What happen to Indonesia? Akhir-akhir ini kok banyak sekali bencana yang terjadi. Terus terang lama-lama aku seperti mati rasa saja. Pada Desember 2004 Aceh dihajar oleh tsunami. Sedih banget rasanya. Walaupun aku belum pernah kesana, tapi aku cukup punya alasan untuk bersedih. Beberapa bulan sebelum bencana tsunami terjadi di Aceh, aku membantu teman-temanku di sebuah INGO untuk mengumpulkan sumbangan berupa buku-buku pelajaran dan bacaan untuk anak-anak Aceh. Berbagai macam cara aku coba untuk memperoleh sumbangan, lewat e-mail, pengumuman di gereja, dan dari mulut ke mulut.
Buku-buku itu aku tata dan bungkus bersama ibuku. Di setiap buku itu ada doa yang terucap dari para penyumbang untuk anak-anak Aceh. Di setiap jahitan tali raffia yang membungkus kardus buku-buku ada tetes keringat kami bagi keberhasilan anak-anak dalam belajar. Tujuh kardus kemudian sampai di Aceh pada bulan Nopember 2004, sebelum hari raya Idul Fitri. Tidak sampai dua bulan mungkin anak-anak di Aceh sempat menikmati buku-buku itu dan terjadi tsunami yang menghapus mimpi-mimpi mereka untuk menjadi orang pintar. Oh Tuhan… aku sampai tidak bisa menguapkan apapun saking sedihnya. Betapa pilu hati ini. Begitu banyak yang hancur, begitu banyak yang terhempas, begitu banyak kedukaan.
Selama setahun setelah bencana tsunami, aku bekerja di Jogja. Lewat teman-teman sebuah INGO yang berkantor pusat di Jogja, aku mendapat banyak informasi tentang perkembangan pemulihan Aceh dan juga Nias (yang beberapa bulan setelah tsunami mengalami gempa). Penduduk di sana mulai bisa bangkit, memulihkan ekonomi dan terutama memulihkan jiwa yang terguncang.
Tinggal di Jogja membuatku jatuh cinta pada kota ini. Penduduknya ramah, makanannya murah dan enak, tidak macet, kemana-mana bisa naik motor, dan banyak alasan lagi. Kantorku yang di daerah Bantul mempunyai karyawan yang sebagian besar berumah di Bantul. Jogja terdiri dari 4 kabupaten dan 1 kotamadya. Karekteristik orang-orang kabupaten Bantul berbeda dengan kota Jogja.
Gempa bumi yang terjadi di Jogja terjadi setelah aku kembali ke Jakarta. Gempa yang mengoyak-ngoyak permukaan bumi. Meluluhlantakkan bangunan-bangunan rapuh para penduduk desa. Korban bencana kali ini tentu berbeda dengan tsunami di Aceh. Apabila di Aceh banyak korban yang meninggal, di Jogja banyak sekali yang terluka. Korban yang terluka ini membutuhkan penanganan yang lebih lama. Teman-teman kantorku banyak yang menjadi tunawisma saat ini. Padahal mereka adalah orang dari golongan pas-pasan. Gaji pas untuk makan saja. Untuk nabung juga jarang bisa.
Herannya pemerintah kok lambat sekali mengatasi masalah bencana ini. Banyak yang kelaparan, kedinginan, luka-luka karena bantuan terlambat datang ke tempat mereka berada. Dana untuk makan penduduk saja ada yang dipotong oleh kepala desanya. Duh, Gusti. Terkutuklah mereka yang mencari keuntungan di dalam kesengsaraan orang lain dan biarkan Tuhan yang melakukannya, karena itu adalah hakNya. Pemerintah kok seperti kotoran di jamban yang dengan sekali pencet tombol jamban maka akan hilang dan berkumpul dengan kotoran-kotoran lain di sungai. Layak dibuang karena tidak berguna.
Bencana yang paling parah di Indonesia sebenarnya adalah bencana hutang. Pemerintah kita suka sekali berhutang. Hutang luar negeri kita begitu bertumpuk. Untuk membayar hutang yang lama, pemerintah berhutang lagi. Dana-dana yang seharusnya dipakai untuk mensejahterakan rakyat digunakan untuk membayar hutang. Bukan tidak mungkin juga bahwa dana bantuan yang diberikan Indonesia untuk negara tetangga adalah juga hasil dari hutang.
Arrggh!!!! Aku marah-marah begini juga cuma nambahin dosa buat diri sendiri. Antara kesedihan dan kemarahan jadi satu. Jadi sorry aja kalau ada yang tersinggung setelah membaca tulisan ini. Gak perlulah masukin aku ke penjara yang kemudian cuma menuh-menuhin aja akhirnya. Lebih baik kita lakuin sesuatu yang lebih berguna. Mulai dari menyetop kebiasaan korupsi. Tunjangan untuk pejabat juga sebaiknya ditiadakan. Uangnya bisa untuk bayar hutang. Stop penjualan mobil mewah dan baju-baju bermerk! Rakyat Indonesia masih banyak yang harus menempuh jarak berkilo-kilo meter untuk menuju pasar dari rumahnya, dengan berjalan kaki. Punya 5 stel baju saja sudah bagus untuk mereka, apalagi untuk pakai baju bermerk.
Kita sebagai rakyat Indonesia yang hidup di kota yang bisa menikmati enaknya ngopi di gerai kopi dari luar negeri harusnya malu. Nasi yang kita makan sehari-hari berasal dari orang-orang yang hanya bisa menikmati kopi di tepi sawah. Itu pun juga setelah beras-beras mereka bersaing harga dengan beras-beras yang dimport oleh pemerintah. Gaji yang kita dapatkan setiap bulan mungkin lebih baik 20% dipotong dan dimasukkan ke dana sosial untuk rakyat. Dana tersebut bisa digunakan untuk kesejahteraan masyarakat dan sebaiknya TIDAK dikelola oleh pemerintah.
Aku memimpikan adanya sekolah gratis dan juga rumah sakit gratis untuk rakyat. Tetapi bukan sekolah gratis yang beratap langit dan gurunya hanya satu untuk dua kelas. Sekolah yang bangunannya baik, perpustakaan lengkap, gurunya pun banyak dan sejahtera. Anak-anak belajar untuk ilmu pengetahuan, bukan untuk mengejar nilai kelulusan Ujian Nasional. Rumah sakit gratis juga harus lebih banyak sehingga mudah dijangkau rakyat dan dokter-dokter dari kota juga sebaiknya mau ditempatkan di daerah (tidak mengejar balik modal karena biaya sekolah dokter yang mahal).
Kapan ya bisa seperti itu? Kapan ya Tuhan, dunia ini menjadi sempurna seperti impian banyak orang? Sepertinya tidak akan bisa menjadi sempurna, tapi kita dapat mengusahakan agar dunia kita bisa menyerupai sempurna. Terlalu idealis? Jawabannya ada di hati kita masing-masing.
No comments:
Post a Comment