Sunday, July 18, 2004

Positif versus Negatif

Pernahkah kalian lagi ngerasa bete lalu rasanya orang-orang
di sekitar kalian menjadi menyebalkan semuanya? Atau buat yang lagi putus cinta, hidup rasanya tak bermakna tanpa kehadiran sang kekasih (ceilah… gombal banget!-red). Apa pun itu, yang jelas perasaan negatif yang kita rasakan itu terbawa juga ke cara pandang kita. Dunia yang tadinya penuh warna, sekarang menjadi seperti foto black and white.

Sebuah penelitian mengatakan bahwa apa yang kita rasakan akan sampai ke otak, dan kemudian otak akan mengirimkan pesan ke seluruh tubuh. Jadi apabila kita merasa sedih, maka otak akan mengirimkan pesan ke mata supaya menangis, tubuh menjadi lemas. Sedangkan apabila kita lagi marah dan bete, secara otomatis tubuh kita jadi terasa tegang, kepala tiba-tiba jadi pusing, dan lain-lain.

Untuk mengatasi perasaan-perasaan negatif itu, semuanya tergantung dari sikap mental yang kita ambil. Sikap mental itu nantinya akan menentukan dunia seperti apa yang kita pilih. Kita bisa selalu happy dan mencapai sukses besar, atau menjalani hidup sengsara yang tidak punya harapan. Pilihannya ada di tangan kita.

Sikap mental itu harus diubah dari dalam ke luar. Mulai dari diri
sendiri. Sebanyak apapun nasehat yang kita terima, tidak akan bermanfaat apabila diri kita sendiri tidak mau berubah. Selain itu kita juga harus bersikap terbuka terhadap segala pemikiran orang lain. Sikap tertutup akan membangun benteng antara kita dengan dunia luar. Akibatnya kita tidak dapat menyerap energi positif dari orang-orang disekeliling kita.

Saya pernah berkenalan dengan seseorang yang bersikap tertutup terhadap pemikiran orang lain. Dia bersikap begitu karena kalau dia berubah dan mengikuti pemikiran orang lain, maka dia tidak menjadi dirinya sendiri. Salah satu contohnya adalah, ketika saya mengatakan padanya untuk sedikit berbasa-basi ketika berbicara dengan orang yang lebih tua, dia mengatakan tidak biasa seperti itu. Dan kalau dia berbasa-basi berarti dia tidak menjadi dirinya sendiri yang selalu berkata apa adanya. Akibatnya sekarang di lingkungan tetangganya dia menjadi pribadi yang tidak begitu disukai.

Karena itu pilihan untuk bersikap mental positif ada di tangan kita masing-masing. Apakah kita mau memandang segala sesuatu dari sisi negatif? Atau mencari segi positif dari setiap kejadian yang kita alami? Jika kita memilih untuk mengembalikan hidup di jalur yang positif, kita akan mengubah hidup menjadi lebih baik. Kita juga akan secara positif mempengaruhi orang-orang yang berhubungan dengan kita. Dengan begitu kita juga turut menjadi terang dunia.
“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik, dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5:16.

No comments: