Sunday, July 18, 2004

Pramoedya Ananta Toer

Siang yang begitu terik di stasiun kereta Bojong Gede, Bogor, tidak dapat menahan langkah BUANA untuk tetap menuju ke rumah Pramoedya Ananta Toer. Novel tetraloginya yang berjudul Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca, membuat BUANA ingin mengetahui lebih jauh pribadi sang penulis. Selain itu juga karena belasan buku-bukunya telah diterjemahkan ke dalam 38 bahasa, dan karena beliau juga termasuk salah satu calon pemenang Penghargaan Nobel Sastra.

Lelaki kelahiran Blora, 6 Februari 1925, ini mulai menulis sejak dia masih SD. Awalnya adalah karena dia pernah tidak naik kelas sebanyak tiga kali, sehingga ayahnya menjadi keras terhadapnya. Karena Pramoedya termasuk pendiam, maka dia melampiaskan perasaannya lewat tulisan. Hidupnya pun kemudian banyak dihabiskan di balik penjara. Di zaman revolusi kemerdekaan ia dipenjara di Bukit Duri Jakarta (1947-1949), dijebloskan lagi ke penjara di zaman pemerintahan Soekarno karena buku Hoakiau di Indonesia, yang menentang peraturan yang mendiskriminasi keturunan Tionghoa. Selama dalam penjara (1965-1979) ia menulis 4 rangkaian novel sejarah yang kemudian semakin mengukuhkan reputasinya.

Berbagai penghargaan yang diterimanya pun kebanyakan berasal dari luar negeri, karena bangsanya sendiri sibuk untuk memenjarakan dirinya. Berbagai siksaan dan penderitaan banyak dialaminya. Termasuk terpaksa kehilangan sebagian pendengarannya, karena kepalanya dihajar popor bedil selama di penjara. Ia menulis novel pertamanya, Perburuan (1950), selama dua tahun di penjara Belanda (1947-1949).

Beliau juga dianggap sebagai orang yang paling berpengaruh di Asia (selain Iwan Fals dari Indonesia) versi majalah Time dan telah memperoleh berrbagai penghargaan seperti PEN Freedom-to-Write Award, Wertheim Award dari Belanda, serta Ramon Magsaysay Award dari Filipina.

Menurut lelaki yang sangat suka merokok ini, riset dan dokumentasi sangatlah penting dalam menghasilkan suatu karya tulis. Oleh karena itu perpustakaan pribadinya penuh dengan kliping-kliping koran. Karena umurnya, maka beliau mempekerjakan karyawan untuk mengumpulkan kliping. Kliping-kliping yang sekarang dikumpulkannya adalah tentang geografi Indonesia. Apabila kemudian dia memenangkan Nobel Sastra, maka uang yang didapatkannya dipakai untuk membuat Ensiklopedi Nusantara.

Selain menceritakan berbagai pengalaman hidupnya, beliau juga
memberikan pesan bahwa semua orang yang sukses dalam hidupnya dimulai sejak masih kanak-kanak. Oleh karena itu apabila ingin menjadi penulis maka setiap hari harus meluangkan waktu untuk menulis. Menulis itu juga membutuhkan keberanian karena apa yang kita tulis menjadi tanggung jawab pribadi. Beliau juga menyayangkan kenapa sekarang bangsa Indonesia menjadi bangsa kuli terbesar di dunia karena tak punya kemampuan produksi. Orang muda sekarang dikatakan Pram sebagai generasi yang konsumtif.

Sebagai penutup, beliau mengatakan bahwa tulisan yang bisa disebut sastra adalah yang meningkatkan kesadaran manusia. Mengutip Multatuli, “Kewajiban manusia adalah menjadi manusia.”

Positif versus Negatif

Pernahkah kalian lagi ngerasa bete lalu rasanya orang-orang
di sekitar kalian menjadi menyebalkan semuanya? Atau buat yang lagi putus cinta, hidup rasanya tak bermakna tanpa kehadiran sang kekasih (ceilah… gombal banget!-red). Apa pun itu, yang jelas perasaan negatif yang kita rasakan itu terbawa juga ke cara pandang kita. Dunia yang tadinya penuh warna, sekarang menjadi seperti foto black and white.

Sebuah penelitian mengatakan bahwa apa yang kita rasakan akan sampai ke otak, dan kemudian otak akan mengirimkan pesan ke seluruh tubuh. Jadi apabila kita merasa sedih, maka otak akan mengirimkan pesan ke mata supaya menangis, tubuh menjadi lemas. Sedangkan apabila kita lagi marah dan bete, secara otomatis tubuh kita jadi terasa tegang, kepala tiba-tiba jadi pusing, dan lain-lain.

Untuk mengatasi perasaan-perasaan negatif itu, semuanya tergantung dari sikap mental yang kita ambil. Sikap mental itu nantinya akan menentukan dunia seperti apa yang kita pilih. Kita bisa selalu happy dan mencapai sukses besar, atau menjalani hidup sengsara yang tidak punya harapan. Pilihannya ada di tangan kita.

Sikap mental itu harus diubah dari dalam ke luar. Mulai dari diri
sendiri. Sebanyak apapun nasehat yang kita terima, tidak akan bermanfaat apabila diri kita sendiri tidak mau berubah. Selain itu kita juga harus bersikap terbuka terhadap segala pemikiran orang lain. Sikap tertutup akan membangun benteng antara kita dengan dunia luar. Akibatnya kita tidak dapat menyerap energi positif dari orang-orang disekeliling kita.

Saya pernah berkenalan dengan seseorang yang bersikap tertutup terhadap pemikiran orang lain. Dia bersikap begitu karena kalau dia berubah dan mengikuti pemikiran orang lain, maka dia tidak menjadi dirinya sendiri. Salah satu contohnya adalah, ketika saya mengatakan padanya untuk sedikit berbasa-basi ketika berbicara dengan orang yang lebih tua, dia mengatakan tidak biasa seperti itu. Dan kalau dia berbasa-basi berarti dia tidak menjadi dirinya sendiri yang selalu berkata apa adanya. Akibatnya sekarang di lingkungan tetangganya dia menjadi pribadi yang tidak begitu disukai.

Karena itu pilihan untuk bersikap mental positif ada di tangan kita masing-masing. Apakah kita mau memandang segala sesuatu dari sisi negatif? Atau mencari segi positif dari setiap kejadian yang kita alami? Jika kita memilih untuk mengembalikan hidup di jalur yang positif, kita akan mengubah hidup menjadi lebih baik. Kita juga akan secara positif mempengaruhi orang-orang yang berhubungan dengan kita. Dengan begitu kita juga turut menjadi terang dunia.
“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik, dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Matius 5:16.

Monday, May 17, 2004

Pemilu Sukses di Stasi St. Yoakhim, Paroki St. Anna

Sabtu malam (17 April) di pelataran parkir Kapel St. Yoakhim ada lampion-lampion, kursi, dan sekelompok orang menyanyi diiringi musik. Ada apa, nich? Kafe Gaul Mudika Santa Anna pindah ke sana? Bukan. Malam itu adalah puncak dari PEMILU Ketua Mudika Stasi Yoakhim 2004-2006, yaitu pembacaan surat suara.

Pemilu ini cukup unik lho. Calon-calon kandidatnya diajukan oleh para mudika dengan menuliskan nama calonnya di papan pengumuman di depan kapel. Pencoblosan nama para kandidat dilakukan pada tanggal 10-11 April (selama misa Paskah) . Uniknya lagi setiap Mudika dikasih amplop yang berisi kertas dengan foto 7 kandidat dan tusuk gigi untuk nyoblos! Gak pernah kepikir kan nyoblos pake tusuk gigi.

Mudika Stasi Yoakhim yang terdiri dari lima wilayah (Malaka Jaya, Malaka Sari 1 dan 2, Pondok Kopi 1 dan 2) cukup terwakili oleh tujuh kandidat. Mereka adalah Sigit Triyono (Pondok Kopi 1), Danang (Malaka Sari 2), Andreas Wibisono (Malaka Jaya), Sigit Hartono (Malaka Jaya), Gracia (Pondok Kopi 1), Eni (Malaka Jaya), dan Jefry (Malaka Jaya). Jumlah mudika yang tercatat di Stasi Yoakhim adalah 470 orang. Yang menggunakan hak suaranya untuk memilih ada 408 mudika. Kita bisa lihat bahwa partisipasi mudika disini cukup tinggi dan jumlah kandidatnya lebih banyak daripada Pemilu Ketua Mudika Paroki 2002 yang cuma empat orang.

Pengurus Mudika Paroki sendiri sangat antusias dengan pemilu ini. “Saya cukup antusias melihat dari antusiame mereka, cara pemilihannya, dan cara mereka mengimplementasikan dan melaksanakan pemilu ini. Dari sini kita bisa belajar untuk Pemilu Ketua Mudika Paroki yang akan diadakan pada bulan Juli 2004,” kata Benny, Kabid. Organisasi.

Beny Pandu dari Seksi Kepemudaan pun cukup surprise dengan pemilu ini, yang menurutnya termasuk rekor untuk tingkat partisipasi mudika yang ikut memilih. Oleh karena itu ketua mudika stasi yang baru nanti sangat legitimate, dan kepercayaan dari 408 orang ini harus dimanfaatin oleh 7 kandidat, bukan hanya oleh satu orang saja. Ada tiga hal yang membuat pemilu ini berhasil, yaitu adanya dukungan dari orang tua, senior yang mau turun tangan, dan tingkat partisipasi mudika. “Menurut gue, sejak aktif di Mudika dari tahun 1998, ini adalah Pemilu Mudika yang paling bagus,’’ kata Beny.

Sebagai ketua baru akhirnya terpilih Danang dengan jumlah suara 121 dari 408 surat suara. “Perasaan gue stress juga nich. Karena ini awal baru, harus mulai dari awal lagi. Dan waktu yang diberikan bagi gue singkat karena kayaknya gue cuma bisa sampai tahun 2005 aja,” kata Danang. Untuk mengantisipasi hal ini, Danang kemudian langsung memilih Wakil, Sekretaris, dan Bendahara. Sehingga nantinya tugas yang ada dapat dikerjakan secara teamwork, dan tidak bertumpu pada satu orang saja. Maju terus Danang!

Friday, May 14, 2004

Choose Your Leader!

Who is your leader? Pertanyaan ini kayaknya pas juga untuk saat-saat sekarang. April kemarin PEMILU Nasional tahap pertama telah diadakan. Di kalangan anak mudika sendiri ada wilayah dan stasi yang telah melakukan pergantian ketua mudika. Bulan Juni besok Mudika Paroki juga mau ngadain Pemilu Ketua Mudika Paroki St. Anna. So, pertanyaan di atas cukup layak dipikirkan jawabannya.

Seringkali orang mengidentikkan pemimpin dengan posisi. Hanya karena seseorang menduduki posisi tertentu tidak berarti kemudian ia seorang pemimpin. Leadership itu fungsi, bukan posisi. Selain itu seorang pemimpin yang baik juga harus bisa membawa orang dari satu titik ke titik lain dengan cepat. Keputusan yang kebenarannya hanya 80% namun dibuat hari ini jauh lebih berguna daripada keputusan yang 100% benar namun baru dibuat keesokan harinya. Jadi, kepemimpinan adalah sesuatu yang sangat dinamis dan tidak statis.

Seorang peneliti kepemimpinan menemukan setidaknya ada 17.800 artikel yang dipublikasikan dalam bentuk jurnal mengenai kepemimpinan dari tahun 1986-1996. Ini baru dalam bentuk jurnal, belum yang lainnya. Dari sini bisa kita lihat bahwa leadership telah menjadi topik yang terus diteliti dan berkembang. Kepemimpinan adalah proses seumur hidup yang tidak ada habisnya

Dalam alkitab sendiri telah banyak contoh-contoh kepemimpinan yang dapat ditiru. Menurut saya sendiri pemimpin terbesar yang pernah ada adalah Yesus Kristus. Misi dan visi yang dimilikiNya sangat jelas dan Dia konsisten dengan misinya itu, walau ada banyak yang berusaha mengalihkan misi tersebut. Dia baru berkata “it’s finished” ketika di kayu salib. Selain itu integritas yang dimiliki Yesus juga sangatlah luar biasa. Segala yang dikatakannya adalah juga yang dilakukannya.

Selain itu Yesus adalah orang pertama yang mengajarkan bahwa seorang pemimpin itu haruslah melayani orang-orang di sekitarnya. Hal ini bisa kita lihat di Matius 20:25b-27, “Kamu tahu, bahwa bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani….”

So, friends kalo sampe sekarang masih ada yang bingung ngejawab pertanyaan di awal tulisan ini berarti ini saatnya buat kalian untuk ikut menentukan dan memilih siapa sih pemimpin yang kalian inginkan. Choose your leader! Entah itu di tingkat lingkungan, wilayah, stasi, paroki, maupun nasional. Jangan terlalu gampang nyerahin hak pilih kalian di tangan orang lain, meskipun memilih untuk tidak memilih adalah hak kalian juga.

Tuesday, May 11, 2004

Di Ujung Hidup

Tak kusadari telah sampai pada ujung hidup
Kutengok belakang, melihat masa yang tlah lampau
Perasaan yang bercampur-aduk
Bayangan orang silih berganti
Semuanya membaur penuh aneka warna

Kuingat kembali tiap perasaan pada tiap orang
Mereka yang melintas di jalan kehidupanku
Ada yang meninggalkan jejak kakinya
Ada yang hanya bayangan tubuhnya
Ada pula yang aromanya wangi maupun busuk

Namun, ada seorang lelaki yang tak juga hilang
Jejaknya, bayangannya, maupun aroma tubuhnya
Pada dialah jiwaku menitipkan asa dan cinta

Hati boleh mencintai banyak orang
Tapi jiwa hanya akan memilih satu pasangan

Pada suatu siang
Dimana matahari menampakkan emosinya yang garang
Jiwaku dan jiwanya melebur menjadi satu

Dan di ujung hidup ini
Lelaki itu kembali hadir
Dia… dan hanya dia…
Bintangku….


Jakarta, Mei 2004

Tuesday, April 20, 2004

Tanganku dan TanganNya

Jejak-jejak langkahNya mulai memudar di tanah basah
LangkahNya mulai melunglai….

Orang-orang ramai berjalan di sekelilingku
Suasana penuh kebahagian dan sukacita
Hatiku sepi… merindukan seseorang
Jiwaku bagaikan sedang berjalan membelah laut
Mencari sesuatu… tapi entah apa.

Di tengah keramaian kudengar namaku dipanggil
Kucari-cari arah suara itu
Kuberputar-putar terus….
Apakah aku sedang berada di pusaran angin?

Kubiarkan angin membawaku
Rintik hujan… panas mentari…
Pekatnya malam… teriknya siang
Sampai kemudian angin menjatuhkanku
Di atas tanah basah memerah darah

Sesosok manusia kulihat ada di belakangku
Begitu pucat dan rapuh tampaknya
LangkahNya semakin mendekat
Kemudian tanganNya terulur dan memegang tanganku
“Ayo kawan, perjalanan masih jauh.”

Hatiku bergejolak penuh sukacita
Dan itu hanya karna Dia memegang tanganku

Sejak saat itu tanganku tak pernah lepas dari tanganNya
Apa yang kucari telah kutemukan…

Thursday, March 11, 2004

Welcome to Jonggol Adventure Camp!

Seminggu setelah valentine, teman-teman mudika dari berbagai wilayah dan kategorial berkumpul bersama dari tanggal 21-23 Februari 2004 di daerah Jonggol. Eits… jangan keburu membayangkan ini adalah acara
valentine mudika. Jauh dari hiruk pikuk kota besar, teman-teman kita ini mengikuti acara Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) yang diadakan Mudika Paroki Santa Anna.

LDK kali ini diadakan di Jonggol Adventure Camp (JAC). Di JAC ini peserta LDK benar-benar merasakan hidup di alam yang masih asri dan udara bersih. Saking dekatnya dengan alam, tidur pun terpaksa bareng
laba-laba segede telapak tangan. Jangan pula mengharapkan tempat tidur yang empuk, karena di sini peserta tidur hanya beralaskan kasur lipat yang tipis. Walaupun begitu para peserta tetap semangat
mengikuti setiap session yang diberikan para fasilitator dari Koperasi Kaum Muda (KKM). KKM ini adalah tuan rumah di JAC, mereka khusus memberikan pelatihan-pelatihan. Anggota KKM terdiri dari para kaum muda dari berbagai paroki di Jakarta.

Pada session pertama, peserta diajak untuk nonton film “Walk on Water”. Session ini bertopik Christian Leadership. Di sini peserta dapat semakin memahami bagaimanakah kepemimpinan yang diajarkan oleh
Yesus, yaitu pemimpin yang peduli pada rakyat banyak, menyelesaikan setiap permasalah tidak dengan kekerasan, dan terutama percaya sepenuhnya bahwa tidak ada permasalahan yang tidak dapat diselesaikan Allah, Tuhan kita.

Hari kedua, adalah hari berbecek-becek ria. Hujan selama 2 hari telah membuat areal JAC tergenang air dan berlumpur. Di hari kedua ini fokus dari setiap session adalah untuk team building dan management team. Materi yang dibawakan adalah bagaimana cara untuk masuk ke dalam suatu komunitas, persoalan yang dihadapi mudika baik di wilayah/lingkungan, peran orang muda yang seharusnya di wilayah/lingkungan. Selain itu juga ada kegiatan outbond yang tetap dilakukan walaupun hujan deras. Hasilnya…. Semua peserta bajunya berlumpur. Cccckk….coba ada ibu Rinso.

Melalui outbond ini kerjasama tim antar peserta diuji. Untuk itu agar kerjasama tim berhasil ada strateginya, yaitu: membina hubungan baik dengan team work; jangan pernah takut mengatakan pada team work apa yang kamu miliki; saling mengingatkan antar anggota kelompok untuk memusatkan tujuan; penghargaan pada tim; dan terimalah perbedaan antar tim.

Malam harinya adalah malam keakraban antar peserta yang kemudian dilanjutkan dengan misa oleh Romo Dibyo. Setelah misa selesai, semua peserta langsung tidur karena esok harinya mereka harus bangun pukul
3 pagi untuk tracking ke Batu Tapak yang ada di puncak bukit. Pada saat para peserta telah sampai ke Batu Tapak, mereka dapat melihat sunrise yang begitu indah. Nggak rugi juga bangun pagi-pagi, capek-capek naik ke puncak bukit untuk ngelihat matahari terbit.

Di hari terakhir ini para peserta diajak untuk mengajukan usul kegiatan yang ingin mereka adakan dan berkomitmen untuk melaksanakannya. Hasilnya adalah mereka ingin mengadakan kegiatan Koor Mudika, Festival Band, Festival Paduan Suara, dan Workshop Jurnalistik. Nah, sekarang yuk kita dukung kegiatan-kegiatan ini!

Wednesday, February 11, 2004

YOUTH FOR CHRIST

What is YFC? Banyak teman-teman yang mengasosiasikan YFC dengan nama resto fast food terkenal yang menjajakan fried chicken. Padahal sih, beda banget dan gak ada hubungannya sama sekali. Karena YFC ini
adalah singkatan dari Youth For Christ, yaitu suatu komunitas tempat ngumpulnya remaja dan anak muda yang suka have fun, jalan-jalan, nonton bareng, dll.

Walaupun teman-teman di YFC seneng dengan yang fun-fun, tapi fun yang clean, lho. Karena YFC adalah salah satu badan pelayanan Keluarga (Family Ministry) dari CFC (Couples For Christ) atau Pasukris dimana Pasukris adalah gerakan rohani komunitas Keluarga Katolik (bersifat internasional karena sudah tersebar di 109 negara) yang ingin mengangkat dan membangun keluarga Katolik yang mau melaksanakan karya pewartaan serta memenangkan dunia untuk Tuhan Yesus melalui kekuatan Roh Kudus.

YFC merupakan wadah bagi anak muda Kristiani yang ingin lebih mengenal Yesus. Komunitas ini berasal dari Philipina dan masuk Indonesia untuk pertama kali di Jakarta Timur, tepatnya di Paroki Santa Anna pada tahun 1995. Saat ini YFC telah memiliki sekitar 700 anggota di Indonesia dan tersebar di kota Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Sragen, Weleri, Solo, Wonosari, Palembang, Manado, Bitung, Medan, Larantuka, Pangkal Pinang, dan Pelabuhan Ratu. Selain itu YFC juga sudah ada di Kampus Unika Atma Jaya, Jakarta.

Keanggotaan YFC terbuka untuk semua anak muda usia 15-24 tahun. Untuk menjadi anggota YFC haruslah mengikuti suatu program ini inisiasi yang disebut Youth Camp, yaitu suatu program yang memperkenalkan Yesus ke dalam hidup kita, mendorong kita untuk mengundang Yesus dalam kehidupan kita, dan mengundang untuk mendukung lingkungan YFC sebagai anggota yang aktif. Pembicaranya juga dari anak-anak muda sendiri, jadi apa yang disampaikan rasanya lebih gampang diterima dan diserap. Ada 4F yang ngebedain YFC dari komunitas muda mudi lainnya, yaitu Faith, Friendship, Freedom, Fun
(Clean Fun). 4F ini adalah ciri khas YFC.

Oleh karena itu, diantara kegiatan jalan-jalan bareng, nonton bareng, makan bareng (fellowship), YFC juga punya kegiatan yang namanya Household. Nah, dalam Household ini teman-teman bisa membahas ayat-ayat kitab suci sembari saling sharing dan curhat. Household ini tujuannya untuk saling menguatkan satu sama lain. Jadi kalo ada teman yang lagi ‘jatuh’, kita bisa tolong menolong. Karena terkadang ada masalah-masalah dimana kita merasa lebih enak untuk cerita dengan teman sebaya dibandingkan dengan orang tua. Nah, household inilah tempatnya. Selain itu di Household juga ada doa rosario, pengajaran mengenai topik rohani, sharing tentang topik tertentu (yang berkaitan dengan Rohani, dan Yesus, pengajaran lagu baru, mini Praise and Worship. Lagu-lagu yang digunakan dalam YFC, asik punya lho! Banyak dari lagu-lagu YFC yang irama & teksnya dahsyat... Beberapa lagu nge-pop, ada yang berirama R&B

Selain Fellowship, Household, dan Youth Camp, YFC masih punya banyak acara-acara lain seperti General Assembly (GA) yang diadakan setiap 2 bulan sekali. Dalam GA, teman-teman dapat bertemu dengan para
YFC se-Jakarta. Terus, karena YFC ini organisasi internasional maka ada juga acara konferensi YFC se-Asia Tenggara, yang pada tahun 2002 kemarin diadakan di Yogyakarta. Terus untuk dalam negeri sendiri, pada bulan Agustus mendatang akan diadakan YFC National Conference. Untuk para pengurus-pengurus YFC sendiri ada yang namanya Leaders Training yang akan melatih kepemimpinan teman-teman.

Untuk kegiatan non-rutin, YFC juga punya yang namanya Sports Festival yang akan melatih kekompakan anggota YFC. Sports Festival terakhir telah diadakan di Hall Bulutangkis Senayan pada tanggal 15 Februari 2004. Kegiatan-kegiatan yang lainnya seperti Covenant, Orientation Party, Mission Exchange, Campus Tour, Club Praise, dan lain-lain.

Di YFC kita akan menemukan tempat dimana orang-orang muda berkumpul untuk bersenang-senang, saling mendukung satu sama lain dan percaya pada Tuhan. Kita semua di YFC percaya bahwa anak muda penuh dengan ide-ide unik dan diberkati Tuhan dengan talenta-talenta; bahwa anak-anak muda membutuhkan sahabat-sahabat dan teladan, dan karena itu harus diberikan kesempatan untuk mengembangkan ketrampilan-ketrampilan dan hubungan ini dalam lingkungan Kristiani yang sehat.

Untuk info lebih lanjut bisa lihat di situs resmi CFC: www.cfcglobal.org.ph

Saturday, January 10, 2004

Be Positive in 2004

Hai friends! Happy New Year 2004, yach. Gimana acara tahun baruan
kemarin? Udah bikin resolusi tahun baru, kan? Resolusi itu adalah
sesuatu atau beberapa hal yang ingin kita capai di tahun baru ini.
Seperti ingin untuk lebih memahami orang lain, lebih sabar, lebih rajin, lulus SMU dengan nilai baik, lulus kuliah dengan IPK diatas 3, dapat promosi untuk naik jabatan, dan lain-lain.

Kalo kita tengok sebentar tahun 2003 kemarin penuh sekali dengan
bencana, perang, rusuh, dan konflik. Diawali dengan perang antara
Amerika dan Irak, lalu adanya virus SARS yang sampai sekarang belum
ditemukan pencegahnya. Kemudian dari negeri sendiri ada peristiwa tragis peledakan bom di Hotel J.W. Marriott dan penyiksaan terhadap beberapa siswa STPDN. Alam pun sepertinya tak bersahabat. Mulai dari adanya musim kering yang berkunjung ke setiap penjuru Indonesia, sampai ke banjir bandang di Bukit Lawang, Sumatera Utara. Tapi ada juga peristiwa langka yang hanya terjadi setiap 60.000 tahun sekali, yaitu Planet Mars bisa dilihat dari bumi dengan mata telanjang (walau ternyata kecil sekali setelah dilihat).

Sementara dari dalam diri kita sendiri, banyak juga kejadian tidak
mengenakkan yang terjadi. Putus pacaran, di-PHK karena kantor tempat
kerja bangkrut, berantem sama orang tua, iri hati sama teman, balas
dendam dengan seseorang yang pernah menyakiti kita, dapat IPK nasakom (nasib satu koma), dan lain-lain. Intinya segala hal yang membuat kita merasa begitu buruk dan tak berguna.

Saking banyaknya kejadian dan peristiwa buruk yang terjadi di 2003,
tahun baru ini jadi terasa biasa saja. Banyak orang yang mengawali tahun ini dengan perasaan pesimis dan ketakutan akan peristiwa-peristiwa buruk yang akan terjadi di 2004. Padahal belum tentu peristiwa atau kejadian buruk yang kita bayangkan itu akan terjadi.

Tahun 2004 adalah tahun yang baru. Lupakan segala peristiwa buruk yang telah kau alami. Tinggalkan semua itu di tahun 2003. Kalau kamu terus memikirkannya, maka hal itu akan mempengaruhi dan menghalangimu untuk menjadi seseorang yang baru. Seseorang yang penuh harapan menatap masa depan. Kalau dulu kamu adalah seorang pemarah, maka tahun ini kamu punya kesempatan untuk menjadi orang yang sabar. Kalau dulu kita sering banget berantem sama ortu, tahun ini kamu bisa mempunyai hubungan yang lebih dekat.

Semuanya tergantung pada dirimu sendiri. Mau berubah atau tidak?
Berpikirlah positif dalam segala sesuatu. Buatlah resolusi tahun baru untuk dirimu sendiri.”….. aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku….” (Filipi 3:13b).

Saturday, December 06, 2003

BIKIN HIDUP LEBIH HIDUP

“Payungnya, Kak.” Aku langsung tersadar dari lamunanku. Didepanku ada seorang anak kecil berbaju merah lusuh dan tidak mengenakan alas kaki menawarkan ojek payung.
“Oh, terima kasih. Tapi Kakak masih menunggu teman,” sahutku. Sekarang sudah jam 2 siang. Temanku sepertinya masih lama datangnya padahal sudah ½ jam berlalu dari bel pulang sekolah. Kulihat lagi anak kecil itu. Sepertinya dia sangat mengharapkan ada yang menerima ojek payungnya. Sesekali dia kulihat melirik ke plastik merah yang ada ditanganku. Didalamnya memang ada roti isi coklat. Mungkin dia lapar…
“Dek, kesini sebentar,” aku memanggilnya.
“Ini ada roti untuk kamu. Ambil saja. Kamu lapar, kan,” tanyaku.
“Terima kasih, Kak,” sahutnya. Kemudian dia berlari menemui seorang anak laki-laki yang sama-sama menjadi pengojek payung. Roti yang kuberikan ternyata dia berikan lagi untuk anak itu.
“Itu adik kamu,” tanyaku saat dia kembali.
“Bukan. Itu teman saya. Rotinya boleh saya berikan untuk dia, kan Kak,” tanyanya.
“Boleh aja,” jawabku.
“Tapi bukannya kamu juga lapar? Kok rotinya tidak kamu makan saja?”
“Saya udah makan tadi pagi,” jawab anak itu.
“Makan siangnya kan belum,” tanyaku lagi.
“Ah, tapi mendingan buat temen saya aja. Dia belum makan dari pagi tadi.”

Tiba-tiba saja aku merasa terharu. Anak ini masih kecil. Mungkin kalau sekolah masih duduk di kelas 4 SD, tapi dia sudah sangat memahami apa artinya berbagi. Dan dia berbagi bukan dari kelebihannya tapi dari kekurangannya. Kemiskinan dan kekurangan justru menjadi alasan bukan penghalang bagi anak itu untuk saling menolong dan memberi.

Aku teringat kata-kata Ibu Teresa dari Kalkuta, “Penderitaan membuat orang peka terhadap penderitaan orang lain. Dan hanya mereka yang pernah menderita bisa menolong sesamanya yang menderita, sehabis-habisnya.”

Terima kasih, ya adik kecil. Kamu sudah memberi pelajaran yang berharga siang ini. Kehadiran dirimu di sekolah ini memberi nuansa berbeda diantara teman-temanku yang tiap hari pergi main ke mall dan clubbing ke Embassy (tempat favorit para clubbers di Jakarta-red) setiap weekend. Padahal uang yang mereka gunakan itu bisa membantu teman-teman lain yang kekurangan.

Hidup ini pendek, temanku. Kejarlah kasih Allah di dalam hidupmu dengan memberikan kasih kepada orang-orang yang berkekurangan. Dan jangan beralasan, “Aku masih masih muda,” (1 Timotius 4:12) atau “Aku akan melakukannya nanti kalau sudah dewasa.” Karena tindakan kasih pada orang yang kekurangan tidak dapat kau tunda (Sirakh 4:3). Jadikan hidupmu lebih hidup bagi dirimu sendiri maupun orang lain.

Tuesday, December 02, 2003

LETTER TO A FRIEND

Jakarta, 1 Desember 2003

Temanku, Tuhan itu baek banget yah. Dia tahu banget bagaimana membentuk aku sehingga semakin serupa denganNya. Untuk dekat denganNya, kita tidak harus menjadi sempurna dulu. Tidak harus menjadi suci dulu untuk dapat mengenalNya. Justru dengan ketidaksempurnaan kita, tangan-tangan Tuhan akan menghasilkan karya yang besar dan indah.

Coba bayangkan kalau kamu dilahirkan dalam keadaan sempurna, ganteng/cantik, atletis/langsing, kaya, bahagia, bijaksana, jenius, dll. Pasti kamu tidak akan merasakan bagaimana senangnya mendapat pujian karena kamu sudah terbiasa menerimanya. Bagaimana senangnya mendapat gaji pertama hasil kerja kerasmu tidak akan kau rasakan apabila kau kaya raya. Berjalan bersama orang yang kau sayangi akan terasa hambar karena dengan kesempurnaanmu, kau bisa memilih dengan siapa saja kau akan berjalan bersama. Kau tidak akan membutuhkan nasehat dari siapa pun karena kau sudah terlahir bijaksana, sehingga kehilangan kedekatan jiwa dengan orang-orang yang menjadi sahabatmu. Dan terlebih kau tidak akan merasakan betapa manisnya kasih Tuhan karna kau merasa bisa mengatasi segala persoalan.

Ketidaksempurnaan yang ada pada kita adalah karena Tuhan begitu baik dengan kita. Segala kesusahan dan kebahagian yang diberikanNya adalah untuk membentuk kita sesuai dengan rencanaNya. Dia tidak pernah meninggalkan kita. Bagaimana pun buruknya kita di mata dunia, Dia memandang jauh di kedalaman hati kita. Dia tahu kita membutuhkan sentuhan kasihNya. Walaupun kita terkadang memungkiriNya, Dia tetap berjalan di samping kita. Dia tidak berjalan di depan atau di belakang kita, tapi Dia berjalan di samping kita. Karena dengan begitu Dia bisa menggenggam tangan kita.

Aku juga bukan manusia sempurna. Terkadang aku terjatuh ke dalam lobang yang sama, tapi Yesus dengan kasihNya ikut masuk ke dalam lobang itu dan membantuku untuk naik ke atas. Berkali-kali aku memohon ampun padaNya, dan berkali-kali pula Yesus mengampuni semua dosa-dosaku.
Aku juga bersyukur atas segala rasa sedih dan perih yang kurasakan, karena itu semakin membuatku dekat dengan Yesus. Membuatku kembali ke hadiratNya dan berdoa mencari tahu apa maksud dari semua kejadian yang boleh kualami ini.

Temanku, sebentar lagi Natal. Kamu akan pulang ke Jakarta, kan? Aku pengen pergi ke gereja bersamamu. Mungkin kita bisa mengaku dosa bersama-sama sebelum Natal. Yah, benar. Aku ingin kita bersama-sama menyiapkan hati untuk Yesus.
Sampai ketemu di Jakarta….

With love,

Lia

Sunday, November 30, 2003

Mengapa Saya Tertarik Menjadi PENULIS?

Penulis bagi saya adalah seorang yang bebas dalam mengekspresikan perasaannya, pikirannya dan keinginannya. Dengan menjadi seorang penulis saya juga sekaligus belajar untuk lebih peka dengan lingkungan sekitar. Kepekaan itu akan menghasilkan pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan tertentu dalam diri saya. Keinginan untuk membebaskan pikiran dan perasaan itu tersalurkan dengan menuangkannya dalam bentuk tulisan. Sehingga orang banyak dapat mengetahuinya.

Memang, banyak orang mengatakan bahwa saya cenderung lebih ekspresif lewat tulisan. Tapi dalam beberapa bulan terakhir ini saya mulai menyadari bahwa untuk menjadi penulis yang baik haruslah dapat mengekspresikan pikiran dan perasaan tidak hanya lewat tulisan. Saya ingin menjadi penulis yang baik sekaligus juga komunikator sejati seperti Yesus Kristus. Proses belajar untuk jadi penulis tidak akan berhenti di usia saya yang hampir 23 tahun. Proses untuk menjadi seorang penulis ini akan berlangsung seumur hidup. Menjadi penulis berarti harus siap untuk jujur dengan orang lain maupun diri sendiri.

Wednesday, November 12, 2003

In Loving Memories of Pater Albertus Setiawan Gani SJ

Selasa, 21 Maret 2003 sekitar pukul 08:30 saya mendapat sms dari ibu saya yang mengabarkan bahwa Rm. Albertus Setiawan Gani SJ, telah wafat. Saat itu saya sedang berada di Jogja. Ini sepertinya mustahil karena saya tahu Rm. Gani dalam keadaan sehat-sehat saja. Beberapa minggu sebelumnya bahkan masih ikut ziarah ke Gua Maria yang ada di Jawa Tengah bersama kelompok SADHANA St. Anna.

Berdasarkan surat yang dikeluarkan Serikat Jesus Provinsi Indonesia, dituliskan bahwa pada Selasa, 21 Oktober 2003 beliau jatuh pada saat pergi ke kamar mandi dan tidak sadarkan diri. Pada pukul 08:00 Rm. A. Setiawan Gani SJ menghadap Bapanya di Surga dengan damai dan bahagia di RS St. Carolus, Jakarta. Saat ini beliau pasti telah berjumpa dengan Yesus dan Maria, hal yang sangat didambakan sepanjang hidupnya selama 67 tahun.

Lahir di Jakarta pada tanggal 17 Juni 1936 sebagai putra pertama dari pasutri Bapak Gani Gan Tiam Tek dengan Ibu Dina Rusli (Lie Giok Kie), romo yang berbintang Gemini ini mempunyai hobi berdoa, main piano/organ, dan membaca. Koleksi buku yang dimilikinya cukup banyak sehingga beliau merupakan nara sumber segala hal yang sifatnya spiritual. Selain itu beliau juga sangat senang apabila diminta untuk memberikan retret. Membina kerohanian orang lain adalah hal yang sangat dianggap penting olehnya.

Dari tahun 1998 beliau mulai bertugas di St. Anna sampai dengan bulan April 2003, dan kemudian bertugas sebagai Ekonom Kolese Hermanum, Jakarta. Di sela-sela kesibukannya di Kolese Hermanum, beliau masih menyempatkan diri sesekali datang ke St. Anna untuk membina kelompok SADHANA. Hubungan romo dengan para sadhanawan cukup dekat karena beliau membimbing mereka secara pribadi dan individual.

Selama lima tahun bertugas di St. Anna, pandangan umat terhadap beliau berbeda-beda. Ada yang menyebut Rm. Gani itu galak, ngomongnya tegas tanpa basa-basi, sehingga beberapa umat ada yang merasa sakit hati dengan beliau. Padahal jika umat mau mengenal Rm. Gani lebih dekat dan lebih dalam maka umat akan mengetahui bahwa sebenarnya beliau tidak galak, malah ramah dan suka melucu juga.

Di mata pada sadhanawan, Rm. Gani adalah romo yang sangat disiplin dan konsisten. Beliau tidak sekedar berkotbah saja tanpa melakukan, tapi setiap lakunya mencerminkan apa yang dikatakannya. Polos dan lugu karena selalu berpikir positif yang menyebabkan beliau gampang ditipu dan dipermainkan. Tapi dengan tenangnya Rm. Gani hanya berkata, “Saya memang bisa ditipu, tapi Tuhan tidak bisa ditipu.”

Beliau juga tidak suka apabila diberi hadiah yang mahal-mahal karena beliau menghindari segala hal yang sifatnya berlebihan. Pernah ada seorang ibu yang memberikan beberapa helai baju baru pada beliau, tapi karena beliau tidak merasa membutuhkannya, baju tersebut kemudian diberikan pada para frater. Sifat rendah hati dan sederhananya ini juga terlihat dari kesenangannya mengendarai motor dan sepeda daripada naik mobil, sesuatu hal yang jarang kita temui pada romo-romo lain di Jakarta.

Rm. Albertus Setiawan Gani SJ, kepergianmu terasa begitu cepat. Kami semua di sini akan sangat merindukanmu. Terima kasih atas teladan yang telah engkau berikan pada kami, “Ad Maiorem Dei Gloriam: Semua Hanya Untuk KemulianNya.”

“Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan.” (Roma 14:8)

Monday, November 10, 2003

ONE LOVE, ONE SPIRIT, ONE GOD

Toleransi antar umat beragama adalah kalimat yang selalu diulang-ulang di pelajaran PMP atau PPKN. Ngucapinnya sih gampang, tapi prakteknya susah. Padahal kalimat ini dari SD sampai SMU selalu diulangi lagi. Hasilnya, masih tetap saja ada konflik antar umat beragama. Lalu salahnya di siapa? Guru atau muridnya?

Menurut saya sih tergantung dari iman yang dimiliki. Setiap orang punya hak asasi bebas memilih agama. Tapi agama saja tidak cukup untuk membuat orang jadi mengerti apa arti toleransi sesungguhnya. Yang dibutuhkan adalah iman yang menjadi dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibrani 11:1).

Kenapa? Karena biasanya kita suka menganggap agama kita lebih hebat dari agama lain, agama yang membawa ke jalan keselamatan, jaminan untuk masuk surga, dll. Lalu kita mulai membeda-bedakan agama kita dengan agama lain. Kita jadi lebih bisa mengasihi dan toleran dengan orang-orang yang seagama dengan kita.

Agama boleh beda, tapi iman harus tetap satu. Kita kan diciptakan oleh Allah yang satu. Tidak ada Allah lain bagi kita. Iman membuat kita percaya akan Allah. Iman pulalah yang membuat kita bisa merasakan kasih Allah di dalam hidup kita. Oleh karena itu toleransi akan terwujud apabila ada kasih Allah di dalam hidup kita..

Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita. Jikalau seseorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya (1 Yohanes 4:19-20).

Saturday, October 11, 2003

HIS ORGANIZER

Setiap orang pasti tahu apa itu organizer atau agenda. Kalau masih sekolah atau kuliah, organizer biasanya berisi PR, tugas-tugas, maupun jadwal ulangan dan ujian. Buat yang udah kerja, organizer dipakai untuk mencatat jadwal meeting maupun tugas-tugas kantor yang harus dikerjakan.

Apapun fungsi organizer, yang paling utama adalah untuk mencatat rencana-rencana (rancangan) maupun tujuan yang hendak kita capai. Pastinya, rencana yang indah dan bagus-bagus. Nggak mungkin, lah, kita nyatet di organizer, “Ulangan Fisika besok kayaknya cumin bisa dapat nilai 4,” padahal nilai tertinggi adalah 10. Atau “Presentasi rencana gue untuk naikin gaji karyawan besok bakal gagal. Gak mungkin sukses.”

Tuhan pun juga punya rencana-rencana yang indah dan bagus-bagus untuk kita semua sebagai makhluk ciptaan-Nya. Setiap individu mempunyai rancangan yang telah dibuat Tuhan secara pribadi. Mungkin kalo boleh ngebayangin, Tuhan itu punya organizer yang gede banget kali, yah. Semua orang, tanpa terkecuali, masuk dalam organizernya Tuhan.

Saat ini apabila kamu lagi merasa down, sedih, putus asa karena kemalangan-kemalangan yang terus menimpa, kamu bukanlah satu-satunya orang yang pernah merasa seperti itu. Saya sudah mengalaminya sendiri dan setelah semua kemalangan itu saya semakin dapat menghargai apa artinya kebahagiaan karena telah berhasil melaluinya. Karena itu tetaplah bertahan, temanku. Percayalah pada janji Tuhan untuk memberikan hari depan yang penuh harapan.

Apabila kamu putus asa dan mulai berpikir untuk menjauhi Tuhan ingatlah kata-kata-Nya: “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11).

Thursday, July 10, 2003

COWOK + CEWEK = PACARAN ???

“Li, ntar pulang jadi nebeng gue, gak?” tanya Arnold.
“Jadi dong. Jam 2 ketemuan di hall C ya. Tapi ntar temenin gue bentar ke Gramedia ya, please… Mesti beli bahan-bahan buat mading nih,” kataku.

Kejadian pulang bareng ini emang sering banget terjadi semenjak aku dan Arnold sama-sama jadi pengurus mudika paroki. Awalnya kami cuma kenal biasa aja lewat kepanitian Muspar. Kemudian tugas dan posisi di mudika paroki membuat komunikasi di antara kami jadi cukup sering. Apalagi kami kuliah di kampus yang sama. Kadang-kadang program kerja mudika pun dirapatin di kampus.

Hubunganku dan Arnold bukan hanya sebagai wakil dan ketuanya, tapi udah kayak saudaraan. Deket banget deh. Untungnya aku sudah punya cowok, jadi nggak digosipin yang aneh-aneh kalau pergi berdua dia.

Tapi kita berdua juga kadang-kadang berantem. Lebih tepatnya aku duluan sih yang memulai. Yang jadi persoalan yah nggak jauh-jauh dari mudika juga. Biasanya berantemnya lewat e-mail. Pernah juga sih aku bete banget sama dia dan dia aku diemin. Waktu itu mudika paroki bikin Bazar Paskah. Situasi yang under pressure membuat aku jadi sedikit sensitif dan gampang marah. Arnold jadi bingung dan ngirim e-mail permintaan maaf karena mengira dia yang bikin aku marah dan bete. Baru pertama kalinya aku lihat Arnold kebingungan karena didiemin. Hehehe…. Lucu juga. Dia begitu karena sudah menganggap aku sebagai adiknya.

Seneng banget, deh, punya sahabat kayak Arnold. Baru pertama kalinya aku bisa punya temen cowok yang deket kayak saudaraan. Sebelum bersahabat dengan Arnold, orang-orang di lingkungan sekitarku selalu berpikiran bahwa nggak mungkin cowok dan cewek hanya sebagai sahabat. Kalaupun temenan deket ujung-ujungnya pasti jadi pacar. Persahabatanku dengan Arnold membuktikan bahwa pikiran mereka salah.

Cowok dan cewek bisa kok berhubungan dekat sebagai sahabat. Emang sih, batas antara sahabatan dan pacaran itu tipis. Tapi kita bisa, kok, narik garis pembatas antara pacar dan sahabat. Nggak mungkin lah misalnya kita gandengan tangan terus sama sahabat cowok, ntar ada yang salah ngertiin. Kalau aku sendiri ngebedainnya dengan nggak pergi berdua Arnold ke tempat-tempat yang sudah terkonotasi hanya untuk orang pacaran. Seperti bioskop, kafe yang romantis, atau pesta valentine sebagai contohnya.

Kalau kalian punya sahabat cowok, syukurilah dan jagalah persahabatan kalian. Pacaran itu bisa putus, tapi kalau persahabatan tidak akan bisa putus. Kalian bisa baca di Amsal 17:17, “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran”. So, friends forever, OK!

Saturday, May 03, 2003

I’ll be Faithfull to YOU

Dear Diary,

Hi, my friend! Hari ini Vita lagi sebeeeelll buanget deh! Bete! Kok ada sih temen yang kayak gitu… Gini nih ceritanya. Tadi pagi pas Vita lagi bantuin temen-temen mudika wilayah jualan di gereja, si Ani ngedeketin aku dan dia cerita kalo selama ini Yohan nyebar gosip ke temen mudika yang lain kalo aku ini suka manfaatin cowok. Gila banget khan, Di! Gimana aku nggak bete?!

Vita tahu deh, si Yohan ini kayaknya sakit hati karena Vita tolak cintanya. Tapi aku kan nolaknya juga baik-baik, nggak kasar. Selama dia pdkt aku juga bersikap biasa aja, nggak langsung ilfeel dan menghindari dia. Vita bersyukur banget si Ani mau cerita tentang hal ini ke aku dan nggak gampang percaya sama gosip yang beredar.

Trus, si Yohan ini enaknya diapain yach? Apa langsung aku datengin aja trus diajakin berantem sekalian. Gila yee… emangnya Vita preman. Eh, tapi keren juga kan kalo ada preman cewek. Udah deh… kok tambah ngawur.

Di, gosip ini bikin aku malu juga kalo ketemu sama temen mudika yang lain. Gimana kalo mereka percaya dengan gosip itu? Vita kan jadi punya cap jelek. Aku jadi males ah, kalo ada pertemuan mudika nggak mau dateng. Kalo ada rapat FPM juga nggak mau dateng. Apalagi diminta bantuin jualan di gereja. Nggak mau ah… malu!!!

Tapi malem ini sebelum aku curhat sama kamu, aku curhat dulu sama kakakku. Aku pikir kakakku akan mendukung aku, eh, dia malah bilang supaya aku jangan membalas kejahatan dengan kejahatan dan melakukan apa yang baik bagi semua orang. Apalagi kehadiranku dalam mudika juga menunjang kemajuan mudika. Trus kakakku langsung nyodorin alkitab untuk aku baca. “Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat. Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan. Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan.” (Roma 12:10-11, 21).

Wah, Di, ayat ini bener-bener nyentil aku nih. Berarti terhadap Yohan aku nggak boleh menjauhi dia atau malah balik ngegosipin. Aku harus terus menunjukkan kasihku pada dia. Trus aku juga nggak boleh males ikut mudika. Bagaimanapun itu adalah salah satu bentuk jawabanku untuk melayani Tuhan. Jadi orang Katolik itu nggak gampang, banyak hal-hal yang bisa bikin Vita jatuh dalam dosa, tapi Vita yakin Tuhan Yesus tidak akan meninggalkan Vita sendirian. DIA pasti akan turut bekerja dalam setiap masalah yang Vita hadapi.

Selamat malam Diary. Vita mau bobo dulu nih.
We’re running the race to win. All the way to the end. Laying down every sin that would seek to hinder us. And we’ll be faithfull to our calling . For You are able to keep us from falling. For in Your promise, we will trust. You’ll be faithfull to finish the work You began in us – taken from the song "We’ll be Faithfull".

Sunday, April 06, 2003

Aku Cinta Toleransi

Paska sudah di depan mata. Sebelumnya kita harus melewati masa prapaska yang adalah masa puasa bagi kita. Dengan puasa kita belajar untuk mengendalikan diri dalam kehidupan sehari-hari sebagai bentuk pertobatan. Bentuk konkret pertobatan diwujudkan dalam bentuk aksi atau gerakan. Karena itulah dikenal adanya Aksi Puasa Pembangunan (APP). Nggak ada gunanya kita berpuasa selama masa prapaska kalo nggak dibarengi suatu aksi nyata.

Keuskupan Agung Jakarta merumuskan tema prapaska tahun ini secara khusus pada “Menumbuhkembangkan Sikap dan Perilaku Toleran dalam Keluarga”. Toleransi berarti kita saling menerima dan membantu agar masing-masing orang memiliki dan mengembangkan identitas diri dan aktivitas hidup sesuai dengan perbedaan dan keunikannya. Kenapa di keluarga? Karena terkadang kita lebih bisa bersikap toleran terhadap lingkungan di luar keluarga kita.

Saya punya teman yang aktif sekali dalam kegiatan di mudika wilayah maupun paroki. Sebut saja namanya Donny. Dia telah menjadi ketua yang baik bagi teman-temannya dalam kegiatan di mudika. Dia tahu dan mau mendengarkan setiap masalah yang dicurhatkan teman-temannya, membantu agar orang-orang di sekelilingnya dapat mengembangkan kemampuan dan bakatnya. Walaupun jomblo, tapi dia termasuk high quality jomblo, deh. Di mata orang-orang kayaknya perfect banget.

Tapi, kalo kalian tidak mengenal dia secara dekat, kalian tidak akan pernah tahu bahwa kalo di rumah si Donny ini nggak care sama adiknya dan Ibu Bapaknya. Saking sibuknya di kampus dan gereja, rumah buat dia seperti jaadi tempat kost aja. Cuma untuk makan dan tidur, tokh. Ngobrol sama keluarga juga cuma seperlunya aja. Lebih seneng bantuin adiknya bikin PR. So ironic, huh!

Keluarga adalah unit terkecil dari komunitas basis, gereja rumah tangga yang secara nyata menghadirkan Allah di tengah kehidupan masyarakat. Dari unit terkecil ini diharapkan toleransi dapat merambah pada komunitas yang lebih luas. Walaupun misalnya kalian nggak nyambung banget kalo ngobrol sama ortu, yah setidaknya kalian meluangkan waktu untuk nanya kegiatan mereka hari ini apa aja. Teman-teman kita aja seneng kalo ditanyain kabarnya, apalagi orang tua kita. Mereka kan juga sayang sama anaknya.

Yesus sendiri selama 30 tahun hidup dalam keluarga sebelum memulai karya-karyanya. Jangan sampai kita ini malah kebalik. Asyik berkarya dan sibuk di luar rumah sampai-sampai lupa sama orang tua dan kaka atau adik kita. Kita jadi lebih bisa toleran sama orang lain di luar keluarga. Ikatan cinta kasih kita dalam keluarga menjadi kendor dan tidak mendalam lagi. Padahal toleransi dalam kehidupan keluarga mendasari toleransi dalam kehidupan masyarakat untuk mewujudkan persaudaraan sejati.

So, jangan lupa mungkin adik kita di rumah ada yang lagi kangen untuk ditemenin main basket atau pengen pergi belanja bareng sama kamu.