Aku nggak keterima kerja di sebuah koran nasional terbesar. Sebagai wartawan atau reporter mula. Info ini kudapat dari teman yang juga ikut test. Sore tadi dia ditelepon bagian HRD, sedangkan aku tidak. Dari awal seharusnya aku sadar ya kalo jadi wartawan kayaknya gak mungkin buat aku. Teman-teman pelamar lainnya sudah bekerja sebagai wartawan- di berbagai media. Sedangkan aku? P
Pengalaman pertamaku menulis dimulai saat masih kelas 1 SMP lewat ekstrakulikuler Majalah. Waktu itu aku lebih banyak menulis puisi untuk ditempel pada Mading sekolah. Untuk majalah versi cetaknya aku malah lebih banyak memberi ilustrasi gambar. Kemudian saat kuliah aku mendapat kesempatan untuk membuat bulletin mudika di gerejaku. Pada saat itu aku menjabat sebagai Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi Mudika Paroki dan ide membuat bulletin berasal dari bidangku. Walaupun hanya sempat mengeluarkan 2 edisi, aku kembali bergabung di bulletin tersebut pada masa kepengurusan selanjutnya.
Di bulletin mudika yang baru ini setiap bulannya aku harus menghasilkan paling tidak satu tulisan. Hal ini membuatku mulai terbiasa menulis. Menulis rasanya sangat menyenangkan. Apalagi menjelang deadline, ide-ide biasanya malah baru muncul he he he… Selama dua tahun tulisan-tulisanku bisa dibaca oleh banyak orang. Selama dua tahun pula aku bisa melihat bagaimana reaksi dan komentar orang terhadap tulisanku. Ada yang bilang bagus, menyentuh, memberi informasi. Ada juga yang bilang membosankan. Semua komentar kutampung dengan baik dan kujadikan cambuk untuk terus menulis.
Proses menulisku mengalami kemandegan ketika aku bekerja di Jogja. Aku gak punya computer di kost-kostan, sedangkan aku terbiasa menulis pakai computer. Bolpoint dan kertas tidak berguna banyak untukku. Tapi untuk tugas-tugas kantor aku masih dapat menggunakan kemampuan menulisku. Untuk membuat peraturan perusahaan dan peraturan-peraturan baru, juga saat menulis proposal untuk membuat kegiatan kantor. Seandainya bos-ku memperbolehkanku mengerjakan tulisan setelah jam kantor.. tapi dia selalu berpendapat lembur itu tidak baik. Kalau bisa semua pekerjaan selesai pada jam lima sore. Setelah itu pulang dan istirahat di rumah.
Kemudian setelah aku kembali ke Jakarta setelah melepaskan pekerjaan di Jogja, aku membaca sebuah iklan lowongan menjadi wartawan atau reporter mula. Di situ tertulis prasyarat aktif di kegiatan penulisan di kampus. Menurutku ini kesempatan bagus untuk kembali menulis, apalagi bekerja dalam bidang penulisan. Karena biasanya iklan-iklan yang mencari reporter menginginkan mereka yang sudah berpengalaman kerja sebagai reporter, sedangkan pengalaman kerjaku kemarin adalah sebagai personalia.
Tes pertama adalah wawancara awal dengan bagian HRD dan staf redaksi. Aku lolos wawancara awal. Selama seminggu kedepan berikutnya aku mengikuti tes bahasa dan psikotest. Aku lolos lagi. Pelamar-pelamar yang lain sebagian besar sedang bekerja sebagai wartawan di media massa lain. Pada saat tes kesehatan aku baru tahu bahwa 8 orang dari 12 pelamar yang lolos ke tahap test kesehatan adalah wartawan-wartawan yang masih kerja di media. Gosh! Pengalaman mereka pasti sudah banyak sekali, dibandingkan aku yang bisa dibilang masih nol di bidang penulisan media massa.
Saat itu aku hanya berpikir bahwa akan selalu ada saat pertama bagi setiap orang dalam menjalani sesuatu. Ada saat pertama kita belajar berbicara, ada saat pertama kita berpacaran, ada juga saat pertama kita nabrak orang waktu naik motor. Selalu ada saat pertama dalam segala hal, entah itu buruk atau baik. Intinya aku merasa bahwa selalu ada saat pertama bagiku untuk menjadi reporter. Apalagi di lowongan tertulis bahwa koran nasional tersebut mencari reporter mula dan akan diberi pendidikan menulis.
Setelah test kesehatan ada wawancara terakhir dengan dewan redaksi, staf diklat, dan staf HRD. Pengumuman diterima atau tidaknya sebagai wartawan paling tidak ya akhir minggu ini. Karena minggu depan sudah mulai pendidikan. Ternyata sampai malam ini aku tidak mendapat telepon dari bagian HRD koran tersebut. Sedangkan temanku yang lain sudah ditelpon. Rasanya sedih banget. Aku pengen nangis, tapi untuk apa. Tokh semua sudah ada jalannya masing-masing. Selalu ada saat pertama mengalami kegagalan wawancara. Kalau aku tidak diterima bekerja di koran nasional tersebut mungkin memang belum waktunya.
Aku tidak tahu setelah ini bekerja sebagai apa karena semenjak melamar di koran tersebut, seluruh konsentrasiku tercurah untuk proses seleksi. Pada saat kita gagal selalu ada saat pertama untuk bangkit kembali. Setelah ini mungkin aku akan melamar sebagai designer interior. What? Kamu kan ga ada background sama sekali di bidang design. Ha ha ha… namanya juga bermimpi. Siapa tahu suatu hari nanti ada yang membiarkanku memulai saat pertama sebagai wartawan, designer, call center girl, hakim. Whatever!
No comments:
Post a Comment