Friday, October 27, 2006

ELEGI AMANDA

“Del, sudah siap belum?”
“Belum. Ntar lagi deh. Kamu duluan aja ke bawah. Aku masih harus nge-blow rambut dulu.“
“Ok, aku tunggu di bawah aja ya. Sambil manasin mobil. Tadi pagi belum dipake, kan?”
“Yup. Jangan lupa bawa kadonya sekalian ke mobil!”

DELLA
Kasihan Amanda. Dia pasti sulit untuk datang ke pesta kawinan Vieta dan Ryan malam ini. Dari tadi di kamar sudah satu jam lebih. Padahal biasanya dia cuma ngabisin waktu paling lama setengah jam untuk merias dirinya. Pasti dia lagi bingung untuk jadi pergi atau tidak.
Malam ini Manda akan bertemu dengan Martin dan Doni. Mantan-mantan Manda yang masih... ya mungkin masih bisa dibilang dicintai Manda. Dulu kami berempat kuliah di kampus yang sama. Martin di Hukum. Doni di Tehnik. Sedang aku dan Manda di Komunikasi. Vieta adalah teman Manda dan aku. Dia juga kenal dengan Martin. Sedangkan Doni datang karena diundang Ryan. Mereka dari semenjak kuliah dulu sudah berteman akrab.

AMANDA
            Duh, Tuhan. Andaikan aku tidak harus pergi malam ini. Pasti Martin dan Doni datang ke pesta nanti.Martin... apa dia masih ingat aku setelah lima tahun gak ketemu. Sekarang aku nggak lagi memakai kacamata. Rambutku pun sudah panjang. Dulu kamu kan selalu ingin aku berambut panjang.
            Doni... dengan segala kesederhanaan, kesabaran dan hatimu yang baik, membuatku tak bisa melupakanmu. Bukan berarti Martin lebih baik darimu. Tapi kalian masing-masing mempunyai kelebihan yang saling melengkapi. Kriteria laki-laki yang aku impikan ada di kalian berdua.

DONI
            Manda... adakah dirimu masih seindah dulu. Dulu ketika kamu masih memberikan cintamu padaku seorang. Aku yang mencintaimu dengan tulus bahkan tidak bisa menyadari bahwa kamu ternyata juga mencintai Martin.
Waktu itu aku dan kamu sudah menjalin hubungan selama enam bulan ketika pada suatu sore aku melihat kamu sedang duduk di bangku taman belakang kampusmu. Ada seorang lelaki disebelahmu. Aku tidak tahu apa yang sedang kalian bicarakan. Yang jelas, pada saat itu kamu menangis. Kalau saja pada saat itu Della tidak menarikku ke kantin, pasti aku sudah tahu apa yang sedang kalian bicarakan saat itu. Termasuk apa yang menyebabkan kamu menangis.
Della mengatakan padaku bahwa lelaki itu adalah Martin. Martin? Apa?! Anak hukum? Apa yang sedang dia lakukan dengan gadisku? Dia kan beda fakultas? Della tidak bisa menjawab pertanyaanku. Dia waktu itu cuma minta aku untuk kasih waktu ke kamu untuk menyelesaikan masalahnya. Masalah apa?

MARTIN
            Amanda sayangku... Malam ini aku kan bertemu kamu lagi. Apakah kamu masih bisa memaafkan diriku. Setelah aku meninggalkanmu tanpa kabar berita dan kembali lagi untuk mengharapkan cintamu disaat sudah ada Doni disisimu.
Kita jadian waktu kamu masih semester dua. Sedangkan aku semester enam. Aku bahagia sekali waktu itu bisa berjalan bersama gadis yang menjadi incaran anak-anak Komunikasi. Jarang sekali anak Hukum yang bisa jadian dengan anak Komunikasi. Mungkin karena anak Hukum cenderung lebih ‘lusuh-lusuh’ dibandingkan anak Komunikasi yang lebih ‘bersih’ dan chic.
Setahun jadian dengan kamu adalah saat-saat terindah dalam hidupku, sebelum kejadian buruk itu menimpa keluargaku. Ibuku terganggu jiwanya karena ayahku ternyata mempunyai wanita simpanan. Atas saran keluarga ibuku, beliau akan dimasukkan di rumah sakit jiwa yang ada di daerah Jogja. Katanya di sana lebih sejuk dan akan lebih mudah bagi ibuku untuk mengembalikan kesehatan mentalnya.
Tanpa kabar atau mengirim pesan padamu, aku meninggalkan Jakarta. Aku malu atas keadaan keluargaku. Marah pada ayahku, juga kasihan pada ibuku. Kuliahku pun pindah ke Jogja. Disana ada satu universitas yang bisa menerimaku tanpa aku harus mengulang kuliah lagi dari semester awal.
Berpuluh SMS darimu tidak kubalas. E-mail darimu juga tak satupun kubaca. Semuanya masih tersimpan rapi di mailbox e-mailku. Aku meninggalkanmu saat itu dengan hati yang perih.

DELLA
            Salah Martin juga sih saat itu meninggalkan Manda tanpa kabar berita. Berhari-hari Manda tidak mau keluar dari kamar kostnya untuk kuliah. Keluar kamar paling hanya untuk ke kamar mandi, beli makan di warung, terus masuk lagi ke kamar. Sampai teman-teman kost harus menariknya paksa dari kamar dan mendudukkannya di depan cermin besar yang ada di ruang tamu.
Manda, wajahmu saat itu kuyu sekali. Teman-teman bilang kamu itu punya wajah cantik. Sayang kalo hanya disimpan di kamar terus, tak terawat. Banyak laki-laki yang dengan senang hati menggantikan posisi Martin di hatimu.
Namun, ternyata tak ada yang dapat menggantikan Martin lagi. Memang kamu kembali menjadi gadis yang ceria dan menarik. Tapi aku tahu bahwa kamu menjadikan hatimu beku sedingin es. Aku yang kasihan padamu kemudian mulai menjodohkanmu dengan Doni.
Ternyata kesabaran, ketulusan dan perhatian yang diberikan Doni berhasil membuat hatimu mencair. Tiga tahun setelah kepergian Martin, kamu mulai membuka hatimu. Pada Doni memang aku tidak menceritakan tentang Martin. Aku berharap Manda sendiri yang akan cerita tentang ini ke Doni.

AMANDA
            Kabar terakhir yang kudengar, ibu Martin sudah sembuh dan mulai bisa menjalani kehidupan secara normal. Beliau tetap tinggal di Jogja. Teman-teman bilang, Martin sudah kembali lagi ke Jakarta karena pekerjaan. Aku tahu tentang keadaan ibunya yang terganggu jiwanya juga dari mulut Martin sendiri.
Waktu itu aku sedang duduk di bangku taman belakang kampusku. Tempat favorit aku duduk sambil membaca buku. Aku menemukan tempat asyik ini bersama Martin. Biasanya kita saling menceritakan aktivitas masing-masing di tempat ini. Setelah Martin pergi tanpa berita, hanya Doni yang kubiarkan menempati tempat disebelahku ini. Bangku yang hanya muat untuk dua orang ini tak kuijinkan untuk ditempati orang lain selain Martin dan Doni.
Kertas-kertas yang sedang kutulisi tugas kuliah tiba-saja saja terbang terkena angin. Aku kelabakan memunguti kertas-kertas itu ketika tiba-tiba saja ada tangan yang memegang pundakku dari belakang. Astaga! Aku tak sanggup mengatakan apapun ketika menoleh ke belakang. Wajah yang sangat kurindukan selama tiga tahun lebih. Wajah yang selalu hadir di setiap mimpiku. Kemudian suaranya ketika mengucapkan namaku... adalah suara yang selalu kurindukan untuk kudengar.
Martin. Kenapa tiba-tiba kau hadir kembali di kehidupanku setelah aku sudah hampir berhasil melupakanmu? Tiba-tiba kamu memelukku dan aku pun mulai menangis. Rasanya hatiku menjadi hangat hanya karena sebuah pelukan.
Kemudian kamu membimbingku untuk duduk dan mulai meminta maaf karena telah meninggalkanku. Aku masih terlalu syok dengan kedatanganmu. Di sela-sela isak tangisku, aku hanya bisa mendengar bahwa alasanmu pergi adalah karena kesehatan mental ibumu. Selebihnya aku hanya ingat kalau Della menghampiriku dan kemudian berbicara denganmu, kemudian meninggalkanku lagi berdua denganmu.

DONI
            Setelah aku melihatmu menangis di taman, kebiasaanmu mulai berubah. Kamu tidak mau lagi duduk di bangku taman belakang. Bangku favoritmu. Kamu juga tak mau lagi makan di resto favoritmu, menyantap sup asparagus kesukaanmu bersamaku. Bahkan kamu tidak lagi meminjam VCD di tempat rental yang biasanya. Kamu beralih ke tempat rental yang hampir dua kilometer jauhnya dari kostmu. Aku tidak masalah sih menemanimu kemana pun kamu mau pergi. Tapi perubahan ini begitu mendadak. Tepat setelah kejadian kamu menangis di taman.
            Berulang kali aku menanyakan siapa lelaki itu, yang bersamamu di taman waktu kamu menangis. Kamu hanya mengatakan kalau dia adalah teman lama dan kamu menangis karena matamu kemasukan debu. Della yang kutanya mengenai masalah ini juga tak mengatakan apapun. Dia menyuruhku menanyakannya sendiri padamu.
            Teman-teman kampus yang kutanya juga tak banyak tahu tentang siapa laki-laki itu. Ada satu anak Komunikasi yang mengatakan bahwa itu mungkin saja Martin, mantan kekasihmu. Bodohnya, aku memang tidak pernah menanyakan masa lalu Manda, siapa saja kekasihnya atau pun apa alasan Manda putus dengan mereka. Aku anggap itu adalah masa lalu Manda.
            Aku hanya percaya saja bahwa Manda tidak akan mengkhianatiku. Aku sangat yakin dia hanya mencintaiku seorang. Sikapnya padaku tidak berubah. Hanya kebiasaannya saja yang berubah. Sampai kemudian sebulan sebelum acara wisuda kami berdua, Amanda memutuskanku.
            Kita putus saja ya, Don. Kalimat yang membuatku terhenyak cukup lama di ruang tamu kost Manda. Apa aku tidak salah dengar? Kita berdua tidak sedang bertengkar. Bahkan bisa dibilang hubungan kami berdua baik-baik saja. Aku bahkan baru saja mengantarmu pulang setelah makan malam berdua. Malam itu kamu terlihat sangat cantik dengan gaun biru dan cardigan putih.
            Apa ada laki-laki lain, Manda? Manda hanya terdiam dan menitikkan air mata. Aku peluk dia dan dia pun mulai bercerita tentang Martin. Tentang bagaimana Martin dulu meninggalkannya dan begitu terpuruknya dia. Juga bagaimana aku telah dapat membuatnya jatuh cinta lagi.
            Tapi sayangnya ternyata Manda masih mencintai Martin juga. Selama ini dia berusaha menekan perasaan ini dihatinya. Kemunculan Martin di taman menyadarkan Manda bahwa ternyata selain mencintai diriku, dia juga mencintai Martin. Dia tidak bisa memilih antara aku atau Martin. Karena itu dia ingin memutuskanku, tapi juga tidak ingin menjalin hubungan dengan Martin.
            Karena itu pula kebiasaannya ada yang berubah. Ternyata taman tempat aku dan Manda biasa membaca buku bersama adalah tempat dia dan Martin saling menceritakan aktivitas masing-masing. Restoran tempat aku dan Manda biasa makan sup asparagus adalah tempat dia dan Martin juga biasa makan sandwich bakar berdua. Dan bisa ditebak bahwa rental VCD itu adalah tempat dimana Martin biasanya menemani Manda menyewa VCD.

AMANDA
            Semenjak Martin menemuiku di taman, hatiku jadi tidak menentu. Martin mengatakan padaku bahwa dia masih mencintai dan mengharapkanku. Padahal saat itu aku sedang menjalin hubungan dengan Doni. Aku katakan padanya bahwa aku tidak bisa menerima dia kembali setelah dia meninggalkanku tanpa kabar berita.
            Setelah pertemuan itu, aku tidak pernah bertemu Martin lagi. Martin kadang-kadang masih meng-SMSku. Tapi tidak pernah kubalas. Aku merasa tidak enak pada Doni. Pertemuan dengan Martin juga membuatku sadar bahwa aku masih membawa bayang-bayang dirinya dalam hubunganku dengan Doni.
Aku putuskan bahwa aku akan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang biasa kujalani dengan Martin dan Doni dan membuat kebiasaan baru. Mungkin dengan begitu aku bisa berpikir jernih dan memutuskan untuk mencintai siapa, atau lebih mencintai siapa dibanding siapa.
Ternyata sampai sebelum wisuda aku masih belum bisa memutuskan. Akhirnya aku memilih untuk mengakhiri hubunganku dengan Doni. Aku tidak bisa bersamanya saat bayang-bayang Martin masih hadir dalam hatiku.
Doni tidak bisa menerima keputusanku ini dan menyalahkan Martin atas semua yang terjadi. Aku berusaha keras untuk meyakinkan dia bahwa ini bukan kesalahan Martin. Ini semua adalah karena diriku tidak dapat memilih salah satu dari kalian. Aku mencintai Martin. Aku juga mencintai Doni.

DONI
            Halo sayang. Sudah sampai mana? Oh, masih di rumah nunggu Manda. Ya sudah, jangan terlalu buru-buru. Take time. Aku lagi di jalan nih, menuju tempat reuni. Sampai ketemu di sana ya.

DELLA
            Barusan telepon dari Doni. Manda gak tahu kalau sudah tiga bulan ini aku jalan bareng Doni. Kita ketemu di acara ulang tahun kantor. Ternyata kita kerja di perusahaan yang sama, tapi beda cabang. Doni mungkin masih belum bisa melupakan Manda, tapi dia sudah berusaha untuk memulai hidup baru bersamaku. Bahkan kemarin dia mengajakku bertemu dengan Martin dan mengatakan padanya bahwa Manda masih sangat mencintai Martin, dan bahwa mereka ditakdirkan bersama.
            Malam ini Martin akan berusaha untuk membuka lagi lembar cinta yang baru bersama Manda. Mereka berdua sudah terlalu lama dipisahkan oleh waktu. Hmm... semoga Manda bisa menerima Martin lagi. Aku yakin dia masih mencintai Martin.

AMANDA
            Martin... Doni.... Martin... Doni.... 


*Christie Nathalia*

Friday, June 23, 2006

Selalu Ada Saat Pertama….

Aku nggak keterima kerja di sebuah koran nasional terbesar. Sebagai wartawan atau reporter mula. Info ini kudapat dari teman yang juga ikut test. Sore tadi dia ditelepon bagian HRD, sedangkan aku tidak. Dari awal seharusnya aku sadar ya kalo jadi wartawan kayaknya gak mungkin buat aku. Teman-teman pelamar lainnya sudah bekerja sebagai wartawan- di berbagai media. Sedangkan aku? P

Pengalaman pertamaku menulis dimulai saat masih kelas 1 SMP lewat ekstrakulikuler Majalah. Waktu itu aku lebih banyak menulis puisi untuk ditempel pada Mading sekolah. Untuk majalah versi cetaknya aku malah lebih banyak memberi ilustrasi gambar. Kemudian saat kuliah aku mendapat kesempatan untuk membuat bulletin mudika di gerejaku. Pada saat itu aku menjabat sebagai Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi Mudika Paroki dan ide membuat bulletin berasal dari bidangku. Walaupun hanya sempat mengeluarkan 2 edisi, aku kembali bergabung di bulletin tersebut pada masa kepengurusan selanjutnya.

Di bulletin mudika yang baru ini setiap bulannya aku harus menghasilkan paling tidak satu tulisan. Hal ini membuatku mulai terbiasa menulis. Menulis rasanya sangat menyenangkan. Apalagi menjelang deadline, ide-ide biasanya malah baru muncul he he he… Selama dua tahun tulisan-tulisanku bisa dibaca oleh banyak orang. Selama dua tahun pula aku bisa melihat bagaimana reaksi dan komentar orang terhadap tulisanku. Ada yang bilang bagus, menyentuh, memberi informasi. Ada juga yang bilang membosankan. Semua komentar kutampung dengan baik dan kujadikan cambuk untuk terus menulis.

Proses menulisku mengalami kemandegan ketika aku bekerja di Jogja. Aku gak punya computer di kost-kostan, sedangkan aku terbiasa menulis pakai computer. Bolpoint dan kertas tidak berguna banyak untukku. Tapi untuk tugas-tugas kantor aku masih dapat menggunakan kemampuan menulisku. Untuk membuat peraturan perusahaan dan peraturan-peraturan baru, juga saat menulis proposal untuk membuat kegiatan kantor. Seandainya bos-ku memperbolehkanku mengerjakan tulisan setelah jam kantor.. tapi dia selalu berpendapat lembur itu tidak baik. Kalau bisa semua pekerjaan selesai pada jam lima sore. Setelah itu pulang dan istirahat di rumah.

Kemudian setelah aku kembali ke Jakarta setelah melepaskan pekerjaan di Jogja, aku membaca sebuah iklan lowongan menjadi wartawan atau reporter mula. Di situ tertulis prasyarat aktif di kegiatan penulisan di kampus. Menurutku ini kesempatan bagus untuk kembali menulis, apalagi bekerja dalam bidang penulisan. Karena biasanya iklan-iklan yang mencari reporter menginginkan mereka yang sudah berpengalaman kerja sebagai reporter, sedangkan pengalaman kerjaku kemarin adalah sebagai personalia.

Tes pertama adalah wawancara awal dengan bagian HRD dan staf redaksi. Aku lolos wawancara awal. Selama seminggu kedepan berikutnya aku mengikuti tes bahasa dan psikotest. Aku lolos lagi. Pelamar-pelamar yang lain sebagian besar sedang bekerja sebagai wartawan di media massa lain. Pada saat tes kesehatan aku baru tahu bahwa 8 orang dari 12 pelamar yang lolos ke tahap test kesehatan adalah wartawan-wartawan yang masih kerja di media. Gosh! Pengalaman mereka pasti sudah banyak sekali, dibandingkan aku yang bisa dibilang masih nol di bidang penulisan media massa.

Saat itu aku hanya berpikir bahwa akan selalu ada saat pertama bagi setiap orang dalam menjalani sesuatu. Ada saat pertama kita belajar berbicara, ada saat pertama kita berpacaran, ada juga saat pertama kita nabrak orang waktu naik motor. Selalu ada saat pertama dalam segala hal, entah itu buruk atau baik. Intinya aku merasa bahwa selalu ada saat pertama bagiku untuk menjadi reporter. Apalagi di lowongan tertulis bahwa koran nasional tersebut mencari reporter mula dan akan diberi pendidikan menulis.

Setelah test kesehatan ada wawancara terakhir dengan dewan redaksi, staf diklat, dan staf HRD. Pengumuman diterima atau tidaknya sebagai wartawan paling tidak ya akhir minggu ini. Karena minggu depan sudah mulai pendidikan. Ternyata sampai malam ini aku tidak mendapat telepon dari bagian HRD koran tersebut. Sedangkan temanku yang lain sudah ditelpon. Rasanya sedih banget. Aku pengen nangis, tapi untuk apa. Tokh semua sudah ada jalannya masing-masing. Selalu ada saat pertama mengalami kegagalan wawancara. Kalau aku tidak diterima bekerja di koran nasional tersebut mungkin memang belum waktunya.

Aku tidak tahu setelah ini bekerja sebagai apa karena semenjak melamar di koran tersebut, seluruh konsentrasiku tercurah untuk proses seleksi. Pada saat kita gagal selalu ada saat pertama untuk bangkit kembali. Setelah ini mungkin aku akan melamar sebagai designer interior. What? Kamu kan ga ada background sama sekali di bidang design. Ha ha ha… namanya juga bermimpi. Siapa tahu suatu hari nanti ada yang membiarkanku memulai saat pertama sebagai wartawan, designer, call center girl, hakim. Whatever!

Thursday, June 22, 2006

Untitled

What happen to Indonesia? Akhir-akhir ini kok banyak sekali bencana yang terjadi. Terus terang lama-lama aku seperti mati rasa saja. Pada Desember 2004 Aceh dihajar oleh tsunami. Sedih banget rasanya. Walaupun aku belum pernah kesana, tapi aku cukup punya alasan untuk bersedih. Beberapa bulan sebelum bencana tsunami terjadi di Aceh, aku membantu teman-temanku di sebuah INGO untuk mengumpulkan sumbangan berupa buku-buku pelajaran dan bacaan untuk anak-anak Aceh. Berbagai macam cara aku coba untuk memperoleh sumbangan, lewat e-mail, pengumuman di gereja, dan dari mulut ke mulut.

Buku-buku itu aku tata dan bungkus bersama ibuku. Di setiap buku itu ada doa yang terucap dari para penyumbang untuk anak-anak Aceh. Di setiap jahitan tali raffia yang membungkus kardus buku-buku ada tetes keringat kami bagi keberhasilan anak-anak dalam belajar. Tujuh kardus kemudian sampai di Aceh pada bulan Nopember 2004, sebelum hari raya Idul Fitri. Tidak sampai dua bulan mungkin anak-anak di Aceh sempat menikmati buku-buku itu dan terjadi tsunami yang menghapus mimpi-mimpi mereka untuk menjadi orang pintar. Oh Tuhan… aku sampai tidak bisa menguapkan apapun saking sedihnya. Betapa pilu hati ini. Begitu banyak yang hancur, begitu banyak yang terhempas, begitu banyak kedukaan.

Selama setahun setelah bencana tsunami, aku bekerja di Jogja. Lewat teman-teman sebuah INGO yang berkantor pusat di Jogja, aku mendapat banyak informasi tentang perkembangan pemulihan Aceh dan juga Nias (yang beberapa bulan setelah tsunami mengalami gempa). Penduduk di sana mulai bisa bangkit, memulihkan ekonomi dan terutama memulihkan jiwa yang terguncang.

Tinggal di Jogja membuatku jatuh cinta pada kota ini. Penduduknya ramah, makanannya murah dan enak, tidak macet, kemana-mana bisa naik motor, dan banyak alasan lagi. Kantorku yang di daerah Bantul mempunyai karyawan yang sebagian besar berumah di Bantul. Jogja terdiri dari 4 kabupaten dan 1 kotamadya. Karekteristik orang-orang kabupaten Bantul berbeda dengan kota Jogja.

Gempa bumi yang terjadi di Jogja terjadi setelah aku kembali ke Jakarta. Gempa yang mengoyak-ngoyak permukaan bumi. Meluluhlantakkan bangunan-bangunan rapuh para penduduk desa. Korban bencana kali ini tentu berbeda dengan tsunami di Aceh. Apabila di Aceh banyak korban yang meninggal, di Jogja banyak sekali yang terluka. Korban yang terluka ini membutuhkan penanganan yang lebih lama. Teman-teman kantorku banyak yang menjadi tunawisma saat ini. Padahal mereka adalah orang dari golongan pas-pasan. Gaji pas untuk makan saja. Untuk nabung juga jarang bisa.

Herannya pemerintah kok lambat sekali mengatasi masalah bencana ini. Banyak yang kelaparan, kedinginan, luka-luka karena bantuan terlambat datang ke tempat mereka berada. Dana untuk makan penduduk saja ada yang dipotong oleh kepala desanya. Duh, Gusti. Terkutuklah mereka yang mencari keuntungan di dalam kesengsaraan orang lain dan biarkan Tuhan yang melakukannya, karena itu adalah hakNya. Pemerintah kok seperti kotoran di jamban yang dengan sekali pencet tombol jamban maka akan hilang dan berkumpul dengan kotoran-kotoran lain di sungai. Layak dibuang karena tidak berguna.

Bencana yang paling parah di Indonesia sebenarnya adalah bencana hutang. Pemerintah kita suka sekali berhutang. Hutang luar negeri kita begitu bertumpuk. Untuk membayar hutang yang lama, pemerintah berhutang lagi. Dana-dana yang seharusnya dipakai untuk mensejahterakan rakyat digunakan untuk membayar hutang. Bukan tidak mungkin juga bahwa dana bantuan yang diberikan Indonesia untuk negara tetangga adalah juga hasil dari hutang.

Arrggh!!!! Aku marah-marah begini juga cuma nambahin dosa buat diri sendiri. Antara kesedihan dan kemarahan jadi satu. Jadi sorry aja kalau ada yang tersinggung setelah membaca tulisan ini. Gak perlulah masukin aku ke penjara yang kemudian cuma menuh-menuhin aja akhirnya. Lebih baik kita lakuin sesuatu yang lebih berguna. Mulai dari menyetop kebiasaan korupsi. Tunjangan untuk pejabat juga sebaiknya ditiadakan. Uangnya bisa untuk bayar hutang. Stop penjualan mobil mewah dan baju-baju bermerk! Rakyat Indonesia masih banyak yang harus menempuh jarak berkilo-kilo meter untuk menuju pasar dari rumahnya, dengan berjalan kaki. Punya 5 stel baju saja sudah bagus untuk mereka, apalagi untuk pakai baju bermerk.

Kita sebagai rakyat Indonesia yang hidup di kota yang bisa menikmati enaknya ngopi di gerai kopi dari luar negeri harusnya malu. Nasi yang kita makan sehari-hari berasal dari orang-orang yang hanya bisa menikmati kopi di tepi sawah. Itu pun juga setelah beras-beras mereka bersaing harga dengan beras-beras yang dimport oleh pemerintah. Gaji yang kita dapatkan setiap bulan mungkin lebih baik 20% dipotong dan dimasukkan ke dana sosial untuk rakyat. Dana tersebut bisa digunakan untuk kesejahteraan masyarakat dan sebaiknya TIDAK dikelola oleh pemerintah.

Aku memimpikan adanya sekolah gratis dan juga rumah sakit gratis untuk rakyat. Tetapi bukan sekolah gratis yang beratap langit dan gurunya hanya satu untuk dua kelas. Sekolah yang bangunannya baik, perpustakaan lengkap, gurunya pun banyak dan sejahtera. Anak-anak belajar untuk ilmu pengetahuan, bukan untuk mengejar nilai kelulusan Ujian Nasional. Rumah sakit gratis juga harus lebih banyak sehingga mudah dijangkau rakyat dan dokter-dokter dari kota juga sebaiknya mau ditempatkan di daerah (tidak mengejar balik modal karena biaya sekolah dokter yang mahal).

Kapan ya bisa seperti itu? Kapan ya Tuhan, dunia ini menjadi sempurna seperti impian banyak orang? Sepertinya tidak akan bisa menjadi sempurna, tapi kita dapat mengusahakan agar dunia kita bisa menyerupai sempurna. Terlalu idealis? Jawabannya ada di hati kita masing-masing.

Thursday, May 04, 2006

IRI

Aku iri…
Iri pada burung-burung yang bebas beterbangan
Pada anak-anak yang tertawa di pinggir kali
     Aku iri..
Iri sekali…
Sampai ingin rasanya aku mematahkan sayap-sayap burung itu
Ingin aku menampar pipi-pipi halus anak yang tertawa
Aku iri…
Tidak ada yang boleh bebas selain aku!
Tidak ada yang boleh tertawa selain aku!
     Hanya aku… aku… dan aku…
Karena aku iri..
Dan itu semua sudah cukup.


*Christie Nathalia*
 ini puisi yg pernah dimuat di majalah SPICE edisi bulan apa lupa, yang jelas tahun 2006.

Monday, March 20, 2006

Korupsi Doa

Tema APP kali ini adalah mengenai introspeksi terhadap perbuatan
korupsi yang dilakukan oleh diri sendiri. Karena itu temanya bukan
Korupsikah Kamu, atau Korupsikah Dia, tapi lebih ke diri sendiri.
Mungkin bagi sebagian orang merasa tema ini kurang relevan bagi
gereja, karena biasanya korupsi itu dekat dengan orang-orang
pemerintahan, pengusaha, maupun orang-orang yang sudah bekerja.
Intinya mereka-mereka yang berhubungan dengan orang banyak dan
menghasilkan uang. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa negara kita
adalah negara ter-korup ketiga setelah Bangladesh dan Myanmar (correct me if i'm wrong).

Tapi yang sekarang akan kita renungkan bersama bukan korupsi yang berhubungan dengan uang, melainkan korupsi doa. Yup, kayaknya lebih pas buat segala kalangan, terutama mereka yang belum mendapat penghasilan sendiri. Ide ini muncul karena saya sendiri termasuk sering mengkorupsi doa.

Sebagai anak muda yang telah bekerja di luar kota dan jauh dari
keluarga membuat saya sering melakukan hal ini. Kalau biasanya di
Jakarta saya selalu berdoa setiap malam sebelum tidur, semenjak
bekerja tidak pernah dilakukan lagi. Kalau pun ingat paling-paling
hanya doa Bapa Kami dan Salam Maria, tidak ada percakapan pribadi
antara saya dengan Yesus. Saya mulai menggunakan waktu-waktu yang seharusnya saya gunakan untuk berdoa dan membangun hubungan pribadi dengan Yesus menjadi melakukan hal-hal kesenangan pribadi. Dimana hal tersebut sama sekali tidak menunjang perkembangan hubunganku dengan Yesus.

For example adalah hobi saya dalam membaca dan menonton film. Saya bisa tidur larut malam hanya untuk menghabiskan membaca novel seru terbaru atau nonton 2 vcd film non-stop. Setelah itu saya langsung tidur lelap tanpa doa malam. Keesokannya bangun telat, gak sempat doa pagi apalagi baca kitab suci, langsung ngantor. Almost everyday kejadian seperti ini berulang. Kadang saya sempat doa dan baca kitab suci, kadang juga tidak.

Sampai saya diberi tugas untuk nulis renungan dengan tema APP ini, dan setelah merenung ternyata saya sering korupsi doa dalam 24 jam waktu hidup saya dalam sehari. I know it's time to change. Aku harus perbaiki hubunganku dengan Yesus, karena ini akan menjadi dasar dari kehidupanku nantinya. Okelah, sekarang aku belum sampai korupsi uang, tapi nantinya kalau hubunganku dengan Yesus amburadul, aku pasti akan gampang tergoda untuk korupsi hal-hal lainnya.

So, korupsikah aku? Cuma kita pribadi yang bisa menjawabnya. Yang
jelas, it's time to change now. Mulailah dengan instropeksi diri
sendiri dan jadilah pribadi yang baru pada Paskah nanti.

Sunday, April 03, 2005

aku tidak mau jatuh cinta

apa aku sedang jatuh cinta?
kenapa aku bisa merasakan rasa ini lagi...
rasa yang ingin kubuang jauh-jauh

aku sudah menutup hatiku pada semua lelaki
lelah sudah diriku mencari cinta yang putih
tapi... ternyata masih ada celah di pintu hatiku

seorang lelaki mengetuk pintuku
dia bilang ingin masuk...

tidak... pergi sana...
aku hanya mau sendiri
tidak mau tergantung pada siapapun
tidak mau memimpikan siapapun dalam tidurku

aku tidak mau diriku menjadi lemah lagi

Tuhan....
aku sungguh takut untuk jatuh cinta lagi...
hatiku tidak akan sanggup untuk merasa sakit lagi

satu demi satu kepingan hatiku kukumpulkan
kurekatkan satu sama lain
apakah sekarang aku harus membuatnya terberai lagi?

tidak... tidak...
aku tidak mau jatuh cinta lagi...

Saturday, March 19, 2005

Harapan Untuk Terus Berharap

Sebulan sudah aku menjalani hidup di Jogja. Jauh dari orang tua maupun teman-temanku di Jakarta. Awalnya memang terasa agak berat. Semuanya dijalani sendiri. Tak ada teman untuk diajak tertawa-tawa, tak ada adik yang bisa diajak ngobrol malam-malam, dan terutama tak ada orang tua tempat aku biasa berkeluh kesah.
Ooh... God... i miss them so much...
Kerjaan di kantor juga berat. Sebagai manager personalia banyak sekali tugas-tugas yang harus dilakukan. Orang yang kugantikan ternyata selama ini belum banyak membuat peranan di bidang personalia. Akhirnya aku harus pontang-panting membuat peraturan perusahaan, mengurus asuransi untuk karyawan, membuat peraturan cuti, dll.
Situasi terberat adalah pada saat perusahaanku harus meliburkan kurang lebih 60 orang karyawan borongan amplas. Karyawan borongan ini sistem pembayarannya berdasarkan jumlah barang yang telah mereka amplas (borongan). Semakin banyak barang yang mereka kerjakan, maka uang yang didapat juga semakin banyak. Perusahaan mengambil kebijakan seperti ini karena barang furniture yang datang dari suplier sangatlah sedikit. Bahan baku kayu memang sedang berkurang dan mengakibatkan suplier membatasi jumlah order. Untuk buyer dari luar negeri tidak ada masalah. Pesanan dari mereka tetap banyak. Tetapi kita yang tidak bisa memenuhinya.
Aaahhh.... situasi yang sungguh gak enak.
Masalah ini jadi kepikiran terus olehku. Sampai di rumah pun masih terbawa-bawa. Aku memikirkan kehidupan yang akan mereka jalani selanjutnya. Berapa lama mereka bisa bertahan dalam situasi seperti ini. Sumber pendapatan mereka tak dapat diandalkan lagi.
Akhirnya aku hanya bisa berdoa.
Dalam doa aku meminta pada Tuhan untuk terus menumbuhkan harapan di dalam hati tiap orang. Harapan bahwa semuanya akan menjadi baik seperti sedia kala. Harapan bahwa mereka akan tetap bisa terus hidup berkecukupan. Demi suami/istri mereka maupun demi anak-anak mereka.
Karena hidup tanpa harapan adalah hidup yang sia-sia.... Harapan itu bagaikan api yang membakar semangat hidup. Harapan itu adalah jalan menuju ke cita-cita yang nantinya akan kita raih. Hidup tanpa harapan bagaikan tubuh tanpa jiwa. Yang ada hanyalah kehampaan, kekosongan dan kenisbian.
Dengan harapan orang mampu meraih semua yang diinginkannya. Karena itu aku mempunyai harapan agar mereka terus berharap....

Friday, January 07, 2005

Aku dan Aceh

Aku adalah aku
Aku lahir ke dunia ini karena Tuhan menghendakinya
Walaupun sampai sekarang aku belum tahu mengapa dilahirkan ke dunia ini
Hidupku terasa begitu menderita
Dari pagi hingga jauh ke malam hari
Selalu diisi dengan mengais-ngais bak sampah
Mengharap ada orang yang membuang sejumlah kardus dan botol plastik
Untuk kemudian kubelikan nasi setangkup
Yang itupun telah dingin mengerak

Malam ini tanpa sengaja kulewat di depan warung yang sedang memutar siaran berita
Televisi mengatakan sedang ada bencana di Aceh sana
Banyak orang mati di sana yang mayatnya hampir sama dengan sampah yang kukais setiap hari
Berbau busuk…
Hatiku miris melihat layar kaca di depanku
Pedih membayangkan seandainya itu terjadi padaku
Tercerai berai dengan sanak saudara di tanah leluhur

Lewat dari warung tadi aku melintas di depan sebuah rumah besar
Tampaknya sedang ada pesta di sana
Mobil berderet-deret parkir di depan rumah
Aroma masakan yang lezat menggelitik hidungku
Kalau saja tidak ada satpam yang membentakku
Ingin rasanya berlama-lama di depan rumah itu sambil membayangkan masakan apa saja yang terhidang di meja makan

Kuteruskan perjalananku sambil membayangkan makanan yang lezat
Hari ini aku cukup beruntung karena ada orang yang membuang banyak koran bekas
Hasilnya di kantongku ada uang sejumlah dua puluh lima ribu rupiah
Cukup untuk makan nasi goreng kambing dan es campur di sebuah restoran
Aku ingin merasakan jadi orang yang dilayani
Ditanya ingin makan apa, lalu koki akan membuat makanan itu
Wah…. Tentu sangat nikmat
Aku LAPAR!!!

Sesampai di depan pintu restoran ada kotak kardus kecil
Katanya sih untuk dana bantuan korban bencana di Aceh
Kupandangi kotak itu
Kuteguk air liurku tatkala mencium lagi aroma masakan dari dalam restoran
Entah mengapa kurogoh saku celanaku
Mengambil uang dua puluh ribu yang lalu kumasukkan ke kotak itu




Lalu aku kulanjutkan perjalanan
Sampai akhirnya aku mampir seperti biasa di warung bawah jembatan
Lima ribu rupiah…
Ya… uangku tinggal lima ribu rupiah
Hanya cukup untuk makan nasi di warteg langganan

Tapi hati ini rasanya begitu hangat
Ternyata aku bisa juga memberikan sesuatu untuk sesamaku yang sedang menderita
Walau mungkin aku juga sama menderitanya dengan mereka
Karena bagaimana bisa aku mengatakan bahwa aku mengasihi Allah
Sedangkan aku tidak mengasihi saudara-saudaraku di Aceh sana
Walau kami berbeda agama
Walau kami dipisahkan laut dan daratan
Walau kehidupan yang kami jalani begitu berbeda

Sekarang aku tahu mengapa aku lahir ke dunia ini
Karena Allah mengasihiku
KasihNya ada dalam setiap segi kehidupanku
Mengalir dalam darahku
Dan sekarang tugasku adalah membagikan kasihNya kepada semua orang
Seberapa pun sulitnya… seberapapun menderitanya
Allah ada di dalamku…





Friday, December 31, 2004

Jelang Tutup Tahun 2004

Tak kusadari telah sampai di ujung tahun 2004.
Menengok sepanjang tahun ini tak terasa derai air mata dan tawa ceria telah menghiasi wajahku.
Berbagai peristiwa yang terjadi semakin menambah pengalaman hidupku.
Karena hidup adalah bagaikan selembar kanvas yang harus dilukis dengan berbagai sapuan warna.

Memasuki awal tahun 2004 ini bumi Indonesia sudah diganjar dengan gempa di Palu, Mataram, dan Denpasar.
Sedikit membuat dada ini terasa sesak..
Wabah flu burung pun membuatku takut untuk makan ayam.
Para peternak ayam hanya dapat memiris pilu.

Bulan Februari identik dengan bulan kasih sayang. Anak muda menyebutnya Valentine.
Balon-balon berbentuk hati dan semerbak harum mawar menghiasi pusat perbelanjaan di Jakarta.
Tapi tidak di Nabire, Papua.
Gempa bumi tektonik berskala 6,8 Richter telah memporak-porandakan kehidupan di sana. Akankah mereka ingat dengan Valentine yang selalu identik dengan bunga, coklat, dan pesta?

Untuk pertama kalinya, di tahun ini, rakyat Indonesia dapat memilih secara langsung para wakil rakyat dan presiden untuk Indonesia.
Sayangnya dana kampanye dari partai tak jelas asal usulnya.
Untuk kepentingan partai atau rakyat kah?
Alih-alih bukannya untuk kemajuan bangsa, dana partai dipakai untuk sablonan kaos dan poster orang-orang yang mengaku wakil rakyat.

PEMILU kali ini juga banyak hambatan.
Teror bom sempat menyambangi kantor KPU Pusat.
Walau begitu… demokrasi harus terus berjalan.
Siapa pun pemimpin terpilih, Indonesia harus tetap jaya!!!

September ini aku merasa kehilangan sosok seseorang yang kesederhanaan dan keberaniannya telah menginspirasi kehidupan banyak orang.
Dia menjalani hidupnya dengan kejujuran dan perjuangan.
Dia adalah Munir.
Pahlawan Indonesia sebenarnya sejak setidaknya satu dekade terakhir. Dan sahabat sebenarnya bagi siapapun.

Belum kering airmata ku menetes, sekarang di bulan Oktober aku kembali menangis, menjerit!!!
Entah kepada siapa aku harus menggugat!
Atau kah aku harus mengutuk perbuatan biadab pengeboman di depan Kedutaan Besar Australia, Kuningan?
Jalan Tuhan tak terselami….
Logika dan otak berkilo-kilo pun tak kan dapat memahami kebesaranNya…

Begitu juga kita tak akan dapat memahami mengapa para wakil rakyat di gedung DPR tidak dapat melakukan Rapat Paripurna secara lebih beradab.
Mereka lebih menyerupai binatang jalang yang sedang berebut mangsa.
Saling interupsi, berteriak-teriak dan memukul-mukul meja.
Seperti monyet wau-wau yang kulihat di Ragunan sana..
“Uuukk….uuukkk..uuukkk…. interupsi, Pak!”

November yang basah semakin basah oleh tangisan keluarga yang ditinggalkan para korban kecelakaan pesawat Lion Air di bandara Adi Sumarmo, Solo.
Cuaca buruk dan hujan deras ternyata tak dapat dikendalikan manusia.
Sebab kita bukan Tuhan…
Kita tak akan tahu kapan waktunya tiba.

Dan akhirnya kita sampai di bulan Desember.
Bulan penuh berkat dan kasih putih.
Keceriaan Natal dan bunyi lonceng gereja masih menggema di telingaku, tatkala aku mendengar bahwa bencana gempa dan gelombang Tsunami melanda Aceh dan Sumatera Utara.
…………………..
Aku tak tahu harus berkata apa.
Air mata ku telah habis sepanjang tahun ini.
Aura kehancuran dan bau anyir mayat-mayat di sana sangatlah membuat hatiku hancur.

Sekali lagi aku ingin marah…
Ingin menggugat Tuhan atas kejadian ini.
Tapi sekali lagi dan untuk terakhir kali…. Jalan Tuhan tak akan pernah terselami
Kita tak akan tahu apa rencana Dia bagi kita apabila kita terus menutup diri dan tidak memperbolehkan Dia masuk ke hati kita.

Apapun yang telah terjadi sepanjang tahun ini, walaupun banyak hal yang sangat menyakitkan… semua itu adalah bagian dari rencana Tuhan untuk kita.
Yakinlah bahwa rencanaNya adalah yang terbaik bagi kita.
Teruslah berdoa dan berdoa…. Hingga pelangi harapan muncul lagi di kehidupan kita.
Karena keindahan doa terletak pada pengharapan yang terus menerus… akan hari depan yang cerah… di mana kita akan bertemu kembali dengan Dia.

Sekarang 2004 akan segera berlalu. 2005 tinggal beberapa helaan nafas lagi…
Sambutlah tahun yang baru dengan pengharapan baru.
Biarlah apa yang terjadi di 2004 menjadi sapuan warna-warna yang indah di kanvas kehidupan kita.
Jalan kita masih panjang…

Monday, December 13, 2004

Surat Untuk Yesus

Yesus tersayang… apa kabar? Sebentar lagi hari natal. Biasanya setiap natal datang aku selalu berkumpul dengan keluargaku. Tapi saat ini begitu berbeda. Aku sendirian di rumah ini, Yesus. Tidak ada ayah, ibu dan kakakku yang selalu menyayangiku. Tidak ada yang menemani memasang pohon natal. Tidak ada lagi yang memberikan kecupan selamat natal di keningku. Rasanya begitu sepi dan hampa semenjak pembunuh-pembunuh itu datang ke rumahku untuk merenggut nyawa orang-orang yang kucintai. Seandainya saat itu aku tidak sedang menginap di rumah temanku, Eva, pasti aku telah ikut terbunuh.

Seringkali aku menyesal kenapa malam itu sampai menginap di rumah Eva. Aku ingin ikut mati saja dengan mereka. Setelah kejadian itu aku begitu terguncang sampai harus dibawa ke psikiater untuk mengobati jiwaku yang terluka. Dorongan dari keluarga dan teman-teman terdekatlah yang membuatku tetap bertahan hidup selama tujuh bulan ini.
Selama tujuh bulan pula aku setiap hari sibuk mengutuk para pembunuh-pembunuh itu, yang sampai sekarang belum tertangkap juga. Aku sibuk memikirkan sakit hatiku, sampai tanpa terasa aku mulai lupa denganMu. Aku lupa untuk berdoa dan menyapaMu. Bahkan aku pun mulai menyalahkanMu atas semua kejadian buruk yang kualami.

Sampai pada awal Desember ini aku dengan berat hati menemani Eva mengaku dosa di gereja. Entah mengapa, hatiku tergerak juga ingin masuk ke ruang pengakuan. Awalnya aku bingung ingin berkata apa pada pastor. Akhirnya aku mengakui bahwa selama ini merasa begitu benci pada pembunuh-pembunuh itu. Aku ingin mereka dihukum mati. Aku begitu ingin menghakimi mereka. Aku ingin pastor juga ikut setuju pada apa yang kurasakan. Tapi nyatanya dia hanya membacakan dari Yohanes 12:46-47: “Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan. Dan jikalau seorang mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, Aku tidak menjadi hakimnya, sebab Aku datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya.”

Saat itu juga aku langsung tertegun mendengar ayat itu. Ternyata selama ini aku telah tinggal di dalam kegelapan dengan membiarkan rasa benci menguasai hatiku. Aku begitu mengutuk para pembunuh itu, padahal Engkau sendiri datang ke dunia ini untuk menyelamatkan, bukan untuk menghakimi. Siapapun akan Kau selamatkan. Tak peduli seberapa berat dosanya. Kejadian buruk yang kualami pun adalah bagian dari rencanaMu untuk menyelamatkan dunia.

Sebentar lagi natal. Aku ingin semua orang di seluruh penjuru dunia dapat merasakan terangMu dan tidak tinggal dalam kegelapan. Yesus, aku serahkan seluruh hidupku ke dalam tanganMu. Seluruh bagian kehidupanku yang buruk maupun indah, karena aku ingin terus berada dalam terangMu.

With love,

Lia

Thursday, November 04, 2004

Indahnya Doa

"Tuhan. ajari aku untuk berdoa. Ajari aku untuk lebih bisa mengerti akan kehendak-Mu. Karena sering aku merasa tak bisa berdoa. Aku tak tahu apa yang harus kuucapkan dan bagaimana aku harus memulai doaku. Apalagi akhir-akhir ini ada kejadian yang sangat tidak menyenangkan. Rasanya percobaanku berat sekali. Aku semakin tidak bisa mengerti diri-Mu. Apa yang Kau kehendaki? Rasanya baru sebentar aku bisa menikmati indahnya kebersamaan dengan diri-Mu, sekarang yang kurasakan hanyalah kehampaan. Kenapa Tuhan? Kenapa?"

Terkadang kita merasa Tuhan begitu jauh dari kita. Tak tergapai dan tak dapat dimengerti. Kita merasa bahwa Tuhan harus mengabulkan semua doa dan harapan kita. Menjawab setiap permohonan yang kita ajukan. Menuntut Tuhan untuk mengerti apa-apa saja yang kita butuhkan dan inginkan. Bahkan mungkin kita punya 'wish list' yang kita harap akan dikabulkan oleh Tuhan.

Apapun itu, sadarkah bahwa terkadang kita terlalu menuntut Tuhan untuk berbuat sesuai dengan yang kita inginkan. "Tuhan, Engkau harus mengabulkan keinginanku ini. Tuhan, aku mau mendapatkan barang itu. Tuhan, kenapa aku tidak bisa seperti mereka. Tuhan, kenapa Engkau memberi aku percobaan seperti ini?" Begitu banyak keinginan, begitu banyak tuntutan yang kita ajukan pada Tuhan.

Tapi pernahkah kita bertanya pada Tuhan apa yang Dia inginkan di dalam hidup kita dan merenungkannya dalam-dalam? Ada yang menjawab pernah, ada pula yang tidak pernah. Seorang nenek yang kutemani pada saat-saat terakhir hidupnya mengaku bahwa selama ini beliau terlalu banyak menuntut Tuhan untuk berbuat sesuai yang dia inginkan. Dia menyesali hidupnya selama 65 tahun tidak dipergunakan untuk mencari kehendak Tuhan atas dirinya. Doa pun sudah ditinggalkannya bertahun-tahun yang lalu karena merasa tidak pernah dikabulkan Tuhan.

Waktu yang telah berlalu dilewati dengan penuh kekesalan dan tuntutan. Akankah kita seperti nenek itu? Atau akankah kita berusaha untuk mengerti lebih dahulu kehendak Tuhan sebelum mengajukan permohonan? Efesus 5:15-17 mengatakan: Karena itu perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal , tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.

Kini nenek itu sadar bahwa keindahan suatu doa bukanlah pada terkabulnya doa itu, melainkan pada pengharapan yang terus menerus dan pengertian akan kehendak Tuhan.

Thursday, October 07, 2004

Tunjukin Talenta Loe!!!

Jangan takut untuk mencoba sesuatu, daripada di kemudian hari kamu menyesal karena tidak pernah mencobanya. Ini adalah kalimat yang selalu aku ingat dari semenjak SMP sampai lulus kuliah. Berbekal kalimat ini juga aku mulai terlibat berbagai kegiatan di lingkungan sekolah, gereja, maupun luar. Intinya aku ingin mencoba segala macam kegiatan. Pengen tahu aja sampai sebatas mana kemampuan yang aku punya.

Kemudian pengalamanku ‘berkenalan’ dengan Alkitab membawaku pada perumpamaan mengenai talenta di Matius 25:14-30. Di sini talenta berarti bakat alam yang dapat dikembangkan dengan praktek yang tekun. Dari situ aku mulai yakin bahwa tiap manusia mempunyai talentanya masing-masing. Ada yang mendapat satu talenta, ada pula yang dapat lima talenta. Berapapun jumlahnya kita tetap harus mengembangkannya.

Nah, salah satu cara mengembangkan talenta adalah dengan mengikuti berbagai kegiatan yang diadakan di sekeliling kita. Apa pun kegiatannya, asalkan kegiatan yang baik lho (bukan nyuri atau nyopet, hehehe…), pasti kita bisa ngembangin talenta. Mungkin saat ini teman-teman ada yang merasa cuma punya satu atau dua talenta dan merasa nggak pede saat ketemu dengan teman yang punya banyak talenta. Hehehe… jangan khawatir, guys! Mudika Paroki nyediain sarana buat ngembangin talenta-telenta kalian itu. Yang punya talenta main musik bisa ikut latihan band di Studio Mudika, terus juga ada kelompok tari buat teman-teman yang suka nari. Teater juga ada buat yang suka akting. Sedangkan yang suka nulis tentu aja bisa gabung dengan BUANA. Pokoknya banyaklah kegiatan yang diadain di paroki kita ini. Pantau aja terus infonya lewat BUANA.

Aku sendiri dari dulu cukup yakin bahwa punya talenta di nulis dan gambar. Hmm… cuma dua aja. Tapi sekali lagi berbekal kalimat pembuka di atas aku nyobain ikut teater, nari, lektor, paskibra, basket, paduan suara, web design, dll. Pokoknya aku mau nyobain berbagai kegiatan selama masih bisa dan selama masih ada waktu. Dari situ aku kenal dengan banyak teman, dapat banyak pengalaman, dan terutama aku juga berhasil menemukan talenta-talentaku yang lain.

Jadi buat teman-teman yang merasa cuma punya satu talenta terus cari tahu talenta kalian yang lain. Ikuti banyak kegiatan. Jangan takut untuk mencoba sesuatu yang baru. Dan terutama dengan talenta kita dapat melayani Tuhan.

Monday, September 20, 2004

Indah Pada Waktunya

Baru-baru ini temanku ada yang gagal mengikuti sidang skripsinya. Padahal dia sudah menargetkan tahun ini lulus kuliah. Hal ini terjadi karena ternyata ada satu mata kuliah yang belum lulus dan dia tidak tahu mengenai hal ini sampai pada saat jadwal sidang sudah diumumkan. Karuan saja temanku ini kesal sekali. Hanya karena satu mata kuliah dia jadi terhambat untuk lulus.

Begitu pula dengan temanku yang lain. Dia lagi stress karena belum juga mendapat panggilan kerja, padahal sudah banyak mengirim surat lamaran. Sebelumnya memang dia sempat bekerja di sebuah NGO, namun karena proyek yang ditanganinya sudah selesai, maka masa tugasnya pun berakhir. Sekarang dia masih terus mencari pekerjaan di tempat lain.

Ada lagi kejadian yang buruk yang menimpa kita semua pada tanggal 9 September 2004. Bom meledak di daerah Kuningan dan menyebabkan banyak korban berjatuhan. Kerugian besar harus ditanggung, dan terutama air mata kita berjatuhan lagi untuk saudara-saudara kita. Rasa marah, sedih, kecewa bercampur jadi satu. Apa rencana Tuhan di balik ini semua?

Hmm… temanku, saat ini memang banyak sekali kejadian tidak menyenangkan yang terjadi di sekeliling kita. Ada yang merupakan masalah pribadi, ada pula yang menjadi masalah nasional. Apapun masalahnya tetap saja kita merasakan cobaan berat menekan. Cobaan berat itu kadang membuat kita sampai pada titik tidak tahu lagi harus berbuat apa. Istilahnya, masalah kita udah mentok… tok… mentok! Dan membuat kita mulai menjauh dari Tuhan, mulai bimbang dan ragu pada jalan yang harus dilalui.

Kita lupa bahwa jalan kita bukanlah jalan Tuhan. Rencana yang kita punya bukanlah rencana Tuhan. Kita lupa bahwa Tuhan sudah menyiapkan rencana yang indah dan baik bagi kita semua. Masalah yang kita alami membuat pandangan kita tertutup kabut dan tidak mampu melihat sekeliling kita yang begitu indah.

Padahal di Pengkotbah 3:1-14 sudah disebutkan bahwa untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya. Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam. Ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari. Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.

Yang perlu kita lakukan hanyalah tetap percaya pada Tuhan, tetap berjalan di jalanNya. Bahwa Dia baik dan akan membuat segala sesuatu indah pada waktunya.

Friday, August 13, 2004

BERSAUDARA DALAM NASIONALISME

Kayaknya kok klise banget ya, mengaitkan ulang tahun kemerdekaan Indonesia dan nasionalisme. Tema yang berulang dan selalu kita temui dari sejak SD, bahkan sampai kuliah (mata kuliah Kewarganegaraan). Mungkin ada yang bosan, ada pula yang menganggap remeh masalah nasionalisme ini. Nah, berhubung sekarang lagi mau tujuh belasan, gak ada salahnya kita sedikit membicarakan soal nasionalisme.

Nasionalisme adalah sebuah paham yang menyatakan bahwa rasa kebangsaan (entah atas dasar persamaan nasib, entah atas dasar persamaan wilayah) dilihat sebagai perasaan utama dan cenderung dipakai untuk prinsip hidup secara personal atau secara publik. Secara luas juga dapat dikatakan bahwa nasionalisme menyatakan patriotisme (patria=tanah air) yang merupakan prinsip moral dan politik yang mengandung kecintaan pada tanah air, kebanggaan emosional terhadap sejarah dan ketersediaan diri untuk membela kepentingan-kepentingan bangsa.

Wawasan kebangsaan yang dianut bangsa kita adalah nasionalisme dalam arti luas, tidak berpaham nasionalisme sempit (chauvinisme). Nasionalisme dalam arti luas adalah rasa bangga dan cinta terhadap tanah air dan bangsa tanpa memandang rendah bangsa lain. Sungguh suatu paham yang mulia dan terpuji, walau dalam pelaksanaannya masih jauh dari sempurna.

Hal ini dapat kita lihat dari dalam negeri sendiri, konflik antar suku dan agama sangat sering terjadi. Mengakibatkan rakyat terpecah dalam kelompok-kelompok. Saudara satu bangsa saja dipandang rendah. Sungguh menyedihkan melihat semua ini terjadi. Sangat jauh berbeda dengan cita-cita para proklamator kemerdekaan kita.

Selain itu, nggak usah jauh-jauh deh, di Jakarta sendiri dapat kita lihat bahwa sekarang orang-orang hanya memikirkan diri sendiri, semakin memperkaya diri sendiri. Pembangunan pusat perbelanjaan dimana-mana. Butik-butik kelas dunia juga hampir semuanya ada di Jakarta. Sementara kita di Jakarta asyik makan siang di Café Wien trus beli sepatu merek Stuart Weitzman yang harganya jutaan, saudara kita di Pulau Buru untuk makan pun harus berbagi apalagi memakai sepatu bagus. Mayoritas orang Indonesia mulai tidak berpikir pada bangsanya lagi. Tapi berpikir bagaimana memperkaya diri sendiri, memperkaya kelompoknya. Sungguh ironis! Padahal rakyat kecil yang dibelit masalah ekonomi akan semakin mudah dipecah belah.

Mungkin kamu mulai berpikir, “So, what? Apa yang mesti gue lakukan? Gue udah ikut demo mahasiswa, menyumbangkan uang, membeli produk dalam negeri, ikut PEMILU. Trus apa lagi yang mesti gue lakukan?” Sebelum kamu mulai berpikir ke arah situ, ada baiknya kita bareng-bareng meresapkan makna nasionalisme yang intinya bangga dan cinta pada bangsa. Kita lihatlah orang Jepang, betapa mengglobalnya mereka. Tetapi nasionalisme orang Jepang diperlihatkan dengan kecintaan terhadap tanah air, bagaimana mereka membangun bangsanya, bagaimana mempertahankan budayanya di tengah-tengah globalisasi. Mereka bangga pada bahasanya dan tetap melaksanakan tata kramanya.

Bangsa kita dianugerahi alam yang begitu indah, yang kalo kita jelajahi satu persatu tak akan ada habisnya. Tetapi mengapa sebagian orang lebih senang pergi ke luar negeri? Kesannya kok ketinggalan jaman kalo belum pernah menghabiskan liburan ke luar negeri. Sementara orang luar negeri banyak yang ke negeri kita untuk menjelajahi alam yang indah dan belajar kesenian-kesenian tradisional yang sangat beragam. Mungkin ini juga disebabkan pengaruh media yang sangat kuat, dimana film-film barat yang masuk Indonesia menyebabkan sebagian masyarakat kita jadi kebarat-baratan. Era globalisasi ternyata justru semakin mengendorkan semangat nasionalisme kita.

Mumpung dirgahayu kemerdekaan Indonesia masih anget-angetnya, marilah sekarang coba kita renungkan makna nasionalisme secara pribadi. Pertama kali belajar jalan, kita menapak di bumi Indonesia. Bahasa yang kita ucapkan pertama kali adalah bahasa Indonesia. Kita tumbuh sehat berkat hasil bumi yang ditanam oleh saudara-saudara kita di tanah Ibu Pertiwi. Punya teman-teman dari berbagai suku bangsa dan agama. Ada yang Batak-Kristen, Sunda-Islam, Jawa-Katolik, dan lain-lain. Mau ganti kewarganegaraan pun kita tetap berkebangsaan Indonesia. It’s like something in your blood that you can never change it, no matter how hard you try. Darah kita sama dengan darah orang Aceh, Batak, Ambon, Dayak, dan lain-lain. Marilah kita berpikir untuk bangsa kita, tidak hanya untuk diri sendiri.

So, friends jangan sampai kalian lupa rasa nasionalisme yang ada di diri kalian masing-masing. Soalnya kayaknya gaung nasionalisme mulai terdengar samar-samar, nich.

Wednesday, August 11, 2004

HP Baru

Lirik kanan kiri, ternyata teman-temanku handphone-nya baru semua! Yup, ini udah mulai semester baru. Semuanya serba baru. Mulai dari tas sampai sepatu. Apalagi beberapa minggu kemarin sempat ada pameran handphone di daerah Senayan. Pastinya teman-temanku nggak ngelewatin kesempatan beli HP model terbaru. Padahal kayaknya HP mereka masih bagus deh, layarnya sudah berwarna dan bisa MMS juga, sama seperti HP-ku. Tapi… masih kurang integrated digital camera, alias kamera di handphone. Sekarang kan, lagi nge-trend koleksi foto dan tuker-tukeran foto via Bluetooth atau infrared di HP.

Pengen beli, nich! Kan, nggak gaul kalo aku juga nggak bisa ikutan tuker-tukeran foto. Terus kalo pas jalan ke mall lihat cowok cakep tinggal click… and wajahnya langsung tersimpan di HP-ku, hehehe… (ganjen banget!-red). Tapi aku nggak punya duit. Gimana, dong? Kalo minta ke ortu pasti nggak bakalan dikasih.

Hmmm…. apa tiap hari aku diam-diam ngambilin uang di dompet mama aja, ya? Kan nggak ketahuan tuch, kalo ngambilnya dikit-dikit. Ditambah uang tabunganku, maka… voila! Dalam sebulan aku udah bisa beli HP baru.

Tapi kalo dipikir-pikir lagi, bukannya itu dosa, ya? Mending nekad beli HP baru atau nggak beli HP baru? Apa iya, aku masih bisa bangga memakai handphone yang kudapat dari hasil mencuri uang mama? Apa kalau aku pakai HP baru teman-temanku bakal tambah banyak?

Iih… kayaknya aku nggak bakalan beli handphone baru deh. HP-ku yang sekarang masih cukup bagus untuk dipakai. Teman-temanku juga kayaknya nggak temenan sama aku hanya karena handphone. Dan terutama karena mencuri itu dosa, bo! Nanti tiap kali lihat HP baru itu, ada suara ‘maling… maling…’ idih, ogah amat!

Semoga sich, semua teman-teman yang lain juga punya pikiran sama seperti aku. Mencukupkan diri dengan apa yang ada di diri kita. Soalnya, denger-denger dari kakakku nich, di kalangan esmud (eksekutif muda) yang namanya ganti HP tiap bulan, mah, lumrah aja. Selain karena penampilan juga menentukan prestise, kartu kredit juga berperan di sini. Semua bisa dicicil!

Buat teman-teman semua, inget-inget aja deh ayat dari Ibrani 13:5 “Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu.”

Sunday, July 18, 2004

Pramoedya Ananta Toer

Siang yang begitu terik di stasiun kereta Bojong Gede, Bogor, tidak dapat menahan langkah BUANA untuk tetap menuju ke rumah Pramoedya Ananta Toer. Novel tetraloginya yang berjudul Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca, membuat BUANA ingin mengetahui lebih jauh pribadi sang penulis. Selain itu juga karena belasan buku-bukunya telah diterjemahkan ke dalam 38 bahasa, dan karena beliau juga termasuk salah satu calon pemenang Penghargaan Nobel Sastra.

Lelaki kelahiran Blora, 6 Februari 1925, ini mulai menulis sejak dia masih SD. Awalnya adalah karena dia pernah tidak naik kelas sebanyak tiga kali, sehingga ayahnya menjadi keras terhadapnya. Karena Pramoedya termasuk pendiam, maka dia melampiaskan perasaannya lewat tulisan. Hidupnya pun kemudian banyak dihabiskan di balik penjara. Di zaman revolusi kemerdekaan ia dipenjara di Bukit Duri Jakarta (1947-1949), dijebloskan lagi ke penjara di zaman pemerintahan Soekarno karena buku Hoakiau di Indonesia, yang menentang peraturan yang mendiskriminasi keturunan Tionghoa. Selama dalam penjara (1965-1979) ia menulis 4 rangkaian novel sejarah yang kemudian semakin mengukuhkan reputasinya.

Berbagai penghargaan yang diterimanya pun kebanyakan berasal dari luar negeri, karena bangsanya sendiri sibuk untuk memenjarakan dirinya. Berbagai siksaan dan penderitaan banyak dialaminya. Termasuk terpaksa kehilangan sebagian pendengarannya, karena kepalanya dihajar popor bedil selama di penjara. Ia menulis novel pertamanya, Perburuan (1950), selama dua tahun di penjara Belanda (1947-1949).

Beliau juga dianggap sebagai orang yang paling berpengaruh di Asia (selain Iwan Fals dari Indonesia) versi majalah Time dan telah memperoleh berrbagai penghargaan seperti PEN Freedom-to-Write Award, Wertheim Award dari Belanda, serta Ramon Magsaysay Award dari Filipina.

Menurut lelaki yang sangat suka merokok ini, riset dan dokumentasi sangatlah penting dalam menghasilkan suatu karya tulis. Oleh karena itu perpustakaan pribadinya penuh dengan kliping-kliping koran. Karena umurnya, maka beliau mempekerjakan karyawan untuk mengumpulkan kliping. Kliping-kliping yang sekarang dikumpulkannya adalah tentang geografi Indonesia. Apabila kemudian dia memenangkan Nobel Sastra, maka uang yang didapatkannya dipakai untuk membuat Ensiklopedi Nusantara.

Selain menceritakan berbagai pengalaman hidupnya, beliau juga
memberikan pesan bahwa semua orang yang sukses dalam hidupnya dimulai sejak masih kanak-kanak. Oleh karena itu apabila ingin menjadi penulis maka setiap hari harus meluangkan waktu untuk menulis. Menulis itu juga membutuhkan keberanian karena apa yang kita tulis menjadi tanggung jawab pribadi. Beliau juga menyayangkan kenapa sekarang bangsa Indonesia menjadi bangsa kuli terbesar di dunia karena tak punya kemampuan produksi. Orang muda sekarang dikatakan Pram sebagai generasi yang konsumtif.

Sebagai penutup, beliau mengatakan bahwa tulisan yang bisa disebut sastra adalah yang meningkatkan kesadaran manusia. Mengutip Multatuli, “Kewajiban manusia adalah menjadi manusia.”

Positif versus Negatif

Pernahkah kalian lagi ngerasa bete lalu rasanya orang-orang
di sekitar kalian menjadi menyebalkan semuanya? Atau buat yang lagi putus cinta, hidup rasanya tak bermakna tanpa kehadiran sang kekasih (ceilah… gombal banget!-red). Apa pun itu, yang jelas perasaan negatif yang kita rasakan itu terbawa juga ke cara pandang kita. Dunia yang tadinya penuh warna, sekarang menjadi seperti foto black and white.

Sebuah penelitian mengatakan bahwa apa yang kita rasakan akan sampai ke otak, dan kemudian otak akan mengirimkan pesan ke seluruh tubuh. Jadi apabila kita merasa sedih, maka otak akan mengirimkan pesan ke mata supaya menangis, tubuh menjadi lemas. Sedangkan apabila kita lagi marah dan bete, secara otomatis tubuh kita jadi terasa tegang, kepala tiba-tiba jadi pusing, dan lain-lain.

Untuk mengatasi perasaan-perasaan negatif itu, semuanya tergantung dari sikap mental yang kita ambil. Sikap mental itu nantinya akan menentukan dunia seperti apa yang kita pilih. Kita bisa selalu happy dan mencapai sukses besar, atau menjalani hidup sengsara yang tidak punya harapan. Pilihannya ada di tangan kita.

Sikap mental itu harus diubah dari dalam ke luar. Mulai dari diri
sendiri. Sebanyak apapun nasehat yang kita terima, tidak akan bermanfaat apabila diri kita sendiri tidak mau berubah. Selain itu kita juga harus bersikap terbuka terhadap segala pemikiran orang lain. Sikap tertutup akan membangun benteng antara kita dengan dunia luar. Akibatnya kita tidak dapat menyerap energi positif dari orang-orang disekeliling kita.

Saya pernah berkenalan dengan seseorang yang bersikap tertutup terhadap pemikiran orang lain. Dia bersikap begitu karena kalau dia berubah dan mengikuti pemikiran orang lain, maka dia tidak menjadi dirinya sendiri. Salah satu contohnya adalah, ketika saya mengatakan padanya untuk sedikit berbasa-basi ketika berbicara dengan orang yang lebih tua, dia mengatakan tidak biasa seperti itu. Dan kalau dia berbasa-basi berarti dia tidak menjadi dirinya sendiri yang selalu berkata apa adanya. Akibatnya sekarang di lingkungan tetangganya dia menjadi pribadi yang tidak begitu disukai.

Karena itu pilihan untuk bersikap mental positif ada di tangan kita masing-masing. Apakah kita mau memandang segala sesuatu dari sisi negatif? Atau mencari segi positif dari setiap kejadian yang kita alami? Jika kita memilih untuk mengembalikan hidup di jalur yang positif, kita akan mengubah hidup menjadi lebih baik. Kita juga akan secara positif mempengaruhi orang-orang yang berhubungan dengan kita. Dengan begitu kita juga turut menjadi terang dunia.
“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik, dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5:16.

Monday, May 17, 2004

Pemilu Sukses di Stasi St. Yoakhim, Paroki St. Anna

Sabtu malam (17 April) di pelataran parkir Kapel St. Yoakhim ada lampion-lampion, kursi, dan sekelompok orang menyanyi diiringi musik. Ada apa, nich? Kafe Gaul Mudika Santa Anna pindah ke sana? Bukan. Malam itu adalah puncak dari PEMILU Ketua Mudika Stasi Yoakhim 2004-2006, yaitu pembacaan surat suara.

Pemilu ini cukup unik lho. Calon-calon kandidatnya diajukan oleh para mudika dengan menuliskan nama calonnya di papan pengumuman di depan kapel. Pencoblosan nama para kandidat dilakukan pada tanggal 10-11 April (selama misa Paskah) . Uniknya lagi setiap Mudika dikasih amplop yang berisi kertas dengan foto 7 kandidat dan tusuk gigi untuk nyoblos! Gak pernah kepikir kan nyoblos pake tusuk gigi.

Mudika Stasi Yoakhim yang terdiri dari lima wilayah (Malaka Jaya, Malaka Sari 1 dan 2, Pondok Kopi 1 dan 2) cukup terwakili oleh tujuh kandidat. Mereka adalah Sigit Triyono (Pondok Kopi 1), Danang (Malaka Sari 2), Andreas Wibisono (Malaka Jaya), Sigit Hartono (Malaka Jaya), Gracia (Pondok Kopi 1), Eni (Malaka Jaya), dan Jefry (Malaka Jaya). Jumlah mudika yang tercatat di Stasi Yoakhim adalah 470 orang. Yang menggunakan hak suaranya untuk memilih ada 408 mudika. Kita bisa lihat bahwa partisipasi mudika disini cukup tinggi dan jumlah kandidatnya lebih banyak daripada Pemilu Ketua Mudika Paroki 2002 yang cuma empat orang.

Pengurus Mudika Paroki sendiri sangat antusias dengan pemilu ini. “Saya cukup antusias melihat dari antusiame mereka, cara pemilihannya, dan cara mereka mengimplementasikan dan melaksanakan pemilu ini. Dari sini kita bisa belajar untuk Pemilu Ketua Mudika Paroki yang akan diadakan pada bulan Juli 2004,” kata Benny, Kabid. Organisasi.

Beny Pandu dari Seksi Kepemudaan pun cukup surprise dengan pemilu ini, yang menurutnya termasuk rekor untuk tingkat partisipasi mudika yang ikut memilih. Oleh karena itu ketua mudika stasi yang baru nanti sangat legitimate, dan kepercayaan dari 408 orang ini harus dimanfaatin oleh 7 kandidat, bukan hanya oleh satu orang saja. Ada tiga hal yang membuat pemilu ini berhasil, yaitu adanya dukungan dari orang tua, senior yang mau turun tangan, dan tingkat partisipasi mudika. “Menurut gue, sejak aktif di Mudika dari tahun 1998, ini adalah Pemilu Mudika yang paling bagus,’’ kata Beny.

Sebagai ketua baru akhirnya terpilih Danang dengan jumlah suara 121 dari 408 surat suara. “Perasaan gue stress juga nich. Karena ini awal baru, harus mulai dari awal lagi. Dan waktu yang diberikan bagi gue singkat karena kayaknya gue cuma bisa sampai tahun 2005 aja,” kata Danang. Untuk mengantisipasi hal ini, Danang kemudian langsung memilih Wakil, Sekretaris, dan Bendahara. Sehingga nantinya tugas yang ada dapat dikerjakan secara teamwork, dan tidak bertumpu pada satu orang saja. Maju terus Danang!

Friday, May 14, 2004

Choose Your Leader!

Who is your leader? Pertanyaan ini kayaknya pas juga untuk saat-saat sekarang. April kemarin PEMILU Nasional tahap pertama telah diadakan. Di kalangan anak mudika sendiri ada wilayah dan stasi yang telah melakukan pergantian ketua mudika. Bulan Juni besok Mudika Paroki juga mau ngadain Pemilu Ketua Mudika Paroki St. Anna. So, pertanyaan di atas cukup layak dipikirkan jawabannya.

Seringkali orang mengidentikkan pemimpin dengan posisi. Hanya karena seseorang menduduki posisi tertentu tidak berarti kemudian ia seorang pemimpin. Leadership itu fungsi, bukan posisi. Selain itu seorang pemimpin yang baik juga harus bisa membawa orang dari satu titik ke titik lain dengan cepat. Keputusan yang kebenarannya hanya 80% namun dibuat hari ini jauh lebih berguna daripada keputusan yang 100% benar namun baru dibuat keesokan harinya. Jadi, kepemimpinan adalah sesuatu yang sangat dinamis dan tidak statis.

Seorang peneliti kepemimpinan menemukan setidaknya ada 17.800 artikel yang dipublikasikan dalam bentuk jurnal mengenai kepemimpinan dari tahun 1986-1996. Ini baru dalam bentuk jurnal, belum yang lainnya. Dari sini bisa kita lihat bahwa leadership telah menjadi topik yang terus diteliti dan berkembang. Kepemimpinan adalah proses seumur hidup yang tidak ada habisnya

Dalam alkitab sendiri telah banyak contoh-contoh kepemimpinan yang dapat ditiru. Menurut saya sendiri pemimpin terbesar yang pernah ada adalah Yesus Kristus. Misi dan visi yang dimilikiNya sangat jelas dan Dia konsisten dengan misinya itu, walau ada banyak yang berusaha mengalihkan misi tersebut. Dia baru berkata “it’s finished” ketika di kayu salib. Selain itu integritas yang dimiliki Yesus juga sangatlah luar biasa. Segala yang dikatakannya adalah juga yang dilakukannya.

Selain itu Yesus adalah orang pertama yang mengajarkan bahwa seorang pemimpin itu haruslah melayani orang-orang di sekitarnya. Hal ini bisa kita lihat di Matius 20:25b-27, “Kamu tahu, bahwa bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani….”

So, friends kalo sampe sekarang masih ada yang bingung ngejawab pertanyaan di awal tulisan ini berarti ini saatnya buat kalian untuk ikut menentukan dan memilih siapa sih pemimpin yang kalian inginkan. Choose your leader! Entah itu di tingkat lingkungan, wilayah, stasi, paroki, maupun nasional. Jangan terlalu gampang nyerahin hak pilih kalian di tangan orang lain, meskipun memilih untuk tidak memilih adalah hak kalian juga.

Tuesday, May 11, 2004

Di Ujung Hidup

Tak kusadari telah sampai pada ujung hidup
Kutengok belakang, melihat masa yang tlah lampau
Perasaan yang bercampur-aduk
Bayangan orang silih berganti
Semuanya membaur penuh aneka warna

Kuingat kembali tiap perasaan pada tiap orang
Mereka yang melintas di jalan kehidupanku
Ada yang meninggalkan jejak kakinya
Ada yang hanya bayangan tubuhnya
Ada pula yang aromanya wangi maupun busuk

Namun, ada seorang lelaki yang tak juga hilang
Jejaknya, bayangannya, maupun aroma tubuhnya
Pada dialah jiwaku menitipkan asa dan cinta

Hati boleh mencintai banyak orang
Tapi jiwa hanya akan memilih satu pasangan

Pada suatu siang
Dimana matahari menampakkan emosinya yang garang
Jiwaku dan jiwanya melebur menjadi satu

Dan di ujung hidup ini
Lelaki itu kembali hadir
Dia… dan hanya dia…
Bintangku….


Jakarta, Mei 2004