“Payungnya, Kak.” Aku langsung tersadar dari lamunanku. Didepanku ada seorang anak kecil berbaju merah lusuh dan tidak mengenakan alas kaki menawarkan ojek payung.
“Oh, terima kasih. Tapi Kakak masih menunggu teman,” sahutku. Sekarang sudah jam 2 siang. Temanku sepertinya masih lama datangnya padahal sudah ½ jam berlalu dari bel pulang sekolah. Kulihat lagi anak kecil itu. Sepertinya dia sangat mengharapkan ada yang menerima ojek payungnya. Sesekali dia kulihat melirik ke plastik merah yang ada ditanganku. Didalamnya memang ada roti isi coklat. Mungkin dia lapar…
“Dek, kesini sebentar,” aku memanggilnya.
“Ini ada roti untuk kamu. Ambil saja. Kamu lapar, kan,” tanyaku.
“Terima kasih, Kak,” sahutnya. Kemudian dia berlari menemui seorang anak laki-laki yang sama-sama menjadi pengojek payung. Roti yang kuberikan ternyata dia berikan lagi untuk anak itu.
“Itu adik kamu,” tanyaku saat dia kembali.
“Bukan. Itu teman saya. Rotinya boleh saya berikan untuk dia, kan Kak,” tanyanya.
“Boleh aja,” jawabku.
“Tapi bukannya kamu juga lapar? Kok rotinya tidak kamu makan saja?”
“Saya udah makan tadi pagi,” jawab anak itu.
“Makan siangnya kan belum,” tanyaku lagi.
“Ah, tapi mendingan buat temen saya aja. Dia belum makan dari pagi tadi.”
Tiba-tiba saja aku merasa terharu. Anak ini masih kecil. Mungkin kalau sekolah masih duduk di kelas 4 SD, tapi dia sudah sangat memahami apa artinya berbagi. Dan dia berbagi bukan dari kelebihannya tapi dari kekurangannya. Kemiskinan dan kekurangan justru menjadi alasan bukan penghalang bagi anak itu untuk saling menolong dan memberi.
Aku teringat kata-kata Ibu Teresa dari Kalkuta, “Penderitaan membuat orang peka terhadap penderitaan orang lain. Dan hanya mereka yang pernah menderita bisa menolong sesamanya yang menderita, sehabis-habisnya.”
Terima kasih, ya adik kecil. Kamu sudah memberi pelajaran yang berharga siang ini. Kehadiran dirimu di sekolah ini memberi nuansa berbeda diantara teman-temanku yang tiap hari pergi main ke mall dan clubbing ke Embassy (tempat favorit para clubbers di Jakarta-red) setiap weekend. Padahal uang yang mereka gunakan itu bisa membantu teman-teman lain yang kekurangan.
Hidup ini pendek, temanku. Kejarlah kasih Allah di dalam hidupmu dengan memberikan kasih kepada orang-orang yang berkekurangan. Dan jangan beralasan, “Aku masih masih muda,” (1 Timotius 4:12) atau “Aku akan melakukannya nanti kalau sudah dewasa.” Karena tindakan kasih pada orang yang kekurangan tidak dapat kau tunda (Sirakh 4:3). Jadikan hidupmu lebih hidup bagi dirimu sendiri maupun orang lain.
1 comment:
yup you can rise yourself and be more
Post a Comment