama.
 
Aku juga bersyukur terlahir dengan wajah biasa saja, ga cantik-cantik amat. Karena dengan begitu aku bisa merasakan hati yang dag dig dug tidak menentu saat mendengar seseorang yang spesial mengatakan bahwa aku cantik. Kalau aku terlahir cantik, mungkin aku akan sangat bosan mendengar orang-orang mengatakan bahwa aku cantik. Aku bersyukur bisa mengalami perasaan ini.
 
Aku juga bersyukur terlahir di keluarga yang sederhana. Dimana untuk membeli sesuatu harus mikir dua tiga kali dulu. Karena dengan begitu aku bisa merasakan senang saat membeli tas sekolah dari hasil menabung uang saku. Aku bisa merasakan senangnya gajian saat sudah bekerja.
 
Aku bersyukur bisa merasakan segala macam jenis perasaan dan bertumbuh di dalam kekuranganku sebagai manusia. Dari dulu sampai sekarang aku tak pernah berhenti berusaha untuk mengambil makna dari setiap kekurangan yang kualami.
 
Mengenai kenapa masih ada orang jahat, menurutku karena Tuhan memberikan kehendak bebas pada kita. Kehendak bebas itu bisa kita gunakan bahkan untuk menyakiti orang lain, membunuh mereka bahkan. Dan Tuhan sendiri hanya bisa melihat dari atas dengan pandangan penuh kasihan melihat kebodohan manusia-manusia ciptaannya. Itulah mengapa terjadi peristiwa pembuhan G30S, adanya Nazi, adanya terorisme, dll. Kematian itu menuruku juga diperlukan sebagai proses kita yang manusiawi. Ada kelahiran, ada kematian.
Segala hal buruk yang menyertai kematian juga adalah sesuatu yang natural sebagai bagian dari manusia yang dianugrahi kehendak bebas. Bila hal buruk terjadi, itu karena manusia mempunyai kehendak bebas dan Tuhan tidak mencegahnya.
 
Inilah yang dimaksud Tuhan dengan menjadi manusia. Menjadi bebas untuk menentukan keinginan dan kehendak, dibandingkan hanya sekedar mengikuti insting. Itu berarti juga adalah mengetahui bahwa beberapa pilihan ada yang baik, dan ada pilihan yang buruk juga. Tugas kita adalah untuk mengetahui perbedaan diantara keduanya.
 
Fiuuhhh.... sepertinya untuk suratku sampai di sini dulu deh. Sudah hampir jam 8. Aku tak nyiap-nyiapin kerjaan dulu ya.
Aku tunggu balesan darimu untuk surat ini.
 
 
I love you, always...

Monday, August 27, 2007

pagi bersamamu…


Cakrawala bersemburat biru membuka hari
Awan-awan putih mengapung ringan
Burung-burung gereja bercicip riang
Ingin rasanya aku merebahkan kepalaku didadamu
sambil menikmati kopi pagi yang manis dan hangat

Thursday, July 26, 2007

Mencintai FASW


Mencintaimu…
Adalah seperti berjalan di tengah terik mentari
dan merasakan angin membelai lembut pipiku
Adalah ketika aku kembali menemukan
jalan pulang ke hatiku
Adalah rasa yang layak dihidupi sepanjang asaku
Mencintaimu… FASW
Begitu sederhana…

Sunday, July 08, 2007

Kekasihku…


Kekasihku…

       Aku mengasihimu dengan semesta jiwa di ragaku

Mengalunkan gita lembut cinta di sanubari,

tatkala ‘ku memanggilmu… kekasihku

Monday, June 04, 2007

Rindu Itu Jahanam


Rindu itu jahanam

Tiba-tiba saja dia menghentakku dari kesadaran
Menampar pipi kesepian dan membuatnya bangun

Menghajar hati yang lemah karena cinta
Membuatnya berdiri lagi…

Karena cinta itu pantas untuk ditunggu
ditemani rasa rindu yang merasuk hingga sum sum

(aku menunggumu di sini.. ditemani rindu yang jahanam…)

Thursday, May 10, 2007

Sayap Cinta


Aku ingin memelukmu dengan sayap-sayap cintaku… 

Membawamu terbang melintasi hembusan semilir angin 

Melintasi sungai harapan di pagi hari 

Menjumpai mentari senja berkerudung jingga 

Tertidur bersama di bawah naungan bintang-bintang 

Aku ingin bersamamu selamanya… 


(teruntuk kekasih hatiku nun jauh di sana… 
cinta itu adalah sayap..)

Sunday, April 29, 2007

Rinduku


Rinduku kepadamu ketika senja bersalin malam…

Berhias gemintang gemerlap menyapa rembulan

Rinduku kepadamu…

Ketika sayup terdengar peri malam 

Menyenandungkan pujian cinta semesta

Rinduku kepadamu…

Ketika kumengucap, “ Selamat malam. Selamat tidur kekasih hatiku.”


(teruntuk seseorang di nun jauh…)

Monday, January 22, 2007

To All the Girls in the World

Untuk para wanita di seluruh dunia, hari ini aku ingin berbagi dengan kalian semua. Hehehe…. Tulisan ini terinspirasi dari banyak hal yang aku lihat hari ini. Mulai dari iklan di majalah dan koran yang kubaca hari ini, televisi yang kutonton saat makan siang tadi, dan lagu yang kudengarkan saat menulis tulisan ini. Inspirasi lainnya terutama dari teman-teman wanitaku yang lain.

Aku agak tergelitik dengan iklan-iklan di media yang setiap harinya mengembar-gemborkan indahnya kulit putih, berlekuknya tubuh langsing nan seksi, wajah-wajah cantik polesan make-up teranyar, dsb. Kita jadi ikut terdorong untuk mengunakan produk-produk tersebut. Kulit sawo matang ingin kita ubah jadi putih langsat. Tubuh yang ‘berisi’ sedikit sudah buru-buru mau diet. Nggak pede kalau keluar rumah tanpa ber-make-up ria, minimal pake bedak ‘lah. Rambut hitam indah kita, rasanya pun terlihat membosankan dibandingkan pirangnya rambut teman kita yang dari Eropa.

Mulai dari kecil kita semua sudah dicekokin dengan berbagai hal yang membuat rasa self esteem kita rendah. Waktu remaja kita merasa ga pede dengan jerawat yang ada di wajah, karena semua model-model sampul di majalah remaja berwajah mulus semua. Hormon kita di masa itu  memang membuat wajah kita mulai timbul jerawat. Model-model itu bisa tampil sempurna karena polesan make-up dan permainan teknologi digital camera. Jerawat yang ada harusnya diterima saja, jangan menjadi beban kita dalam berteman dan beraktivitas. Itu adalah salah satu proses menjadi dewasa.

Selain jerawat, hal lain yang dianggap bermasalah adalah apabila kita ga bisa memakai baju model terbaru. Wah, rasanya banyak teman-temanku yang ga pede kalo harus ke party dengan baju yang itu-itu aja. Rasa self esteem kita ditentukan oleh baju yang kita pakai. Harusnya baju itu adalah pelengkap bagi rasa self esteem kita.

Kenapa sih, para wanita banyak enggak pede dengan penampilan dirinya apa adanya? Semua sepertinya harus dipoles.  Semua harus sesuai standar yang ditetapkan dunia industri. Semua harus putih, langsing, berwajah cantik menarik, berpakaian stylish setiap saat (ga peduli limit kartu kredit sudah mau habis untuk belanja), harus rajin ke salon untuk merawat diri, dan masih banyak hal lainnya.

Menurutku sih putih itu enggak salah kok. Langsing juga bagus. Salon juga enak buat tempat rileks setelah seminggu kerja. Tapi….. Nih, ada tapinya lho! Kita harus punya rasa percaya diri yang tinggi, self esteem yang bagus. Kita ini para wanita sudah cantik lho dengan segala yang ada di diri kita.

Apa yang ada di dalam diri kita itu jauh lebih indah dan cantik dibandingkan segala penampilan luar kita. Apa yang ada di dalam diri kita, rasa penghargaan kita terhadap diri sendiri, adalah jauh lebih penting daripada perhargaan orang lain terhadap kita. Terserah orang lain mau bilang kita jerawatan kek, ga putih kek, rambut keriting kek. So what gitu, lho! Yang terpenting adalah kita mempunyai penilaian yang baik terhadap diri kita sendiri.

Jadi… untuk semua wanita di seluruh dunia, aku ingin mengajak kalian semua untuk mulai menerima diri sendiri apa adanya, menyadari bahwa kita semua cantik. Kecantikan yang unik, karena setiap pribadi diciptakan berbeda oleh Tuhan. Apa yang ada di dalammu, di dalam hatimu, adalah kecantikanmu yang sesungguhnya. Kecantikan kita masing-masing tentu berbeda dengan yang lainnya. Sekali lagi… itu karena kita unik, satu-satunya di dunia ini. Ga ada wanita lain yang tercipta sama persis seperti kalian. So, be proud of yourself! You are all beautiful, girls!


*Christie Nathalia*
22/01/2007

Friday, January 05, 2007

FREE YOUR MIND IN 2007

Siang ini Oprah Winfrey Show benar-benar ngasih gue inspirasi untuk tahun 2007 ini. Ada anak cewek dari Ethiopia, namanya Anadech, yang saat ini tinggal di USA. Si Anadech ini terlahir di keluarga yang miskin. Suatu hari Anadech bermain di sekitar rel kereta api dekat rumahnya dan kakinya tersangkut di rel kereta itu. Akibatnya Anadech tertabrak kereta. Tangan kanan dan kaki kanannya harus diamputasi.

Setelah itu Anadech dibawa ke USA oleh seorang relawan kemanusiaan untuk proses penyembuhan lebih lanjut. Anadech kemudian ditempatkan di dalam satu keluarga disana selama proses penyembuhannya. Ternyata kemudian keluarga tersebut jatuh cinta pada Anadech dan mengadopsinya.

Sekarang Anadech berumur sembilan tahun. Dia sudah mahir menggunakan kaki palsunya untuk berjalan, berlari dalam pertandingan softball, bahkan berenang. Berenang! Can you imagine that? Gue aja waktu seumuran dia susah banget belajar berenang. Sampai guru renang gue jadi sedikit bete sama gue, hehehe… Sorry, MamJ
Sedangkan si cewek amazing ini berenang dengan hanya satu tangan dan satu kaki. Ikut lomba pula. Gila! Salut banget gue sama dia.

Anadech bilang dia ingin belajar melakukan segala sesuatu seperti layaknya orang normal dengan anggota tubuh lengkap. Dia tidak ingin dianggap lemah dan berbeda dari orang lain. Pemikiran yang dewasa untuk seorang anak seumur dia.

Gue banyak belajar dari si Anadech ini. Walau dia cuma muncul ga sampai setengah jam di TV, tapi udah benar-benar nonjok buat gue. Gue sering banget merasa takut melakukan sesuatu. Karena gue merasa ga sanggup lah, merasa malu dengan komentar orang, merasa takut gagal. Padahal… ya itu deh… gue belum nyoba sama sekali tapi udah takut duluan.

Sebenarnya segala ketakutan dan perasaan ga mampu gue ini kan berasal dari pikiran gue sendiri. Gue harus merubah cara berpikir gue, bahwa gue mampu melakukan semuanya, bahwa gue ga akan ragu untuk mencoba segala hal yang ada di muka bumi ini. Learning more new things! Doing more new things! Dan terutama tidak takut untuk gagal. Bebasin pikiran dari segala ketakutan dan gue bakal dapat lebih dari hidup ini. Hidup itu terlalu singkat!

Friday, December 29, 2006

Doa Mohon Kehancuran Agama

Aku menemukan sebuah puisi yang menurutku sangat bagus untuk direnungkan bersama. Puisi ini berisi doa getir. Sayang… tidak ada nama sang pengarang. Semoga bisa menjadi permenungan untuk kita semua di akhir tahun 2006 ini.

Doa Mohon Kehancuran Agama (Jerman, 18.02.06)

Kepada Allah yang dipuja di label dunia atas nama agama
Diagung-agungkan sebagai pencipta dan pengatur semesta

Aku mohon kehancuran agama

Jika atas nama agama tidak ada
penghargaan martabat atas sesama manusia

Jika atas nama agama, ada yang terluka bahkan mati binasa
terinjak injak oleh bejat dan nafsu belaka
bahkan oleh teriak para pemangku agama

Jika salaman saja bagi yang berbeda
menjadi sia-sia dan nista hukumnya

Jika kedatangan sesama manusia
menjadi berjarak hanya karena beda agama

Jika karena pantang-pantang,
persaudaraan menjadi baur mengudara

Jika manusia telah menjadi allah atas sesamanya
Jikapun dengan cara demikian orang masuk surga,
maka akulah orang yang pertama memilih masuk neraka

Sekali lagi aku mohon kehancuran agama

Tuesday, December 26, 2006

Bip bip bip…



Bip bip bip…
Bunyi SMS masuk
Pesan kubaca
Kuterpana..
Kita putus aja ya

Cintaku berakhir di bip bip bip…
Begitu elektroniknya cinta itu


*Christie Nathalia*
26/12/2006

Ketika ‘Ku Hitam


Akankah kau mengenaliku di surga sana?
Jika semuanya tampak begitu sempurna
Begitu indah dan damai
Terang gemilang

Akankah kau mengenaliku yang hitam ini?
Penuh dengan air mata kesedihan
Amarah yang menggelegak
Iri hati yang membusuk

Akankah kau menyambutku lagi…
dengan sayap keemasanmu?
Menyelimutiku dengan kedamaian
Seperti dulu… ketika kumasih putih
dan berada dipelukanmu

Akankah kau melihatku diantara terangmu?
Ketika ku hitam
Andai iya…
Ijinkan aku menjadi bayangan darimu
Mengikutimu kemanapun
Dan aku pun kembali menjadi putih dalam terangmu


*Christie Nathalia*
26/12/2006

Thursday, December 21, 2006

SEPI YANG RAMAI


Sepi…
     Kenapa ada sepi?
Mungkin karena ramai
    Sepi yang ramai
    Ramai yang sepi

Sepi yang datang beramai-ramai
Ramai hinggap pada sepi

     Hingga sepi pun berlalu
     Meninggalkan ramai…

*Christie Nathalia JS*
21/12/2006

Tuesday, December 19, 2006

PANASEA-KU


Aku ingin menikmati
Saat-saat menatap kau pergi
Menatap punggungmu
Menghirup harum tubuhmu
Untuk yang terakhir kali

Karena saat kau akan pergi..
Maka hilanglah panaseaku
Yang selalu mengobati
Malam-malam insomniaku
Sang waktu akan berjalan lambat
Mentari tak lagi ceria
Rembulan pun malu menatapku

Ijinkan aku menatapmu
Walau hanya punggungmu
Yang terekam di pelupuk mataku
Tapi harum tubuhmu…
Akan selalu ada saat hujan membasahi bumi


*Christie Nathalia JS*
19/12/2006

Tuesday, December 12, 2006

Aku Tiada



Aku benci hidupku
Aku benci menjadi hidup
Aku benci menjadi sesuatu yang ada
Aku ingin hilang

Menjadi senyap
Pekat
Tak berbayang
Tak ada
Tak hadir
Tak berbau

Mungkin dengan begitu aku bahagia?
Dengan ketiadaanku…


*Christie Nathalia*
12/12/2006

Thursday, December 07, 2006

gadis kapas


Gadis kapas lembut halus
Mengawang-awang
Terbang ke langit biru
Ditemani angin semilir

Gadis kapasku
Putih dan lucu                       
Menari-nari di taman
Tertawa-tawa

Hmm.. gadis kapasku
Mungil, imut-imut
Gadisku... adikku yang manis


*Christie Nathalia*

Wednesday, December 06, 2006

Senja Bersamamu


Aku menantimu di batas senja.
Di pantai ini…
Dimana mentari meredupkan sinarnya
Dan air laut menggapai kakiku
Masih adakah senjamu untukku…
Disaat langit berbalut jingga keemasan
Aku ingin senja bila hanya bersamamu


*Christie Nathalia*
6/12/2006

Wednesday, November 29, 2006

AKU INGIN PULANG


Perjalanan ini sepertinya tidak akan berakhir
Langit biru, angin yang menerpa
Wajah orang silih berganti di mataku
Kapankah ini berakhir?

Tiap tempat sudah kudatangi
Tiap jalan sudah kutapaki
Bahkan tiap kedai pun sudah kucoba

Aku cuma ingin damai
Damai yang tak kudapatkan di keramaian
Damai yang tak kudapatkan dari langit biru
Damai yang hanya kudapatkan darimu

Aku ingin pulang
Ke tempatmu
Dimana langit biru menjadi damai kita bersama


*Christie Nathalia*
29/11/2006

Saturday, November 11, 2006

Panggil Aku Maya

Panggil aku Maya atau May, atau bisa juga May May. Terserah orang mau memanggilku apa. Ibu dan ayahku biasa memanggilku Sri. Sariyem Sri Handayani Prasetyoko adalah nama yang tercantum di akte kelahiranku. Nama yang tidak pernah kusukai semenjak aku pindah sekolah ke Jakarta. Nama yang terlalu berbau Jawa dan kampungan. Maaf, bukannya aku benci pada kampungku, hanya aku merasa namaku agak ndeso, gak modern. Ibuku saja namanya lebih modern, Cicilia Andiriani Wijanarko, sedangkan ayahku Gatot Adi Prasetyoko. Tidak kampungan dan lebih modern. Herannya kenapa mereka bisa memberiku nama Sariyem Handayani seperti ini.
Sudah sepuluh tahun aku menggunakan nama Maya bila berkenalan dengan orang lain. Nama Sariyem Sri Handayani hanya tercantum pada KTP, SIM, rekening bank, ATM, kartu kredit dan identitas lain. Untungnya kantorku memperbolehkanku memakai nama Maya di ID card karyawan. Seluruh karyawan di kantorku, kecuali bagian HRD, juga tahunya aku bernama Maya. Mbak Maya, begitu mereka biasa memanggilku.
Saat ini pukul 19:00 dan aku sedang menunggu Joko di sebuah cafe dekat kantor. Dia lelaki yang sudah lima bulan ini menemani hari-hariku. Jangan tanyakan tentang namanya yang rada kampungan itu. Kalau kalian bertemu dengannya pasti tidak akan banyak protes dengan nama Joko itu. Badannya tegap, dadanya bidang, giginya rapih dan putih, wajahnya tentu saja tidak sekampung namanya. Mirip-mirip Jude Law. Itu dia datang dengan senyum manisnya dan kemeja biru tua favoritnya. Bersamanya aku merasa nyaman.
Pertemuanku dengan Joko terjadi saat aku sedang mempresentasikan beberapa contoh iklan yang telah kantorku kerjakan. Kantor Joko adalah salah satu klien baru perusahaan advertising tempatku bekerja. Maya, demikian aku memperkenalkan diriku pada Joko. Tentu saja waktu itu aku memanggilnya Pak Joko. Waktu itu Joko hanya tersenyum dan menatapku dengan tajam. Rasanya aku pernah memandang wajahnya entah dimana. Tapi aku tidak terlalu memikirkan hal itu karena berkonsentrasi sekarang pada presentasiku.
Keesokan harinya kantorku dihebohkan dengan adanya kiriman satu lusin karangan bunga Lily. Hei! Itu bunga favoritku. Beruntung sekali orang yang mendapatkannya. Resepsionis katanya sempat menolak bunga-bunga itu karena nama orang yang tercantum pada karangan bunga itu tidak ada di kantor ini. Si pengantar bunga tetap ngotot mengantarkan bunga tersebut karena katanya sudah dibayar dan alamatnya jelas tertera kantor ini. Akhirnya beberapa temanku mengambil karangan bunga tersebut dan menaruhnya di meja mereka masing-masing. Termasuk aku sendiri tentunya, tanpa tahu siapa si pengirim karena si pengantar bunga merahasiakannya.
Kemudian selama hari-hari berikutnya kiriman bunga itu terus datang. Kantorku sampai penuh sesak dengan bunga Lily. Bayangkan, setiap hari satu lusin karangan bunga. Karena penasaran, aku bertanya pada bagian resepsionis untuk siapa karangan bunga tersebut ditujukan. Bunga-bunga itu semua untuk Sariyem Sri Handayani. Sariyem Sri Handayani... Sa..ri...yem... Sri.. Han... da... dan tiba-tiba semuanya begitu gelap.
Bangun-bangun aku ternyata aku berada di sofa ruang meeting dengan ibu kepala HRD, Ibu Ida, disampingku. Astaga... tadi aku pingsan karena saking kagetnya mendengar namaku sendiri. Ibu Ida hanya tersenyum dan memberiku teh manis hangat. Beliau bilang tidak ada salahnya menerima dan mengakui nama yang telah diberikan orangtuaku karena tiap nama mempunyai arti dan harapannya masing-masing. Hari itu aku diijinkan pulang lebih cepat dengan diantar supir kantor. Ibu Ida yang baik tetap menjaga kerahasian nama asliku.
Sesampainya di rumah, ibuku bertanya kenapa pulang lebih cepat dari biasanya. Aku cuma bilang pusing dan langsung masuk kamar. Diam-diam aku menangis, benci dengan kepengecutan diriku untuk mengakui namaku sendiri. Umurku sudah 25 tahun dan sampai sekarang belum pernah menjalin kasih dengan siapapun. Hari-hariku diisi dengan mengejar karier. Sekarang ada seseorang yang mengirimiku lusinan bunga Lily dan aku tak bisa mengakui kalau bunga-bunga itu dikirimkan untukku. Aku tidak sanggup membayangkan apa tanggapan teman-teman kantorku kalau mbak Maya yang cantik, mbak Maya yang modis, mbak Maya yang sanggup meyakinkan klien dengan sekali presentasi, ternyata namanya Sariyem Sri Handayani.
Akhirnya aku jatuh tertidur dengan ditemani berbagai bayangan menakutkan didalam kepalaku. Aku terbangun oleh ketukan pada pintu kamarku. Ibuku bilang ada tamu dan katanya laki-laki. Mungkin teman kantorku karena berpakaian kemeja rapi. Hmm... siapa ya kira-kira yang datang menengokku. Biasanya teman-teman kantorku takut dekat-dekat denganku yang katanya galak. Mungkin karena itu juga aku sulit dapat pacar. Cantik dan galak bukanlah perpaduan yang cocok untuk dijadikan pacar.
Ternyata tamuku adalah Pak Joko. Dia datang karena katanya tadi mencariku di kantor dan mendapat keterangan bahwa aku pulang cepat karena sakit. Joko, kemudian dia memintaku memanggilnya tanpa embel-embel Pak, mengajakku makan malam hari Sabtu besok. Herannya aku mengiyakan saja, seperti sudah tersihir oleh pesonanya. Astaga, Joko ini ganteng sekali kalo dilihat, obrolan kami pun sudah seperti teman lama saja.
Semenjak aku jatuh pingsan, karangan-karangan bunga itu tidak pernah datang lagi. Hubunganku dengan Joko pun semakin dekat semenjak makan malam  di hari Sabtu itu. Aku pun juga mulai melupakan tentang lusinan karangan bunga, entah siapapun pengirimnya, dan pagi ini setelah lima bulan berlalu tiba-tiba kantorku mendapatkan lima lusin karangan bunga Lily yang ditujukan untuk Sariyem Sri Handayani. Ibu Ida hanya menatapku tajam dan aku hanya bisa pura-pura tidak peduli dengan bunga-bunga tersebut.
Teman-temanku pun mulai berceloteh: senang sekali si Iyem yang dapat bunga-bunga ini, dari kampung mana dia, kenapa bisa nyasar ke Jakarta, jangan-jangan dia itu Office Girl kantor sebelah yang dikejar-kejar Pak Lurah dari kampung, dan beberapa celotehan yang membuat kupingku panas. Ingin rasanya aku menghajar orang yang mengirim bunga-bunga tersebut.
Itu adalah kejadian pagi ini, dan sekarang didepanku ada Joko yang baru saja datang. Tiba-tiba didepanku ada seikat bunga Lily putih. Ini untukmu, kata Joko. Bunga favoritmu dari dulu. Darimana Jaka tahu bunga favoritku dan kenapa tiba-tiba dia berlutut didepanku? Joko mengeluarkan cincin dari sakunya dan mengatakan, “Sariyem Sri Handayani Prasetyoko, maukah kau menemani hari-hariku sebagai istriku?” Sariyem.... darimana dia tahu nama Sariyem itu dan bunga-bunga Lily ini. Jangan-jangan.... dan semuanya pun menjadi gelap lagi. Aku hanya sempat mendengar Joko mengatakan bahwa dia teman masa kecilku di kampung.


*Christie Nathalia*
 ini cerpen yg pernah dimuat di majalah SPICE edisi April '07.

Friday, October 27, 2006

ELEGI AMANDA

“Del, sudah siap belum?”
“Belum. Ntar lagi deh. Kamu duluan aja ke bawah. Aku masih harus nge-blow rambut dulu.“
“Ok, aku tunggu di bawah aja ya. Sambil manasin mobil. Tadi pagi belum dipake, kan?”
“Yup. Jangan lupa bawa kadonya sekalian ke mobil!”

DELLA
Kasihan Amanda. Dia pasti sulit untuk datang ke pesta kawinan Vieta dan Ryan malam ini. Dari tadi di kamar sudah satu jam lebih. Padahal biasanya dia cuma ngabisin waktu paling lama setengah jam untuk merias dirinya. Pasti dia lagi bingung untuk jadi pergi atau tidak.
Malam ini Manda akan bertemu dengan Martin dan Doni. Mantan-mantan Manda yang masih... ya mungkin masih bisa dibilang dicintai Manda. Dulu kami berempat kuliah di kampus yang sama. Martin di Hukum. Doni di Tehnik. Sedang aku dan Manda di Komunikasi. Vieta adalah teman Manda dan aku. Dia juga kenal dengan Martin. Sedangkan Doni datang karena diundang Ryan. Mereka dari semenjak kuliah dulu sudah berteman akrab.

AMANDA
            Duh, Tuhan. Andaikan aku tidak harus pergi malam ini. Pasti Martin dan Doni datang ke pesta nanti.Martin... apa dia masih ingat aku setelah lima tahun gak ketemu. Sekarang aku nggak lagi memakai kacamata. Rambutku pun sudah panjang. Dulu kamu kan selalu ingin aku berambut panjang.
            Doni... dengan segala kesederhanaan, kesabaran dan hatimu yang baik, membuatku tak bisa melupakanmu. Bukan berarti Martin lebih baik darimu. Tapi kalian masing-masing mempunyai kelebihan yang saling melengkapi. Kriteria laki-laki yang aku impikan ada di kalian berdua.

DONI
            Manda... adakah dirimu masih seindah dulu. Dulu ketika kamu masih memberikan cintamu padaku seorang. Aku yang mencintaimu dengan tulus bahkan tidak bisa menyadari bahwa kamu ternyata juga mencintai Martin.
Waktu itu aku dan kamu sudah menjalin hubungan selama enam bulan ketika pada suatu sore aku melihat kamu sedang duduk di bangku taman belakang kampusmu. Ada seorang lelaki disebelahmu. Aku tidak tahu apa yang sedang kalian bicarakan. Yang jelas, pada saat itu kamu menangis. Kalau saja pada saat itu Della tidak menarikku ke kantin, pasti aku sudah tahu apa yang sedang kalian bicarakan saat itu. Termasuk apa yang menyebabkan kamu menangis.
Della mengatakan padaku bahwa lelaki itu adalah Martin. Martin? Apa?! Anak hukum? Apa yang sedang dia lakukan dengan gadisku? Dia kan beda fakultas? Della tidak bisa menjawab pertanyaanku. Dia waktu itu cuma minta aku untuk kasih waktu ke kamu untuk menyelesaikan masalahnya. Masalah apa?

MARTIN
            Amanda sayangku... Malam ini aku kan bertemu kamu lagi. Apakah kamu masih bisa memaafkan diriku. Setelah aku meninggalkanmu tanpa kabar berita dan kembali lagi untuk mengharapkan cintamu disaat sudah ada Doni disisimu.
Kita jadian waktu kamu masih semester dua. Sedangkan aku semester enam. Aku bahagia sekali waktu itu bisa berjalan bersama gadis yang menjadi incaran anak-anak Komunikasi. Jarang sekali anak Hukum yang bisa jadian dengan anak Komunikasi. Mungkin karena anak Hukum cenderung lebih ‘lusuh-lusuh’ dibandingkan anak Komunikasi yang lebih ‘bersih’ dan chic.
Setahun jadian dengan kamu adalah saat-saat terindah dalam hidupku, sebelum kejadian buruk itu menimpa keluargaku. Ibuku terganggu jiwanya karena ayahku ternyata mempunyai wanita simpanan. Atas saran keluarga ibuku, beliau akan dimasukkan di rumah sakit jiwa yang ada di daerah Jogja. Katanya di sana lebih sejuk dan akan lebih mudah bagi ibuku untuk mengembalikan kesehatan mentalnya.
Tanpa kabar atau mengirim pesan padamu, aku meninggalkan Jakarta. Aku malu atas keadaan keluargaku. Marah pada ayahku, juga kasihan pada ibuku. Kuliahku pun pindah ke Jogja. Disana ada satu universitas yang bisa menerimaku tanpa aku harus mengulang kuliah lagi dari semester awal.
Berpuluh SMS darimu tidak kubalas. E-mail darimu juga tak satupun kubaca. Semuanya masih tersimpan rapi di mailbox e-mailku. Aku meninggalkanmu saat itu dengan hati yang perih.

DELLA
            Salah Martin juga sih saat itu meninggalkan Manda tanpa kabar berita. Berhari-hari Manda tidak mau keluar dari kamar kostnya untuk kuliah. Keluar kamar paling hanya untuk ke kamar mandi, beli makan di warung, terus masuk lagi ke kamar. Sampai teman-teman kost harus menariknya paksa dari kamar dan mendudukkannya di depan cermin besar yang ada di ruang tamu.
Manda, wajahmu saat itu kuyu sekali. Teman-teman bilang kamu itu punya wajah cantik. Sayang kalo hanya disimpan di kamar terus, tak terawat. Banyak laki-laki yang dengan senang hati menggantikan posisi Martin di hatimu.
Namun, ternyata tak ada yang dapat menggantikan Martin lagi. Memang kamu kembali menjadi gadis yang ceria dan menarik. Tapi aku tahu bahwa kamu menjadikan hatimu beku sedingin es. Aku yang kasihan padamu kemudian mulai menjodohkanmu dengan Doni.
Ternyata kesabaran, ketulusan dan perhatian yang diberikan Doni berhasil membuat hatimu mencair. Tiga tahun setelah kepergian Martin, kamu mulai membuka hatimu. Pada Doni memang aku tidak menceritakan tentang Martin. Aku berharap Manda sendiri yang akan cerita tentang ini ke Doni.

AMANDA
            Kabar terakhir yang kudengar, ibu Martin sudah sembuh dan mulai bisa menjalani kehidupan secara normal. Beliau tetap tinggal di Jogja. Teman-teman bilang, Martin sudah kembali lagi ke Jakarta karena pekerjaan. Aku tahu tentang keadaan ibunya yang terganggu jiwanya juga dari mulut Martin sendiri.
Waktu itu aku sedang duduk di bangku taman belakang kampusku. Tempat favorit aku duduk sambil membaca buku. Aku menemukan tempat asyik ini bersama Martin. Biasanya kita saling menceritakan aktivitas masing-masing di tempat ini. Setelah Martin pergi tanpa berita, hanya Doni yang kubiarkan menempati tempat disebelahku ini. Bangku yang hanya muat untuk dua orang ini tak kuijinkan untuk ditempati orang lain selain Martin dan Doni.
Kertas-kertas yang sedang kutulisi tugas kuliah tiba-saja saja terbang terkena angin. Aku kelabakan memunguti kertas-kertas itu ketika tiba-tiba saja ada tangan yang memegang pundakku dari belakang. Astaga! Aku tak sanggup mengatakan apapun ketika menoleh ke belakang. Wajah yang sangat kurindukan selama tiga tahun lebih. Wajah yang selalu hadir di setiap mimpiku. Kemudian suaranya ketika mengucapkan namaku... adalah suara yang selalu kurindukan untuk kudengar.
Martin. Kenapa tiba-tiba kau hadir kembali di kehidupanku setelah aku sudah hampir berhasil melupakanmu? Tiba-tiba kamu memelukku dan aku pun mulai menangis. Rasanya hatiku menjadi hangat hanya karena sebuah pelukan.
Kemudian kamu membimbingku untuk duduk dan mulai meminta maaf karena telah meninggalkanku. Aku masih terlalu syok dengan kedatanganmu. Di sela-sela isak tangisku, aku hanya bisa mendengar bahwa alasanmu pergi adalah karena kesehatan mental ibumu. Selebihnya aku hanya ingat kalau Della menghampiriku dan kemudian berbicara denganmu, kemudian meninggalkanku lagi berdua denganmu.

DONI
            Setelah aku melihatmu menangis di taman, kebiasaanmu mulai berubah. Kamu tidak mau lagi duduk di bangku taman belakang. Bangku favoritmu. Kamu juga tak mau lagi makan di resto favoritmu, menyantap sup asparagus kesukaanmu bersamaku. Bahkan kamu tidak lagi meminjam VCD di tempat rental yang biasanya. Kamu beralih ke tempat rental yang hampir dua kilometer jauhnya dari kostmu. Aku tidak masalah sih menemanimu kemana pun kamu mau pergi. Tapi perubahan ini begitu mendadak. Tepat setelah kejadian kamu menangis di taman.
            Berulang kali aku menanyakan siapa lelaki itu, yang bersamamu di taman waktu kamu menangis. Kamu hanya mengatakan kalau dia adalah teman lama dan kamu menangis karena matamu kemasukan debu. Della yang kutanya mengenai masalah ini juga tak mengatakan apapun. Dia menyuruhku menanyakannya sendiri padamu.
            Teman-teman kampus yang kutanya juga tak banyak tahu tentang siapa laki-laki itu. Ada satu anak Komunikasi yang mengatakan bahwa itu mungkin saja Martin, mantan kekasihmu. Bodohnya, aku memang tidak pernah menanyakan masa lalu Manda, siapa saja kekasihnya atau pun apa alasan Manda putus dengan mereka. Aku anggap itu adalah masa lalu Manda.
            Aku hanya percaya saja bahwa Manda tidak akan mengkhianatiku. Aku sangat yakin dia hanya mencintaiku seorang. Sikapnya padaku tidak berubah. Hanya kebiasaannya saja yang berubah. Sampai kemudian sebulan sebelum acara wisuda kami berdua, Amanda memutuskanku.
            Kita putus saja ya, Don. Kalimat yang membuatku terhenyak cukup lama di ruang tamu kost Manda. Apa aku tidak salah dengar? Kita berdua tidak sedang bertengkar. Bahkan bisa dibilang hubungan kami berdua baik-baik saja. Aku bahkan baru saja mengantarmu pulang setelah makan malam berdua. Malam itu kamu terlihat sangat cantik dengan gaun biru dan cardigan putih.
            Apa ada laki-laki lain, Manda? Manda hanya terdiam dan menitikkan air mata. Aku peluk dia dan dia pun mulai bercerita tentang Martin. Tentang bagaimana Martin dulu meninggalkannya dan begitu terpuruknya dia. Juga bagaimana aku telah dapat membuatnya jatuh cinta lagi.
            Tapi sayangnya ternyata Manda masih mencintai Martin juga. Selama ini dia berusaha menekan perasaan ini dihatinya. Kemunculan Martin di taman menyadarkan Manda bahwa ternyata selain mencintai diriku, dia juga mencintai Martin. Dia tidak bisa memilih antara aku atau Martin. Karena itu dia ingin memutuskanku, tapi juga tidak ingin menjalin hubungan dengan Martin.
            Karena itu pula kebiasaannya ada yang berubah. Ternyata taman tempat aku dan Manda biasa membaca buku bersama adalah tempat dia dan Martin saling menceritakan aktivitas masing-masing. Restoran tempat aku dan Manda biasa makan sup asparagus adalah tempat dia dan Martin juga biasa makan sandwich bakar berdua. Dan bisa ditebak bahwa rental VCD itu adalah tempat dimana Martin biasanya menemani Manda menyewa VCD.

AMANDA
            Semenjak Martin menemuiku di taman, hatiku jadi tidak menentu. Martin mengatakan padaku bahwa dia masih mencintai dan mengharapkanku. Padahal saat itu aku sedang menjalin hubungan dengan Doni. Aku katakan padanya bahwa aku tidak bisa menerima dia kembali setelah dia meninggalkanku tanpa kabar berita.
            Setelah pertemuan itu, aku tidak pernah bertemu Martin lagi. Martin kadang-kadang masih meng-SMSku. Tapi tidak pernah kubalas. Aku merasa tidak enak pada Doni. Pertemuan dengan Martin juga membuatku sadar bahwa aku masih membawa bayang-bayang dirinya dalam hubunganku dengan Doni.
Aku putuskan bahwa aku akan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang biasa kujalani dengan Martin dan Doni dan membuat kebiasaan baru. Mungkin dengan begitu aku bisa berpikir jernih dan memutuskan untuk mencintai siapa, atau lebih mencintai siapa dibanding siapa.
Ternyata sampai sebelum wisuda aku masih belum bisa memutuskan. Akhirnya aku memilih untuk mengakhiri hubunganku dengan Doni. Aku tidak bisa bersamanya saat bayang-bayang Martin masih hadir dalam hatiku.
Doni tidak bisa menerima keputusanku ini dan menyalahkan Martin atas semua yang terjadi. Aku berusaha keras untuk meyakinkan dia bahwa ini bukan kesalahan Martin. Ini semua adalah karena diriku tidak dapat memilih salah satu dari kalian. Aku mencintai Martin. Aku juga mencintai Doni.

DONI
            Halo sayang. Sudah sampai mana? Oh, masih di rumah nunggu Manda. Ya sudah, jangan terlalu buru-buru. Take time. Aku lagi di jalan nih, menuju tempat reuni. Sampai ketemu di sana ya.

DELLA
            Barusan telepon dari Doni. Manda gak tahu kalau sudah tiga bulan ini aku jalan bareng Doni. Kita ketemu di acara ulang tahun kantor. Ternyata kita kerja di perusahaan yang sama, tapi beda cabang. Doni mungkin masih belum bisa melupakan Manda, tapi dia sudah berusaha untuk memulai hidup baru bersamaku. Bahkan kemarin dia mengajakku bertemu dengan Martin dan mengatakan padanya bahwa Manda masih sangat mencintai Martin, dan bahwa mereka ditakdirkan bersama.
            Malam ini Martin akan berusaha untuk membuka lagi lembar cinta yang baru bersama Manda. Mereka berdua sudah terlalu lama dipisahkan oleh waktu. Hmm... semoga Manda bisa menerima Martin lagi. Aku yakin dia masih mencintai Martin.

AMANDA
            Martin... Doni.... Martin... Doni.... 


*Christie Nathalia*