Yesus tersayang… apa kabar? Sebentar lagi hari natal. Biasanya setiap natal datang aku selalu berkumpul dengan keluargaku. Tapi saat ini begitu berbeda. Aku sendirian di rumah ini, Yesus. Tidak ada ayah, ibu dan kakakku yang selalu menyayangiku. Tidak ada yang menemani memasang pohon natal. Tidak ada lagi yang memberikan kecupan selamat natal di keningku. Rasanya begitu sepi dan hampa semenjak pembunuh-pembunuh itu datang ke rumahku untuk merenggut nyawa orang-orang yang kucintai. Seandainya saat itu aku tidak sedang menginap di rumah temanku, Eva, pasti aku telah ikut terbunuh.
Seringkali aku menyesal kenapa malam itu sampai menginap di rumah Eva. Aku ingin ikut mati saja dengan mereka. Setelah kejadian itu aku begitu terguncang sampai harus dibawa ke psikiater untuk mengobati jiwaku yang terluka. Dorongan dari keluarga dan teman-teman terdekatlah yang membuatku tetap bertahan hidup selama tujuh bulan ini.
Selama tujuh bulan pula aku setiap hari sibuk mengutuk para pembunuh-pembunuh itu, yang sampai sekarang belum tertangkap juga. Aku sibuk memikirkan sakit hatiku, sampai tanpa terasa aku mulai lupa denganMu. Aku lupa untuk berdoa dan menyapaMu. Bahkan aku pun mulai menyalahkanMu atas semua kejadian buruk yang kualami.
Sampai pada awal Desember ini aku dengan berat hati menemani Eva mengaku dosa di gereja. Entah mengapa, hatiku tergerak juga ingin masuk ke ruang pengakuan. Awalnya aku bingung ingin berkata apa pada pastor. Akhirnya aku mengakui bahwa selama ini merasa begitu benci pada pembunuh-pembunuh itu. Aku ingin mereka dihukum mati. Aku begitu ingin menghakimi mereka. Aku ingin pastor juga ikut setuju pada apa yang kurasakan. Tapi nyatanya dia hanya membacakan dari Yohanes 12:46-47: “Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan. Dan jikalau seorang mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, Aku tidak menjadi hakimnya, sebab Aku datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya.”
Saat itu juga aku langsung tertegun mendengar ayat itu. Ternyata selama ini aku telah tinggal di dalam kegelapan dengan membiarkan rasa benci menguasai hatiku. Aku begitu mengutuk para pembunuh itu, padahal Engkau sendiri datang ke dunia ini untuk menyelamatkan, bukan untuk menghakimi. Siapapun akan Kau selamatkan. Tak peduli seberapa berat dosanya. Kejadian buruk yang kualami pun adalah bagian dari rencanaMu untuk menyelamatkan dunia.
Sebentar lagi natal. Aku ingin semua orang di seluruh penjuru dunia dapat merasakan terangMu dan tidak tinggal dalam kegelapan. Yesus, aku serahkan seluruh hidupku ke dalam tanganMu. Seluruh bagian kehidupanku yang buruk maupun indah, karena aku ingin terus berada dalam terangMu.
With love,
Lia
No comments:
Post a Comment